Uncategorized

Penantian

Terdengar suaramu dalam telingaku, mendayu lembut begitu sangat dekat.

“Kuku sayang!” Ucapmu, yang membuat aku terbangun.

Sadarlah aku sekarang, bahwa itu hanya mimpi. “Segitu rindunyakah aku kepadanya?” hatiku merintih sedih, memanggil-manggil namanya dalam sepi. Menatap jauh ketingkap jendela yang terbuka luas. Kosong, itulah yang aku lihat. Tiada bintang ataupun bunyi suara yang biasa aku dengar.

Lalu kucoba untuk melanjutkan tidurku yang tertangguh, susah sekali. Aku tak bisa memejamkan mataku. Karena setiap aku mencoba, bayangnya selalu datang mengusik. “Agrhhh aku benci dengan keadaan ini” gerutuku, dan mencoba untuk memejamkan mata kembali. Berulak-alik,  bak ikan yang terdampar didarat. Dan lagi-lagi gagal. Akhirnya aku memilih untuk bangun, dan duduk memandangi langit lewat jendela kamarku. Entahlah apa yang aku lihat saat itu, aku juga tidak tau. Tapi kedamaian serasa ada, setiap aku meneliti langit diatas sana. Gelap, sunyi, kosong dan sepi. “Kira-kira, Pacar lagi ngapain yah sekarang? rindu jugakah dia padaku? atau dia malah sedang tertidur pulas? hmmm aku sangat merindukanya Tuhan”

Dreeet. Dreeet…

Aku menyingkir,  mendekati handponeku yang bergetar.

From:Mas Lutfi

“Disini aku masih menunggumu Yun!”

Aku hanya terdiam membaca pesan itu, membaca tapi aku merasa tidak. Mengerti tapi hampa.

Aku kembali terdiam, dalam suasana hening malam itu. Dengan segala upaya aku coba untuk memejamkan mataku, berharap aku bisa tertidur kembali. Karena aku tidak mau nanti saat kerja Migrantku kambuh, karena sakitnya itu sama halnya saat aku menahan rindu kepadanya. Bukanya aku sudah tidak mau merindukanya lagi, tapi aku hanya tidak mau menyakiti diriku sendiri, dan hanyut terus-menerus dalam perasa’an. Toh mungkin dia disana juga belum tentu memikirkanku. Atau bahkan mungkin, malah selalunya seperti itu. “Setega itukah,  dia padaku?” lagi-lagi hatiku merintih, mengingatmu memang hanya membuat hatiku rapuh.

Ah sudahlah, perjalananku masih panjang. Tanpanya aku juga masih bisa hidup ko, bukankah aku sudah terbiasa jalani hari-hari sendiri. Iyah! benar. Aku memang selalu menjalani hidupku sendiri, bahkan saat aku ada masalah dan tertimpa musibah. Pun aku sendiri yang menyelesaikanya. Tapi, aku juga tak bisa pungkiri, kalau aku membutuhkanya untuk penyempurnaku. Seperti Hawa yang membutuhkan Adam. Seperti Siti Khatidjah yang membutuhkan Nabi kita, Muhamad SAW. Dan seperti Ainun yang membutuhkan Habibi. Aku perlu pendamping, untuk menjagaku. Bukan hanya untuk jalan-jalan dan menggandeng tanganku saja. Tapi juga untuk membimbingku.

Salahkah jika aku masih mengharapkanya? Berdosakah jika aku tetap setia menunggunya? Jika dia sendiri yang telah berjanji akan kembali kepadaku.  Meski aku tak pernah tau akhirnya dari penantianku, tapi aku percaya, semua kan indah disuatu senja.

Untukmu.., Kembalilah! disini aku merindukkanmu. Datanglah kepadaku! dan katakan pada mereka, bahwa aku tidak salah karena masih setia menunggumu disini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s