Hari Baru

Bahagia, Aku Pernah..

Kudihadapkan pada ingatan masa lalu yang jujur kukatakan belum mampu bisa kulupai semenjaknya. Aku bertemu dengan keluarga dia. Exku yang bisa dibilang mantan terindah. (Nggak usah ngembang itu hidung kalau kamu baca ini tulisan ya, Ex 😂)

Pagi itu, Abang sepupu si Ex ramah menyapaku, dan akupun tersenyum bagi menutup kegusaran yang ada dihati lagi balesan bagi sapaannya itu. Walhal kalau ikutkan kata hati iya mau saja tanya ini, itu. Tapi bingung. Mau panggil, Kang (salah satu panggilan untuk Abang sepupu seperti dulu waktu masih sama si Ex) apa Mas. Panggilan normal yang biasa aku gunakan pada lelaki yang lebih tua.

Akhirnya setelah lama berfikir aku pun memutuskan untuk diam saja. Mungkin dia akan berfikir aku sudah berubah, sebab dulu aku memang orang yang banyak omong. Tapi dari pada nanti salah bicara, kan jadi haru.

Kejadian ini mengingatkan aku pada kejadian 1tahun yang lalu, dimana aku main kerumah si Ex dengan tujuan silahturahmi. Yang kebetulan Mamahnya si Ex yang ada dirumah lalu menemaniku mengobrol. Kringet dingin, badan kaku. Hmmm komplitlah pokoknya. Padahal bukan baru pertama aku bertamu dengan beliau. Malah sering. Meskipun ith dulu. Apalagi mengingatkan yang rumah kita nggak sejauh mana. Hanya berjarak beberapa meter saja. Tapi ya entahlah, rasanya kalau main kerumah Ex semua jadi berubah. Yang tadinya percaya diri jadi ciut. Yang tadinya banyak omong cuma senyum-senyum saja setiap ditanya. Seperti iklan pepsodent haha garing abis.

“Kamu apa kabar?” Tanya Mamah si Ex waktu itu.

“Alkhamdulilah baik, Mak.” Aku memanggil beliau Mak. Panggilan yang si Ex pake buat Mamahnya, yang kemudian aku pun ketularan sampai sekarang.

“Mak juga apa kabar?” Tanyaku balik dan lirih saja kedengarannya ketika aku mengucapkan panggilan “Mak”. Agaknya ponakan-ponakan disebelahkupun rasanya tidak dapat mendengar dengan kalimat “Mak” yang aku ucapkan tadi. Hmmm susah bener ya. Keluhku.

Selang beberapa menit si Ex pun datang dan kemudian menyalamiku. Bukan tidak mungkin dia bisa merasakan tanganku yang sudah dingin dan gemeteran dari tadi. Kalau dia belum berpunya, agaknya aku akan memeluknya saat itu juga. Tidak peduli dengan siapapun yang ada disitu. Tapi akal warasku ternyata masih berfungsi. Yang kemudian membuatku hanya tersenyum kearahnya. Bagi membalas tatapan yang aku sendiri tidak mengerti. Tatapan yang… Ah, lupakan sajalah. Sudah bukan waktunya lagi aku untuk memikirkan apa-apa tentang dia. Fuhhh…

“Istrinya mana, Mas?” Tanyaku. Sebiasa mungkin.

“Lagi nidurin sikecil. Mau dipanggilin?” Tanyanya balik. Dengan muka yang bersahaja.

“Eh nggak usahlah Mas. Biarin aja. Kasihan juga.” Ucapku lagi.

“Yaudah kalau gitu.” Ucapnya sambil tersenyum kearahku lagi.

“Kapan nikahnya?” Tanya Mamahnya si Ex setelah selang beberapa menit, kami semua berdiam. Aku memandang kearah Ex, yang aku lihat dia juga sudah memandang kearahku.

Aku tersenyum. Sebelum akhirnya aku menjawab pertanyaan beliau. Entah itu senyum ikhlas atau tidak, aku juga tidak mengerti.

“Belum tahu lagi Mak. Mohon doanya sajalah y!” Ucapku tulus. Dia diam. Dengan pandangan lurus kehadapan setelah mendengar jawabanku. Entah apa-apalah yang dia pandang pun aku nggak tahu.

“Owh, kirain udah mau nikah.” Jawab Mamah si Ex lagi.

“He he belum, Mak” Aku coba tersenyum lagi meski hati sudah berteriak meminta pulang saat itu juga.

“Iyalah. Mak doain. Semoga kamu cepat dapet jodoh.”

“Amiiin… Makasih, Mak.” ucapku lirih. Ah, kenapa harus disaat-saat ini rasa bersalahku datang. Bukan waktunya untuk baper. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini. Hatiku mengiyakan.

Setengah jam kemudian..,

“Te, ayo pulang.” Ucap ponakanku setelah aku menemui istri si Ex dan melihat anaknya yang sedang tertidur pulas. Cuma sayang, aku nggak bisa melihat muka si kecil dengan jelas. Memandangkan posisi tidur sikecil yang miring. Padahal ingin sekali aku melihatnya. Ingin tahu mirip siapa si kecil ini agaknya. Kalau iya mirip papahnya, sudah pasti dia mempunyai hidung kecil yang mancung lagi bibir yang sexi. Kalau mirip Ibunya pula. Dia akan memiliki mata yang sedikit besar lagi hmmm pandainya aku menggambarkan.

“Iyah, bentar lagi yah.” Ucapku pada ponakan yang aku lihat sudah kebosanan. Ikutkan hati aku memang sudah berteriak senang mendengar ucapannya tadi, karena akhirnya ada alasan untuk cepat pulang. Tapi aku juga harus bisa mengontrol diri sebisa mungkin.

“Yaudah, saya pulang dulu ya, Mak. Insya Allah kalau ada umur panjang nanti saya main lagi.” Ucapku. Meski dalam hati sudah ingin menampar mulut diri sendiri. Karena terlalu PD dalam berkata-kata. Entah-entah kunjungan hari ini juga mereka nggak ikhlas menerima hmmm

“Iya lah, jangan sungkan. Kita sudah seperti keluarga” Kata Mak dengan penuh kelembutan. Terharu aku dibuatnya. Rasanya ingin memeluk beliau. Tapi aku juga harus menjaga istri si Ex yang sedang memperhatikan kami sedari tadi. Akhirnya aku hanya menyalami beliau dan berjalan kearah istri si Ex dan memeluknya. “Titip dia ya, Mba!” kata itulah yang sebenarnya ingin aku katakan padanya, tapi hanya tersangkut dikerongkongan saja. Karena aku tahu, itu salah. Akhirnya aku hanya memilih diam dan kemudian aku pun pulang. Pulang membawa rasa yang susah untuk dijelaskan.

“Andai dulu aku tak mengikutkan kata hati. Mungkin aku masih bersamanya kini. Mengikat janji suci yang dulu pernah kita ingini. Bersamaku, iyah. Dia pernah bermimpi untuk bersama. Sebelum pada akhirnya aku mengecewakannya. Maafkan aku duhai, kasih. Sudah menghancurkan mimpi yang pernah ada. Aku tak menyalahkanmu sebab tak setia. Karena aku pun jahat telah membuatmu kecewa. Titip cintaku yang pasti akan senantiasa bersamamu, meski aku tahu diantara kita takan pernah lagi ada kata I love you.”

Advertisements
Diary Harianku

Aku dan diam

Beberapa orang memilih bercerita kepada teman atau saudara saat sedang mendapat ujian dariNYA. Namun bagi diriku. Aku lebih memilih diam atau menuliskannya.

Menceritakan pada diri sendiri atau bahkan hanya untuk sekedar menenangkan si hati. Iyah, itulah yang hanya mampu aku lakukan setiap waktu.

Tak berniat untuk menghakimi ataupun membenci dengan semua yang telah terjadi. “Baiknya aku Intropeksi” itulah yang selalu hatiku katakan ketika aku dipertemukan dengan ujianNYA.

Sebab, aku tahu. Mengeluh bukanlah jalan keluar. Menggerutu pun itu apalagi.

:Lebih baik menikmati dari menambah luka lain.

buku rahasia, Cerita hati, Diary Harianku

Terima kasih untukmu yang pernah ada

“Bagiku kau bukan hanya sebuah kisah lama

Tapi untaian kata yang memang layak untukku ceritakan pada semua”

Aku tak menyangka semua akan sama

Kau pergi dengan begitu saja tanpa apa-apa kata

Sama seperti mereka yang sebelum-sebelumnya

Dulunya aku berharap kaulah satu-satunya

Yang akan kupilih dari selainya

Tapi ternyata aku salah menilai semua

Kini tujuan kita sudah tak lagi sama

Jalan kita pun sudah berbeda

Hanya lewat doa saling menyapa

Yang tak akan tahu oleh sesiapa

Bukan pada deringan yang berbicara

Atau “hai” yang melontarkan sebuah rasa

Sudah bukan juga tentang kita ataupun cinta

Hanya aku dan kau saja

Yang mungkin tak akan pernah lagi ada

Sebuah kisah untuk kuceritakan pada sang senja

Terima kasih untukmu yang pernah ada

Dihari-hariku walau hanya sementara

Pintaku, maaf untuk semua

just, sharing, tentangcinta

7 tanda (kalau) kamu sedang jatuh cinta

Yakin, nggak mau cari tahu kenapa hati kamu suka berdebar nggak jelas dan suka salting saat bareng si dia. Itu kabar gembira lho sebenarnya. Nggak percaya, yuk check coretan dibawah ini dan temukan jawabannya 😍

1. Merasakan kegembiraan dan kebahagiaan, seolah melayang, seakan menyatu dengan si dia dan meningkatnya energi yang dimiliki untuk melakukan apapun demi si dia

2. Terus-menerus memikirkan si dia.

3. Menganggap si dia yang paling spesial dan tidak mampu memikirkan romantisme lain.

4. Cenderung fokus pada hal-hal positive yang ada pada si dia dan mengabaikan sifat-sifat negativenya.

5. Panik dan takut bertemu dengan si dia.

6. Menampilkan respon malu-malu, gugup, jantung berdebar-debar, menjadi kaku, bergetar, muka pucat, dan gagap bicara ketika berhadapan dengan si dia.

7. Menata kembali prioritas harian sebagai dorongan untuk menimbulkan kesan mendalam ketika bertemu si dia, termasuk mengubah mode pakaian, tingkah laku, kebiasaan, dan nilai-nilai yang dianut.

Nah, itu dia 7 tanda kalau kamu sedang jatuh cinta. Jadi kalau kamu merasakan tanda-tanda diatas, selamat yah! Hatimu sedang sempurna. Nggak usah dibuang perasaan yang itu, cukup di nikmati. Kalau pun mungkin si dia sudah berpunya, tidak apa-apa, kan masih bisa berteman juga. Toh mencintai bukan hanya tentang memiliki ko, tapi juga bagaimana membuatnya bahagia saat bersama kita.

“Jangan takut untuk mengakui kehadiran cinta, sebab sejatinya jatuh cinta itu indah.”

buku rahasia, Cerita hati, Diary Harianku

Untuk (siapapun) kamu yang pernah singgah

Sudah kukatakan, aku paling tidak bisa melihat perpisahan. Apalagi jika harus diri sendiri yang merasakan. Rasanya itu nyesek. Seperti kamu sedang menahan nafas pada ruang yang gelap lagi tertutup. Tiada cahaya tiada apapun disana.

Mungkin kau tak pernah tahu bagaimana rasanya itu, atau kau sedang berpura demi menutup semuanya dengan semu.

Kau begitu kejam buatku jika memang itulah yang yang sedang kau lakukan, sebab kau adalah orang yang sudah kupercaya menjaga sekeping hati ini. Sekeping hati yang tidak mudah untuk diberikan pada siapapun.

“Aku harus pergi!” Itulah katamu di kala itu. Tanpa menatap mataku ataupun membelai rambutku meski hanya sesaat untuk menenangkanku seperti selalu. Yah, kau memang sudah berubah. Entah sebab aku yang tak pernah mengerti isi hatimu, atau memang kau sudah menemukan orang selain aku.

Aku mencoba tersenyum meski hatiku menangis. Mengiyakan apapun keputusanmu. Membiarkan hatiku menjerit-jerit sendiri didalam sana. Sakit, pedih. Rasanya seperti ada yang menusuk-nusuk tanpa belas. Bibir ingin berkata “jangan pergi” pun rasanya seperti ada gam yang memenuhi mulutku. Sudahnya aku hanya mampu diam melihat kepergianmu yang tanpa apa-apa lagi kata.

Dalam tanyaku; sesusah inikah mempertahankan dan mengartikan sebuah cinta?

aboutlove, Cerita hati, coretanwanita

Setelah Cinta Itu Pergi

Setelah cinta itu pergi, hatiku ini menjadi kosong. Kerana kisah lalu cukup membuat hatiku terluka. Setelah cinta itu pergi dari hidupku, hanya kepada-Nya, kuserahkan segala rasa kasih dan sayang ini. Sesungguhnya, berkasih sayang dengan-Nya tiada yang menyakitkan, malah hatiku ini terasa begitu tenang.

Di sebalik samar malam ini, aku bagaikan terjerit. Terjerit dengan kisah yang pernah menghimpit hatiku ini. Saat diriku disia-siakan, saat aku ditinggalkan, saat aku dikecewakan, ia begitu sayu untuk kukenang kembali. Tetapi adakah benar, hatiku tidak pernah merinduinya?

Berkali hatiku kata, lupakan kisah lalu. Terus berjalan ke hadapan dan jangan menoleh ke belakang. Kerana kebahagiaan itu pasti akan ditemui di hadapan nanti. Di hadapan pasti akan ada sinar kebahagiaan yang menanti.

Aku coba bujuk hati yang lara ini. Aku coba kuatkan hatiku ini, tetapi aku hanya manusia biasa. Tidak lari dari rasa terluka… kecewa dan hampa. Ingin aku gambarkan semua itu, tetapi biarlah ia kusimpan jauh di sudut hati.