Uncategorized

Sesingkat cerita ini

“Hari jum’at saya sampai ke bandara.”
Terasa begitu tidak kena semua yang dilakukan setiap Anis mengingat sms dari Irwan itu.
Lelaki yang dia sendiripun tidak tau, apakah jodohnya? ataukah hanya akan menambah memory dalam setiap kisah. Dia buntu memikirkanya. “Ah sudahlah, lebih baik aku siapkan saja semuanya” Gumamnya sendiri.

Kini haripun telah hampir sampai kepada tanggalnya, tapi Irwan belum menghubunginya lagi. Sudah berulang kali Anis mencoba menghubungi, tapi ada saja alasan yang Irwan berikan padanya.
Anis mulai keliru antara resah dan juga bingung, Karena jika Irwam tidak jadi datang, itu tandanya dia harus mencari ide untuk membuktikan kepada bossnya yang dia memang tidak mengarang cerita tentang Irwan, lelaki yang sudah sering ia ceritakan, dan tentang perminta’an cuti 3 harinya kemarin dengan alasan Irwan akan datang ke Singapore untuk menjenguknya.
***

Dreet , dreet..,

Anis segera melihat skrin yang mulai menyala tanda meminta di angkat.
Namun dia hanya membiarkan saja, karena melihat namanya saja hanya menambahkan pening dikepalanya. Masih terngiang-ngiang diingatan saat kemarin Irwan membatalkan akan planningnya untuk menemui Anis, rasanya pengin mencabik-cabik saja muka Irwan. Tidak tau kah dia jika aku sudah menyiapkan semuanya hmmm… Sabarlah duhai hati. Lagi-lagi Anis mencoba menenangkan hatinya sendiri.

Setelah puas semalam Anis berfikir tanpa bisa tidur, paginya dia mulai untuk mencari ide, mencoba menanyakan kepada semua teman-teman sekerjanya untuk diminta bantuan.
2 jam, 3 jam sampai matahari sudah pun mulai terbenam, tapi kabar baik itu belum ada juga.
Anis mulai putus asa, karena kesempatan kayanya tidak berpihak kepadanya.
Meski sudah seharian juga dia berkeliling untuk menyegarkan pikiran yang berserabut, tapi semua sama saja.
Hmmm..,(keluhnya dalam Hati)
***

Jam 20:05.
Jika ada pilihan, mau saja Anis tidak pulang kerumah. Karena pasti boss akan menanyakan banyak hal tentang Irwan.
Tapi dia gagahkan juga pulang kerumah bersama jantung yang bernyanyi sedari tadi.
“Halooo” Ucapnya sehabis membuka pintu rumah.
“yeay… Kakak come back.” Sahut tiba-tiba anak kecil yang lagi menonton tivi. Melihat tidak ada kelibat bossnya, Anis buru-buru mau masuk ke kamar, tapi sempet juga dia memeluk anak kecil yang menyapanya tadi.

Bukkk..,
“Auch..,” Teriak satu suara. Yang Anis yakini, itu suara bossnya. Mampus gue (ucap Anis sendiri)
“Aduh, ma’af boss. Saya tidak sengaja.” Ucap Anis dengan muka bersalah.
“Kamu tuh kenapa si? Kalang kabut sekali, kaya tidak biasanya.” Jawab bossnya tanpa menghiraukan perminta’an ma’af Anis.
“Tidak apa-apa ko boss.” Ucapnya singkat sambil menundukan kepala, tanpa mampu memandang kemuka bossnya.
“Hmmm gimana dia?”
Deg.., terasa berhenti seketika jantungnya sa’at itu. Bagai mau lari, tapi dia tidak mungkin melakukan disa’at berbicara dengan orang yang sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri. Lama dia berfikir untuk menjawab pertanya’an bossnya itu, hingga terpancul juga..,
“dia baik boss. Tapi besok saya akan coba untuk mengenalinya lebih jauh lagi”
“Bagus lah. Tapi inget, hati-hati itu perlu.” Nasihat bossnya sebelum pergi memberikan dia ruang untuk kekamar.
Alkhamdulilah.., ucap Anis dalam hati.
***

Detik-detik yang Anis tunggu kini terasa lama sekali. Sejam buat dia bagai menunggu seabad. Iyah, itulah kalau kata orang lebay bilang. Setelah semalam dapat no “seseorang” dari temenya yang akan dijadikan “Irwan bohongan”.
Hari ini dia akan menemui “seseorang” itu.
Yang sudah Anis ketahui, ia bernama Didi untuk memulai rancangan yang sudah Anis pikirkan dari semalam lagi.

Pink.pink..,
“Hallo asallamualaikum…” Ucapku
“Walaikum Sallam”jawab suara disana pula
“Mas sekarang dimana? Saya sudah ditempat tujuan.” Aku membahasakan dia Mas, agar terlihat lebih mesra dan tidak terlalu kekok. Lagipun dia lebih tua darinya, jadi Anis tidak segan-segan untuk memanggil Didi dengan panggilan Mas.
“Iyah bentar lagi saya sampai ko. Kamu Tunggu disitu aja yah!”
“Ok” Ucapku singkat, sekaligus mengakhiri pembicaraan.

Tidak lama setelah itu, akhirnya Didi yang ditunggupun datang juga. Tidak terlintas macem-macem dalam pikiran Anis saat bertemu denganya, penampilan Didi yang simple tapi cukup membuat hati wanita Anis terusik, apalagi baju hitam yang Didi pakai, seperti tau yang Anis memang suka dengan warna itu.
Didi melambai kearah Anis, mengisyaratkan akan keberadaanya. Anis hanya tersenyum, sebagai tanda yang ia melihat Didi. Mereka pun bersalaman dan saling memperkenalkan nama masing-masing sebelum membicarakan akan tujuan Anis, mengapa dia meminta bantuan Didi.
***

Takdir Tuhan memang tiada yang tau, manalah ada jiwa yang berpadu.
Sa’at kegelisahan datang, kebahagi’an juga ternyata ikut serta.

Seharian jalan-jalan dengan Didi, ternyata membuat hati kosong Anis terisi.
Seperti ada getaran tapi dia juga bingung itu apa. Anis keliru dengan semuanya, apalagi dengan kata-kata Didi yang dia cintakan Anis pada pandangan pertama.
Agrhhh.., cepat sekali Didi mengucapkan kata itu, apa dia pikir cinta semurah itu!
gerutu Anis dalam hati. Tapi dia hanya mencoba bersikap biasa, tanpa ingin menyinggung perasa’an Didi. Lagipun semenjak jalan tadi, Didi itu seperti mengambil berat tentang Anis, juga tidak pernah mengambil kesempatan. Yang sedikit banyak telah membuat hati wanitanya tersentuh dengan sikap Didi itu. Anis merasa terlindungi, nyaman dan tenang setiap dekat dengan Didi.
“Hmmm.., apakah benar, aku sudah mulai menyukainya?” Tanya Anis sendiri dalam kebingungan, tapi bisikan lain membuatnya cepat-cepat menepis semuanya dari terus berfikir yang tidak-tidak. “Ah, itu terlalu cepat untukku. Mungkin saja karena sudah lama aku tidak jalan bareng dengan lelaki, mangkanya aku merasa seperti itu. Nanti juga hilang ko, kalau misiku ini sudah selesai.” Hatinya mencoba meyakinkan, meski begitu, rasanya susah saja menepis bahagia itu, bagai tidak mau dia beranjak dari terus bersama Didi.
Hmmm entah lah..,
***

Hari ini, adalah hari terakhir misi Anis bersama Didi. Tapi dia merasa antara semangat dan juga tidak. Semangat karena masalahnya hampir terselesaikan dan tidak semangat karena Didi memberi kabar buruk. Padahal baru pagi tadi mereka merencanakan mau kemana untuk lanjutan misinya, tapi hanya sekelip mata semuanya berubah.
Karena tidak lama setelah televonan tadi Didi memberi kabar yang dia ada Kerja. Jadi mungkin ketemunya agak siangan atau mungkin malah tidak akan datang sama sekali. Anis kecewa, tapi iya mau gimana lagi. Didi kan cuma mau membantu, lagipun dia juga punya tugas yang lebih penting ketimbang menemuiku.
Anis mulai sangsi dengan semuanya, kenapa dia harus merasa kecewa? akhirnya setelah lama melayan perasaan, Anis memilih untuk berjalan-jalan sendiri dan menikmati free internet di kfc, sambil menunggu kabar dari Didi.
Sebenarnya biyarpun Didi tidak datang juga tidak apa-apa si, karena tadi pagi akupun sudah mendapatkan bukti yang baru. Iya meski tidak seakurat kalau ada Didi. Hmmm kenapa selalu Didi mulu si yang aku sebut-sebut, kaya tidak ada yang lain aja. (Gerutu Anis sendiri)
***

Pink.pink..,
“kamu Dimana?”
“di kfc” Anis Kira Didi akan membalas pesanya lagi bertanya akan lokasinya, tapi ternyata dia salah. Smsnya tadi dibiarkan kosong.
Tanpa mau bergalau lagi, Anis memilih untuk lanjut melihat acara KP (katakan putus). Acara yang selalu dia tonton, jika ada waktu senggang.
Tapi tidak lama setelah itu hape Anis berdering kembali.
“Hallo assalamualaikum”
“Walaikum Sallam. Kamu di kfc mana?”
“kfc Jurong Point lantai 2”
“Owh, Kira’in kfc City Hall. Yasudah sekarang keluar!”
“keluar kemana? Emang mas dimana?” jawab Anis lagi dengan pertanya’an
yang bertalu-talu.
“Kita ketemuan ditempat kemarin.”
Belum sempet Anis menjawab dan bertanya lebih lanjut, Didi sudah mematikan televonya, tanpa menjawab pertanyaan Anis tadi. Karena tidak mau kehilangan kesempatan yang ada, Anispun buru-buru pergi dari Kfc menuju ke tempat yang Didi arahkan tadi.
Sesampainya ditempat tujuan, ternyata Anis duluan yang sampai.
Sempet juga tadi dia kelimpungan mencari jalan, karena biyarpun dia sudah sering keluar pergi sendiri. Tapi dia tidak terlalu paham akan setiap nama jalan, palingan kalau tidak tanya ke orang, dia akan mencari Map untuk mencari tempat tujuan.
***

Siang, sore hingga malam hampir tiba, rasanya waktu itu cepat sekali bergulir bagi Anis. Hingga tidak sadar bahwa waktu sudah pun habis untuk bersama dengan Didi. Ruang yang berudara dingin menjadi tidak terasa, ketika Didi mendekati Anis yang sudah hampir. Jantung Anis juga berdetak lebih kencang dari biasanya.
“Aduh gimana nih, pasti Didi mau menanyakan soalan yang kemarin. Aku mesti jawab apa?”(hatinya menyoal sendiri) lama mereka berkeadaan begitu, diam tanpa suara. Yang akhirnya membuat Didi bersuara lebih dulu, meminta jawaban akan kepastian tentang perasa’anya kemarin. Entahlah, sebenarnya Anis juga tidak yakin dengan semua yang terjadi diluar duga’anya itu, karena buatnya itu terlalu cepat. Tapi mungkin itu juga jalan Tuhan, yang sudah seharusnya terjadi. Dan dia sebagai hambanya, hanya mampu menjalani apa yang sudah menjadi qada dan qadar-NYA
“Gimana Nis?” soal Didi.
“Gimana apanya Mas? ” Anis bertanya dalam kebingungan, antara yakin dan tidak yakin dengan jawabanya itu. Kalau ada kolong pun mungkin dia lebih masuk kesitu agaknya.
“Saya tidak harus mengulanginya lagi kan.” Tegas Didi bersuara.
“E,e,emang mas serius?” tanya Anis ragu-ragu.
“Ya iya lah serius, apa kamu merasa saya ini main-main.” Keras suara Didi, yang membuatkan lidah Anis kelu untuk berbicara.
“Yaudah, kita jalani aja dulu.”
Entah itu emang dari hati atau bukan. Yang jelas hatinya emang terasa lega setelah mengeluarkan kata-kata itu. Biyarpun jauh dilubuk hatinya, Anis masih tidak yakin, tapi dia gagahkan juga niatnya itu untuk membuka hati untuk orang lain, setelah lama dia menutup diri. Lagipun tidak ada salahnya memulai cinta dengan seseorang yang meskipun baru di kenal, karena Allah lebih tau apa yang tersirat dalam hati dan fikiran orang lain. Dan aku percaya, Tuhan tidak mungkin memberikan kaumnya pertemuan, jika tidak ada hikmath didalamnya. And me, agree of it ☺

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s