Uncategorized

Aku dan sebuah cerpen

Pagi bertaburan senja menemani setiap langkah.
Bersama rasa Ku mainkan jari
untuk menulis sebuah cerita,
dengan seizinya terciplah cerpenku ini 🙂

Pagi di kota jakarta yang terkenalkan padat aktifitas orang-orang, aku masih duduk di birai katil tempat tidurku yang empuk.
Seakan tidak ingin beranjak untuk memulai aktifitas.
Padahal sudah 10 x boss ku sms, tapi tidak ada satupun yang ku balas.
Aku adalah seorang karyawati yang bekerja di perusahaan cukup terkenal di kota jakarta.
5 tahun sudah aku bekerja di perusahaan itu, yang sedikit banyak membuatku tau akan sifat bossku yang suka marah tidak jelas.

Entah kenapa pagi itu moodku tidak bersemangat sekali rasanya untuk masuk kerja.
Akhirnya setelah lama berfikir, aku mengirim pesan singkat kepada Liaya sahabatku yang kebetulan dia bekerja menjadi sekertaris boss.
Aku memintanya agar bisa membantuKu lolos cuti hari itu untuk tidak mnerima bebelan apapun Dari bosku.
Setelah lama merayu, Liaya pun akur dengan permintaanku,  dengan syarat tidak boleh lebih dari satu hari.
Aku menghela nafas lega, karena mimpi buruk sudah hilang dari bayanganku sebelum sempat ianya mengganggu istirahatku.

Setelah menelvon Liaya, aku kembali duduk seperti tadi.
Melihat matahari yang sedang memancarkan keindahanya untuk alam semesta.
Kejadian 3 tahun yang lalu masih tergambar jelas di Setiap ingatan, seolah itu seperti kenangan semalam.
kuterhanyut dalam lamunan memory itu, hingga tiba-tiba suara Dari penyanyi Audi berjudul pergi cinta dari hapeku mengagetkanku dari lamunan.
Tapi aku hanya membiarkan saja tanpa melihat dari siapa.
lama juga handponeku bergetar, membuatkan aku merasa terganggu dengan deringanya.

” Hallo asalamuallaikum” jawabku tanpa melihat nomer yang tertera di screen telefon.
” Wa’alaikum sallam” jawabnya.
Tapi belum sempet aku bertanya, suara disana sudah mengomel kaya beo.
Dengan alasan yang aku lama angkat televonya itu.
setelah lama aku mengamati suaranya, berdetik hatiku memanggil nama seseorang. Reyyy! Iyah, aku sudah pasti kalau ini itu dia Sahabatku.
Tanpa berlengah lagi aku memotong bicaranya yang tidak berhenti sedari tadi keluar masuk dari telingaku.
Reeyyy… Teriaku dengan suara yang sangat gembira.
Membuatkan Rey tersenyum mendengar suaraku yang sudah seperti menang undian.
Tidak lama kemudian aku memutuskan televon, karena kita akan cepat bertemu ditempat biasa kita nongkrong.
Aku bergegas pergi kekamar mandi dan bersiap-siap untuk menepati janjiku.

kemacetan kota jakarta tidak membuatku patah semngat untuk mengendarai mobil.
Meskipun sudah hampir setengah jam aku terjebak didalamnya, Karena rasa gembira itu menguatkanku.
Tapi karena aku tidak mau Rey marah, akhirnya aku mengirim pesan singkat kepadanya.
“Rey, mungkin aku nggak bisa on time. traffic!”
Nggak lama aku mengirim pesan, ada pesan masuk yang ternyata balasan dari Rey.
” Its ok.hati-hati!” bales Rey  singkat.
Keemudian aku kembali fokus sama perjalananku.
Menikmati lantunan lagu-lagu kumpulan dari Audi, karena memang itulah lagu kesukaanku.
Dan lagu itu pulalah yang menjadi teman malamku selama ini, karena setiap syairnya sudah seperti di rangkai untuk kisah percintaanku.
Hmmm… aku mengeluh lembut.

Setelah satu jam aku terjebak traffic akhirnya aku sampai juga ditempat tujuanku.
Tempat yang penuh memory.
Senang, duka dan juga kecewa. Sesampainya di kursi yang ditunjukan pelayan, aku tidak  melihat kelibat Rey disitu.
Aku buntu, aku sudah berfikir yang tidak-tidak, takut dia marah karena aku tidak bisa on time dan meninggalkanku tanpa mengrimi pesan.
Agrh tapi tidak mngkin! kan tadi aku sudah mengrim sms kepadanya. Dan dia juga balas tidak apa.
Aku mencoba meyakinkan diriku sendri.
Tanpa berlengah aku mendail nomer Rey, tapi cuma pesan suara yang aku dengar.
kemudian aku memesan jus apel untuk membasahi tekaku yang sudahpun kering karna dari pagi belom menjamah apapun.
sedang aku menghirup jus apel, dari belakang ada yang menutup mataku. Seperti mau marah saja sa’at itu, tapi setelah melihat siapa yang melakukanya Kemarahanku serta merta hilang ntah kemana. Aku langsung memeluk Rey sahabatku dengan erat tanpa peduli pandangan orang-orang disekelilingku.
“Aku bener-bener seneng banget  Rey kamu balik. Lama juga kamu tidak pernah kasih kabar aku.” Ucapku setelah kami duduk.
“Ma’aflah sibuk. Aku juga rindu sekali sama kamu.” Jawabnya dengan pandangan aneh yang sulit untuk aku mengerti.

Dari pertemuan pertama bertemu, kita jadi sering melewati hari-hari bersama, bercanda, nongkrong yang mengundang tawa disetiap cerita.
“Siapa boyfriend kamu sekarang May?” tanyanya, yang membuatKu tersedak saatku sedang menghirup jus apel kesuka’anku. Melihat aku terbatuk-batuk, Rey langsung menepuk belakangku lembut yang membuat perasaanku tidak tentu arah. Tapi sebisa mungkin aku coba untuk tersenyum.
“Belum ada lagi Rey.” Jawabku singkat, tanpa ingin berselindung.
“Aku masih mau sendri dulu May.” Jawabnya bersahaja.
“Why you never find a girlfriend? You are greet and good looking. “
Aku coba untuk mengusiknya dengan bahasa yang pernah kita pelajari sewaktu di UN dulu. Meski aku akui, aku juga mengakui kebenaran atas apa yang aku katakan tadi tentangnya.
Tapi wajahnya mulai serius.
” i love one girl only May. And until now, i’m still loving her “
padangan matanya tepat pada mataku,
tapi aku coba untuk mengalihkan pandangan ketempat lain. Setidaknya bisa untuk menutupi kegusaran dihatiku pada saat itu.
niatnya aku memang mau menghindari pandangan Rey yang ntah aku sendiri tidak tau, tapi tidak aku sangka aku akan melihat sesosok tubuh yang sekian lama aku rindu. Iyah! tidak salah lagi, itu memang dia. Dennilah yang sedang aku lihat sekarang. Dia bersama Rena istrinya. Mereka sudah menikah 1 Tahun yang lalu. Rena juga sahabat karibku waktu kita masih belajar di UN dulu.
Seakan dia merasa ada yang memperhatikan, diapun menoleh ke arahku kemudian kita saling berpandangan.

Tatapan itu masih seperti dulu, lembut dan damai kurasa. Tanpa terasa setetes demi setetes air mataku jatuh juga, membasahi pipiku. Aku kira aku akan just, tapi ternyata aku salah.
Rey pula yang hanya menjadi pemerhati akan tingkahku sedari tadi langsung memandang ke arah yang sama.
REy menarik tanganku, meninggalkan tempat itu. Membawaku entah kemana aku pun tidak peduli, karena yang ada dalam pikiranku hanyalah ada kenangan lalu dan pertemuan tadi.
“Tuhan, kenapa Kau pertemukan aku denganya disaat hati ini sudah mau melupakanya? kuatkan aku Tuhan. Jangan biarkan aku kalah dengan perasaan ini. ” Rintihku dalam hati.
Tanpa terasa Rey sudah memberhentikan mobilnya di tempat yang asing buatku, tapi cukup indah untuk siapapun yang melihatnya.
Ku terbuai dalam suasana pantai indah itu.
Meniti Setiap desir ombak yang membasahi kakiku.
“Are you ok, May?” tanya Rey padaku, setelah lama mendiamkan diri.
” I’m ok. thanks Rey sudah bawa aku ketempat ini” ucapku, dan tersenyum memandang kearahnya.
“Sama-sama May. Kamu tidak mau makan? dari Pagi kamu belum mengisi perut, walau itu cuma sedikit. Nanti kamu sakit. Jangan di inget-inget terus May! Masa iya cuma karena kita ninggalin jus apel itu kamu Jadi galau gini.” Ucap Rey coba untuk memeriahkan keada’an. Aku pun tersenyum mndengar gurauanya yang menurutku sedikit mengada-ngada itu, tapi sejujurnya aku memang merasa nyaman setiap dekat denganya.

Kini jam sudah menunjukan tepat pukul 8 malam, aku meminta Rey untuk mengantarkan aku pulang.
Sesampainya di depan rumah aku seakan tidak mau keluar dari mobil itu. Membayangkan aku yang nanti akan sendri lagi melewati hari-hariku tanpa Rey, itu membuatku takut.
“Rey kamu jadi minggu ini balik US?” tanyaku tanpa memandang kearahnya.
“Iyah May.” jawabnya singkat.
“Tapi kenapa secepat itu Rey?” air mataku sudah tidak bisa aku tahan lagi. Rey hanya diam, seakan dia juga tidak tau mau jawab apa.
Lama kami mendiamkan diri, hingga akhirnya Rey mengungkapkan kata yang tidak pernah aku duga.
“Kita menikah May! “ tegas suaranya, sambil memegang tanganku lembut.
“Kamu jangan bercanda Rey.” Aku menentang pandanganya.
“Any tidak bercanda May. Sewaktu kita di cafe, ditempat biasa kita nongkrong orang yang aku tu kamu May. Aku sudah tidak bisa menahan Perasa’an ini lagi May.”
“tapi kenapa harus aku Rey? sahabatmu. ” Tanyaku, sekaligus mengingatkanya.
“karena kamu pemilik hati ini May.” jawabnya sambil menunjuk kedadanya.
“Tapi kita itu sahabat dari dulu Rey “
Memang kenapa kalau kita sahabat May? apa sahabat tidak boleh jatuh cinta? sahabat juga punya Perasaan May, sama seperti yang lain.” Ucapnya lembut.

Setelah kejadian malam itu aku buntu memikirkan semuanya, karena aku cuma di beri waktu Rey 3 hari dalam tempoh keberangkatanya.
Sekali lagi aku termenung jauh mengenang semua kisah persahabatanku dengan Rey hingga akhirnya aku bertemu dengan Denni, orang yang pertama kali mengetuk pintu hatiku sekaligus orang yang telah membuat sahabatku Rena tergila-gila kepadanya.
Seiringnya waktu ternyata aku tidak bisa memadam perasa’anku terhadap Denni, dan Rey adalah orang yang senantiasa menjadi tempat curahan hatiku. Entah gimana lah Perasa’an Rey saat itu, karna gadis yang di idam-idamkannya tidak pernah telat untuk membahas cowo lain.
Yang tidak lain itu temanya sendiri, Denni.

Rey mengajaku ketempat biasa untuk menenangkan pikiran yang dia tau saat itu perasa’anku hancur karna mendengar Denni sudah bertunang dengan Renna, tapi aku berusaha untuk kuat didepanya.
Karena memang itulah yang aku mau dari pertama kali aku membunuh persa’an terhadap Denni. Lagu audy/pergi cinta, menjadi teman setia saatku duduk di cafe tembat biasa kita kumpul sebelum kita mengenal apa itu cinta, sakit dan kecewa.
Sekali lagi Rey lah yang menjadi teman setia, yang hanya memperhatikanku dari jauh karena aku memintanya untuk meninggalkanku seoarang diri.

Seminggu kejadian itu Rey memberi tahuku, jika ortunya akan pindah ke US. Dan dia harus ikut untuk melanjutkan pelajaranya. Aku merasa benar-benar sedih tidak tau harus berbuat apa, tapi aku coba tersenyum semanis mungkin di depan Rey dan merestui kepergianya. Walhal di dalam hati cuma Allah saja yang tau.
Dan sekarang Reybsudah kembali, aku tidak mau dia pergi meninggalkanku lagi, Karena sebenarnya aku memang membutuhkanya di setiap hariku.

” Kalau malam bisa mencintaiku,
pasti siang cemburu lalu pelanginya hilang. Namun jika aku menerima cintanya siang, malam pasti merajuk dan tidak berbulan.
Tuhan, berikan aku cinta yang tidak perlu aku memilih antara dua keindahan,  dan terima kasih karena Kau berikan aku dia cinta yang tidak perlu aku pilih. “

Lantunan Puisi itu mungkin sangatlah tepat buat keada’anku sekarang.

Setepatnya waktu yang sudah dijanjikan, aku datang menemui Rey. Wajahnya masih tenang seperti biasa,
wajah itu jugalah yangselalu menyemangatkanku. Jadi bagaimana mungkin aku bisa menyakiti hati yang indah itu.
Pertemuan pada hari itu tidak seperti biasanya. Hening dan sunyi, tidak seperti selalu Rey akan mengenakanku dengan tingkahnya.
“Rey!”
Aku memulai pembicara’an pagi itu.
“Iya May.”
Belum sempat aku berbicara, Rey memotong kembali.
“kita pesen makan dulu yah! Kamu pasti belum sarapan kan?” tanyanya lembut.
Aku hanya mengangguk, menuruti perkataanya. Kita makan tanpa suara, diam seribu bahasa. Hanya bibirnya saja yang sekali-sekala tersenyum kearahku. Hingga waktu yang menegangkan akhirnya tiba juga, Rey menyoalku dengan persoalan yang sama seperti malam itu.
“so? “
“so !” jawabku pura-pura tidak tau. Walhal aku cuma ingin tau reaksi wajahnya saja.
“Apa perlu aku mengulanginya?” Dia kembali menyoalku.
“Hmmm hanya itulah yang mampu Ku ungkapkan.”
Melihat aku yang hanya diam, Rey mengeluarkan sebuah kotak kecil mungil dari sakunya.

“Menikahlah denganku!”
Serasa mimpi, jiwaku melayang mendengar kata-katanya.
Tidak terfikir bahwa Rey akan melakukan itu, tanpa sedar aku sudah menitiskan air mata karena terharu.
Aku diam sejenak membiarkan Rey bermonolog dengan dirinya sendri, lama aku memperhatiakan wajah yang senantiasa tenang itu kini aku dapat melihat jelas kekecewa’an di wajahnya.
Aku ambil cin-cin dari tanyanya, menandakan yang aku telah menerimanya.
Aku seakan tidak percaya yang Rey menangis, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku lihat darinya.
“Kamu kenapa menangis Rey?” Tanyaku, sambil mendongakan kepalanya untuk melihat kearahaku.
“Aku tidak apa-apa May.” jawabnya singkat dan terus memelukku.
“Apakah kamu menyesal melakukan ini semmm” belum sempat aku menghabiskan bicara, dia menutup mulutku dengan jarinya.
“Tidak, aku tidak pernah menyesal May. Air mata ini Bukan air mata penyesalan, tapi air mata kebahagia’an “ jawabnya tulus.
“Terima kasih May, karena sudi menerimaku.” Dia memakaikan cin-cin itu dijari manisku dan mencium keningku dengan lembut.

Hari pemberangkatan telah tiba, kini aku telah sah menjadi istri Rey sahabatku. Aku sempurna bersamanya!
Bahkan dia selalu membuatku merasa bahagia setiap saat, hingga aku lupa apa itu sedih dan luka.
Dengar kabar Liaya juga sudah tidak lagi kerja dengan bosku dulu, karena dia sudah tidak tahan dengan sifat suka marahnya. Aku hanya tertawa melihat wajah sugul Liaya sewaktu menceritakan semua itu kepadaku. Tapi dengan cepat aku menenangkanya dengan menawarkan pekerjaan di perusahaan papahnya Rey yang dijakarta. Sementara Denni dan Rena sudah mempunyai anak Kembar, akupun ikut bahagia mendengar kabar itu.

NB; Walau sahabat bukan berarti tidak bisa menjadi pasangan, karena justru sahabat yang mungkin itu pasangan terbaik untuk kamu. Dan janganlah terlalu fokus disana, karena Disini juga masih ada kebahagiaanmu 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s