Indonesia, inspirasi, Suara rakyat, Surat terbuka

Pilunya Negeriku

Melihat kemirisan di Negeri ini, aku tak menyangka akan begini sekali.

Kepiluan meraja lela pada setiap penjuru yang tak terlihat oleh mata.

Seakan Ia tak wujud padahal Ia yang membuat Negeri ini menjadi takjub.

Dimana letak pertiwi yang kian mendekati pada naluri, sebenarnya?

Dimana Bina Tunggal Ika yang senantiasa terpasang dalam dada, sejujurnya?

Hati kian memberontak, dalam diam aku bertanya; “Ada apa dengan Negeriku ini?”

Advertisements
Catatanku, cerita harian, Cerita hati

Biarkan Aku ‘Begini’

Aku tidak mau menyusahkan sesiapa, hingga aku memilih pergi begitu saja.

Menerima semua dengan ikhlas, dengan penuh lepas.

Aku tahu tindakanku ini mungkin salah. Membiarkan mereka bertanya-tanya; “ada apa denganku ini?”.

Tapi, bagaimana aku mau menjelaskan jika hati sendiri saja sedang tidak baik-baik saja.

Itu hanya akan menambah luka yang sudah kering disimbah air panas kembali; melepuh hingga tak tahu kapan akan sembuh lagi.

Coretan Kosong, just

Gejolak Jiwa

Didalam jiwa yang berkecamuk, hatiku berteriak penuh kesal.

“It’s your time!”

Tapi pikiran begitu keras membantah.

“No, this is wrong.”

Perdebatan-perdebatan pun kian menjadi, hingga logika ikut serta dalam keadaan yang sudah tak terkontrol itu.

“What you want then?”

Hatiku diam seribu bahasa, seperti berfikir namun dia juga begitu susah untuk bersuara sebenarnya. Lagi-lagi pikiran kembali bersuara, dengan kata yang lembut dia mencoba menjernihkan suasana.

“We are together. You can say anything what you want to say.” Hatiku kembali bungkam, entah, mungkin sebab dia menyesal atau dia memang sedang dalam dilema yang begitu dalam. Hingga hanya suara sesenggukannya saja yang kadang tenggelam timbul dek mukanya yang ditutup oleh kedua tangannya.

Logika menepuk bahu pikiran, memberi isyarat yang masalah ini cukup sampai disini saja. Jangan dibahas lagi. Pikiran pun akur, lalu mendekati hatiku yang memang sedang dirundung pilu itu.

“I’m sorry! I’m promise that I’ll never talk about this anymore until you’re willing to talk.”

Hatiku memandang kearah pikiran, menyampaikan pesan terima kasih atas pengertiannya. Pikiran pun mengangguk sambil mengusap lembut rambut hatiku.

Nb: perbedaan itu memang selalu ada dimanapun dan kapanpun, tapi jangan jadikannya alasan untuk bertela’ah terus menerus. Harus ada yang mengerti atau setidaknya mengalah, agar hubungan kekal tiada bermasalah.

aboutlove, aboutrespect, Cerpen, just

Yang (Tak) Pernah Sederhana

Kini aku akan mulai menulis tentangmu; seseorang yang sudah sedia membuatku bisu.

Pagiku yang seperti biasa penuh dengan aktifitas, tidak pernah lekang aku dari semangat yang kian membekas. Kupandangi setiap pekerjaan yang seperti kapal pecah. Tergeleng-geleng aku melihatnya, sambil menggerutu tidak hela tuju.

“Kapan yah, ini kerjaan habis…” Bebelku sesama sendiri. Namun belum sempat aku mau memulai kerja, tiba-tiba hapeku berbunyi.

Pink…

Aku melihat hapeku setelah mendengar nada itu. Karena aku tahu pasti ada pesan WhatsApp yang masuk. Aku membuka pesan itu yang tertulis jelas disana nama Mas Irwan. Seseorang yang sudah aku kenal bertahun lamanya meski hanya dalam dunia maya.

“Hi, Lan!” Sapa Mas Irwan pagi itu.

“Hi juga Mas.” Jawabku singkat dan kembali mengantongi hapeku lalu melanjutkan kerja. Tapi tidak lama hapeku berbunyi lagi. Yang ternyata pesan balasan dari Mas Irwan. Aku berjeda seketika, setelah membaca pesan Mas Irwan kali ini. Meski pesan itu cukup biasa namun yeah cukup membuatku teruja sebenarnya.

“Ada yang mau kenalan nih Lan.” Aku berfikir sejenak setelah membaca pesan Mas Irwan itu. Seperti ada perasaan tersinggung tapi aku coba untuk mengambil sikap berdiplomasi.

“Siapa Mas?” Tanyaku singkat.

“Temanku. Teman main.” Balasnya, tidak lama.

“Mas kenal dia dengan baik?” Tanyaku lagi sekaligus mengintrogasi.

“Iyah. Malah membesar bareng.” Aku berjeda seketika untuk mencari jawaban yang tepat. Sebelum akhirnya aku memberikan kata putus.

“Owh, ya sudah. Boleh deh Mas.”

Yah, aku punya alasan kenapa aku segampang itu mau dikenalkan ke temannya Mas Irwan. Selain untuk menambah teman, alasan lain juga aku yakin yang Mas Irwan tidak mungkin mengenalkanku pada orang yang jahat. Apalagi mengingatkan yang semenjak aku mengenal Mas Irwan tidak pernah sekalipun menunjukan adanya sifat negative pada dirinya. Aku percaya kepadanya meski aku tidak pernah tahu hidup dikesehariannya.

Setelah selang beberapa jam aku mendapat pesan dari nomer baru, yang aku yakini itu dia temannya Mas Irwan tapi aku tetap bertanya untuk memastikan. Kalau salah kan nggak lucu nanti.

“Siapa?” Tanyaku singkat

“Saya Ari, temannya Irwan. Ini Wulan kan?”

“Owh, iyah, bener. Salam kenalah kalau begitu.”

“Iyah, salam kenal juga yah!”

Chattingan demi chattingan setia masuk dalam hapeku. Dari keluarga, group bisnis sampai dengan teman-teman yang lain juga dari Ari pastinya. Seseorang yang semenjak kini tidak pernah tidak mengirimiku pesan dengan candaan-candaan yang membuatku tidak cukup kering gigi.

Aku tahu perkenalan itu memang sangat singkat, tapi ternyata kesingkatan itu tidak menjadikan Ari kekok setiap berbicara denganku. Yang membuatkan aku kagum akan keberaniannya. Hingga tiba disuatu masa dia menceritakan kisah pilu dalam hidupnya yang buatku itu cukup rahasia dan orang luar sepertiku seharusnya jika tidak diberi tahu juga tidak apa. Aku terharu tapi dalam masa yang sama aku juga Kaget. Yeah, jujur aku katakan aku sangat kaget. Malah rasanya jantungku dalam seketika berdetak begitu sangat lemas saat mendengarnya. Hingga untuk bernafas aku harus mengambil oksigen yang begitu dalam.

“Mungkin setelah ini kamu akan membenciku. Aku terima. Dan aku mengerti.” Aku mendengar ada nada kecewa disitu. Yang membuatkan otaku berfikir ligat.

Aku diam mencoba mencerna semuanya. Berfikir positive tanpa mau menghakimi. Sebab aku percaya setiap orang itu boleh berubah dan boleh mendapat kesempatan untuk bahagia.

“Tidak, tenang saja. Bagaimanapun masa lalumu, aku akan tetap disini.” Aku dengar dia menghela nafas kelegaan. Seperti baru keluar dari di tindih batu yang sangat besar. Aku dapat rasakan sebuah senyuman sedang terukir pada bibirnya ketiku itu.

“Tapi kamu nggak usah simpati sama aku, karena aku memang nggak berhak ko berteman dengan siapa saja.” Lagi-lagi Ari bersuara, yang membuatkan aku hanya tersenyum. Yeah, aku tidak menyalahkan jika dia meragukan yang aku benar-benar ikhlas menerima kehadiran seorang teman sepertinya dalam hidupku, sebab aku tahu dia pasti hilang percaya diri. Namun, aku juga menyayangkan yang kenapa dia harus selalu mengingat masa lalu kalau benar dia mau berubah, bukankah itu hanya akan menyiksa dirinya dan hatinya saja. Aku bermonolog sesama sendiri.

“Tidak, beneran. Aku ikhlas. Setiap orang pasti punya masa lalu; entah itu baik atau buruk sekalipun. Yang penting kalau kamu benar sudah berubah ya tunjukan saja. Tidak usah banyak bicara. Tunjukan pada mereka bahwa kamu pasti bisa menjadi orang yang lebih baik.” Tuturku panjang lebar, berharap yang dia mengerti akan maksud kata-kataku.

“Iyah, pasti Lan.”

***

Paginya, setelah kejadian malam itu. Aku sibuk dengan pekerjaanku, hingga aku tidak bisa selalu memegang handphone. Setelah hari hampir menunjukan waktu siang, aku mencoba membuka hapeku yang aku biarkan tergelak sedari pagi. Aku lihat ada 5 pesan disana, dan salah satunya adalah dari Ari. Aku hampir lupa akan kejadian semalam, dimana dia takut aku akan pergi setelah mengetahui semuanya. Tanpa menunggu lama aku pun membalas pesannya, agar dia tidak berfikiran yang macem-macem akan kediamanku. Dan Alkhamdulilah dia membalas chattku lagi. Aku lihat dia mengeluh.

“Aku khawatir dari tadi. Aku kira kamu bakal ninggalin aku.” Aku tersenyum membaca pesannya. Rasa simpatiku semakin besar kepadanya, bagai ada tarikan yang aku harus masuk kedunianya. ‘Tapi untuk apa dan kenapa?’ Hatiku menyoal sendiri dalam diam.

“Tidak. Aku sudah bilang itu padamu semalam bukan.” Balasku, mencoba meyakinkannya lagi.

“Iyah, tapi aku tetap takut. Seandainya aku dulu tidak melakukan ‘kesalahan’ itu kan ya?” Aku menghela nafas, memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa membuatnya percaya kepadaku. Yang aku ini benar-benar ikhlas berteman dengannya.

“Aku tidak mau berbicara tentang hal-hal yang sudah berlalu. Dan aku juga tidak mau berbicara tentang ‘what if’.” Ucapku tegas. Tanpa mau membuat suasana menjadi canggung.

“Anggap saja obrolan semalam tidak pernah ada. Yang ada sekarang ya sekarang. Jadi berhentilah berfikiran yang Tidak-tidak.” Putusku, akhirnya. Karena tidak mau masa lalunya selalu menjadi ‘topik’ perbualan. Hidup harus selalu berjalan dan seharusnya Ari bisa juga seperti itu. Bukan menyesali apalagi memarahi kebodohan diri. Apa gunanya masa lalu dan kekhilafan kalau kita tidak mau belajar dari itu semua?

“He iya deh, iyah.” Aku tersenyum lega, meski masih terbesit dalam hati yang dia pasti masih punya perasaan was-was. Tapi aku juga tidak akan memaksanya untuk percaya sekarang, biarkan saja waktu yang akan menjawab.

Jam berganti hari, hari berganti bulan. Kini masih sama saja. Ari dengan kehadirannya yang senantiasa membuatku tersenyum dengan tingkah dan setiap kata-katanya. Rasanya mendengar setiap impiannya aku pun juga ikut rasa bahagia, karena setidaknya dia masih mau berjuang. Dan itu adalah suatu pembelajaran diri buatku untuk mau selalu belajar dan bersyukur.

Ari menyukaiku itu memang bukan sesuatu yang mengejutkan buatku, karena diawal perkenalan pun dia memang sudah mengatakannya. Meski sangsi aku hanya mendiamkan saja setiap dia berbicara mengenai hal itu. Yeah, memang mudah untukku dekat dan akrab dengan siapa saja. Tapi tidak untuk perihal mencintai. Sesuatu yang sangat penting lagi bukan main-main.

Apalagi dengan kisah percintaanku dulu yang memang tidak pernah berakhir dengan bahagia. Aku hanya tidak mau terluka lagi, sebab hati ini (mungkin) tidak sanggup lagi untuk merasakannya kembali. Biarpun harus kuakui hatiku telah sedikit terbuka untuknya. Tapi hatiku begitu ego untuk mengiyakan. Bukan sebab masa lalunya, bukan. Karena itu tidak masalah untukku sendiri. ‘Setiap orang berhak untuk bahagia’ dan berani aku katakan itu benar. kepercayaan lagi prinsip yang selalu aku pegang sampai ke hari ini.

Meski kadang timbul pikiran ‘bagaimana jika benar aku nanti bersamanya dan keluarga tidak ‘welcome’ dengan kehadirannya?” Namun aku tidak mau berfikir terlalu banyak. Bahkan untuk menidakan perasaan itu saja aku tidak bisa. Sebab semakin aku menghindari rasa itu semakin hadir saja mengganggu lenaku. Akhirnya aku memilih menikmati rasa itu dan memberinya waktu, sampai dia benar-benar membuatku yakin meski aku tak tahu bisa atau tidakkah dia dalam melakukannya.

Namun yang pasti..,

Aku ingin selalu seperti ini bersamanya. Ingin selalu melihat perubahannya. Meski kutak tahu bagaimanapun nanti akhirannya.

catatan harian, Catatanku

Love Me, Yes! Hate Me, Not!

Dari berjuta ribuan manusia di dunia, aku adalah salah satu diantara mereka yang kini merasakan suka.

Yeah, setidaknya aku bisa kembali menghirup bebas setelah selama ‘1 dekade’ menerima julukan penyuka sesama. Hal yang kurasa begitu tidak masuk diakal hanya sebab aku berstatus ‘single terhormat’.

Kini harus ku akui, aku bisa bernafas dengan lega melihat mata-mata mereka yang dahulunya seperti sebiji jengkol menjadi ciut bak kerupuk yang melempam.

“Haha boleh dong ya aku sekarang tertawa?” Hatiku bersorak dalam kemenangan. Merayakan bahagia yang dulu jarang (bisa) kurasakan.

catatan harian, Catatanku, Hari Baru

Kisah Yang Pilu2

Seperti novel yang sering aku baca. Disana selalu ada kisah seorang wanita yang (terlalu) ego dalam menunjukan rasa.

Kini, aku merasa seperti golongan itu juga pada akhirnya. Diam dalam mencinta, menyiksa diri hanya untuk menepiskan cinta itu semata.

Baru kusadari, betapa sakitnya hati ketika melihat orang yang dicintai merasa terluka.

Tapi, apa pilihan yang ada. Jika bersamanya pun belum tentu aku (bisa) bahagia.