Uncategorized

Karena semua berawal dari A ➡ part1

image

Secebis rasa yang tersimpan, takan pernah bisa merubah takdir diri. Siang yang berganti malam turut menyaksikan apapun kesudahan kisahku.

“Assalammualaikum.., selamat malam Mah!” Suaraku menyapa Mamah lembut.
“Waalikumusalam wrt.wrb. Malam juga sayang.” Jawab Mamah.
“Mamah lagi ngapain? sudah makan belum? dan kabar Mamah sama keluarga gimana?” tanyaku, yang membuat Mamah tertawa mendengar soalanku yang banyak itu. “Hmmm kamu itu, mboh ya tanya satu-satu dong sayang.” Jawab Mamah setelah tawanya reda. “Alkhamdulilah Mamah dan semua keluarga baik. Kita juga sudah makan. Mamah harap kamu juga baik yah sayang disitu!” Lanjut Mamah lagi dengan nada yang lebih lembut.
“Alkhamdulilah.., ini semua juga berkat doa Mamah yang selalu senantiasa mengiringi langkahku..Makasih ya Mah!” Ucapku sayu,  hampir menitiskan air mata. Sudah tidak terkira rasanya rindu ini dengan wajah Mamah yang senantiasa mampu membuatku tenang.
“Iyah sayang, sama-sama. Mamah ingin dimanapun kamu berada, kamu selalu dalam lindunganNYA dan senantiasa bahagia.” Aku dengar Mamah menghela nafas,  sebelum melanjutkan bicaranya. “Maafkan Mamah ya sayang, karena hanya itu yang Mamah mampu lakukan selama kita berjauhan gini. Mamah harap kamu bisa jaga diri  dan jangan sampai tinggalkan sholat! jangan lupa juga berdoa, agar bisa mendapatkan jodoh seperti Adly Fairus.” Ada tawa diakhir kata-kata Mamah, dan aku tau Mamah lagi bergurau, yang telah membuat hatiku tersenyum lucu mengenangkan Mamah masih ingat dengan artis yang aku kagumi itu, karena kesederhanaan dan mukanya yang manis kalem. “Iiiiiihhh Mamah, bermimpi disiang bolong kali, aku dapat pacar atau jodoh seperti artis kak Adly itu.” Jawabku pura-pura ngambek dengan candaan Mamah tadi. “Duuhhh anak Mamah ini, dah besar juga masih aja ngambeknya. Kalau mimpi disiang bolong pun tak apa, dari pada mimpi dimalam tertutup, kan menakutkan. Uuuhhh…” Aku tertawa mendengar gurauan Mamah, diselangi tawa Mamah dihujung televon. Argh jangan ditanya lagi akan kebahagiaanku setiap mendengar tawa Mamah, meski hanya ditelevon. Karena sekurang-kurangnya sedikit banyak itu telah mengobati kerinduanku terhadapnya.
“Ya sudah, udahan dulu ya sayang. Mamah mau sholat isya dulu. Kamu juga jangan lupa sholat yah! Wasalamualaikum…”
“Iya Mah, insya Allah. Waalaikumusalam wrt.wrb.”

Selesai televonan dengan Mamah aku duduk termenung disamping jendela kamarku. Menatap indahnya bintang yang senantiasa tersenyum kepadaku, seakan dia juga tau yang aku ini sedang bahagia.
Tanpa terasa aku menitiskan air mata, entah kenapa hatiku jadi sedih tiba-tiba mengingatkan berita yang baru kudengar tadi dari Mamah.
“Topik sudah mau bertunang sayang, mungkin keluarganya kecewa dengan keputusan yang kamu ambil kemarin. Kamu yang sabar yah!” Itulah pesan Mamah tadi, sebelum aku mematikan televonya.
“Aku sudah agak ko Mah, kalau semua ini memang akan terjadi. Aku rela dan ikhlas, karena itu memang keinginanku. Semoga Topik bahagia dengan penggantiku.” Jawabku lirih, selirih jiwaku yang mengharapkan itu adalah kabar dari mimpi pedih. Namun semakin aku menutup mata untuk mengelak, ternyata sakitnya lebih dari yang aku rasa tadi. Jadi kabar itu benar adanya, secepat itukah dia mengahapus namaku dihatinya?  Lalu dimana janjinya dulu yang akan setia menungguku.  Duhai hati bersabarlah!

SEBULAN BERLALU…
Hari ini aku kembali menghubungi rumah, karena Mamah sms mengabarkan yang Sulis adiku akan piknik ke Jakarta. Karena tuntunan kerja yang tidak memungkinkan aku untuk pulang, akhirnya aku hanya mampu menghubungi lewat televon saja. Lagipun posisiku bukan setakat karena tuntunan kerja, melainkan karena berbeda Negara, yang tidak bisa selalu pulang ketika ada urusan mendesak dirumah. Dan itu jugalah salah satu alasan aku meminta “break” dulu sama Topik. Namun dia telah salah mengartikan kata-kata “break” itu.  Hingga sekarang menjadi seperti ini kesudahan hubunganku denganya. Tapi iya mungkin ini memang sudah jalan yang Allah tuliskan untukku, yang mampu aku lakukan sekarang adalah menjalani apa yang ada, tanpa mau menyesali apapun yang sudah terjadi. Karena aku percaya Tuhan mempunyai rencana yang indah untukku dimasa hadapan.  Dan aku yakin akan hal itu.

Satu kali aku televon rumah tidak ada yang angkat, hingga kedua, ketiga dan seterusnya pun sama. Akhirnya aku mutusin untuk televon Abang yang ada di jakarta, dan Alkhamdulilah tidak lama Abang angkat juga televon dariku. “Hallo Assalamuaikum.., Bang” Ucapku dengan nada yang lumayan tinggi,  karena sedari tadi aku dengar Abang cuma hallo, hallo saja ditelingaku.
“Waalikumusalam wrt.wrb… Biasa aja dong suaranya, galak banget. ” Aku hanya tertawa mendengar kata-kata Abang itu. “Lah dia malah ketawa.” Ucap Abang, menyadarkan aku dari duniaku sendiri. “Ada apa? ada apa? ko kayanya gugup banget sayang” Tanya Abang sebaik saja ketawaku berhenti, dengan tingkah lebaynya yang tidak pernah ketinggalan saat berbicara denganku, membuat bulu kudukku meremang geli. Iya biarpun dia Abangku sendiri, tapi entahlah. Aku ini tidak biasa bertingkah “hot” walau meski itu dalam keadaan bercanda sekalipun. Karena buatku bercanda itu boleh, namun tidak berlebihan.
“He.he nggak ko Bang. Itu nomer rumah kenapa susah sekali dihubungi? ditelevonin dari tadi nggak diangkat-angkat.” Aduku dengan nada kesal. Iyalah, gimana nggak kesalnya. Semalam Mamah sms aku suruh  cepat-cepat televon rumah, giliran ditelevon malah nggak diangkat-angkat. Taulah yang aku ini semalam tidur sore, jadi mana tau kalau Mamah sms seperti itu.

“Oooooh biasalah, mungkin orang rumah lagi pada sibuk mungkin.”
“Hmmm Iya juga ya Bang.” Ucapku seperti baru tersedar dari andaian-andaianku sendiri.
Belum sempat aku bertanya lagi, Abang dengan pantas sudah berbicara memotong.
“Kamu sudah denger kabar tentang Topik belum?” Dahiku berkerut sebaik saja mendengar soalan Abang yang sudah berganti  “topik” itu. Membuat hatiku resah tidak karuan. “Kabar tentang Topik apa Bang?” tanyaku balik, sambil telinga benar-benar aku dekatkan ke televon, karena tidak mau nanti salah dengar dengan apa yang mau Abang sampaikan ke padaku.

“Topik sudah tunangan. Abang suruh nyampaiin pesen Mamah, yang kamu harus sabar dan kamu juga dapat sallam dari Neneknya Topik. katanya biarpun kamu nggak bersatu sama Topik sesuai dengan keinginanya, dan keinginan Almarhumah Nenek tapi beliau sudah nganggep kamu seperti cucunya sendiri.” Entahlah apakah harus sedih, kecewa atau bahagia aku tidak tau. Namun yang pasti, rasanya aku ingin menangis saat itu juga. Apalagi sebaik saja mendengar nama Almarhumah Nenek,  iyah! aku baru inget yang Almarhumah Nenek memang sangat bersetuju saat dulu mendengar aku menjalin hubungan dengan Topik, malah Almarhumah Nenek juga sudah membicarakan semuanya dengan Neneknya Topik. Tiba-tiba rasa bersalah bertandang kenubariku, merasa akulah manusia yang paling ego didunia ini. Namun semua sudah terlambat, aku sudah tidak mungkin menunaikan keinginan Almarhumah Nenek itu. Ya Allah, maafkan aku. aku tidak bisa menunaikan keinginan Nenek. Nenek, aku benar-benar minta maaf. Untuk sesaat, aku membiarkan paru-paruku diam mengatur setiap oksigen yang keluar masuk dari nafasku yang sudah sesak menahan tangisanku yang kapan saja bisa meletus, tapi akal sehatku masih bisa berfikir, aku tidak mungkin nangis didepan Abang, biarpun cuma di televon, tapi aku nggak mau nanti Abang khawatir akan keadaanku sekarang.

“Halloooo, Hallooooo” Ucap Abang, menyadarkan aku dari melayan perasaan. Namun lidah rasanya berat sekali untuk berbicara. Sudahnya Abang yang bersuara kembali, tapi kali ini dia menasehatiku. Sikap yang selalu membuatku nyaman setiap berbicara “hal pribadi” meski kadang adakalanya Sifat Abang yang nyebelin juga ikut serta, tapi iya itulah Abangku, lelaki kesayanganku setelah Papah.
“Udah nggak usah sedih, mungkin dia bukan jodohmu. Kamu harus bisa merelakanya, agar dia juga bisa bahagia dengan calonya. Yang penting kamu nggak usah banyak pikiran, biar nggak sakit ya Sayang.” Abang mencoba menghiburku dengan logat lebainya tadi. Akupun cuma bisa tertawa hambar untuk menutupi semua rasa dihati.
“He.he Amien… Ok Bang. Aku nggak apa-apa ko. Ya sudah, aku masih ada kerjaan yang belum selesai nih Bang, udahan dulu ya! Wasalamualaikum…” Ucapku dan langsung matiin televon, setelah mendengar Abang menjawab salamku.

Mungkin ini jawaban dari mimpi-mimpiku kemarin tentang Topik. Mimpi yang sudah beberapa hari kemarin selalu bertemu denganya disuatu tempat, namun belum sempat aku bersuara, dia sudah pergi tanpa berpaling kearahku lagi. Disitu aku merasa aneh, biarpun dari matanya aku dapat melihat, dia masih mencintaiku. Tatapan yang sama seperti dulu saat pertama kali dia menyatakan cintanya padaku. Sesaknya hati, hanya tuhan saja yang tau. Apalagi saat aku mengingati kembali obrolan aku sama Ley sahabatku kemarin yang semakin membuat perasaanku tidak menentu.

“Topik kemarin tanya aku tentang kamu, dia tanya aku masih contact kamu apa nggak. Terus aku jawab masih, dan Topik bilang titip kamu ke aku.”
Ingin rasanya aku menjerit meluapkan rasa yang terbuku, tapi aku takut dikira gila juga sama orang sekitar. Agrh Topik ini memang selalu mengambil berat tentang aku, mungkin aku memang bodoh karena telah mengucap kata “break” dulu sama dia. “Baiknya kamu hubungin Topik aja deh Cob, bilang selamat or apa ke.” Sudahnya aku mundar-mandir saja dikamar,  sama ada benar aku harus ngubungi Topik seperti saran Ley atau tidak. Karena aku takut nanti tidak dapat mengawal perasaan, jika ikutkan hati memang mau saja aku pulang terus minta Topik ninggalin Calonya itu, tapi apakah aku tega melakukan itu? sedangkan dulu aku sendiri yang meminta “break”. Hmmm harus seperti ini kah kesudahanya Ayank?  Aku berbicara pada photo yang ada di wallpaper hapeku, foto aku sedang merangkulnya mesra. Foto yang dulu aku ambil saat dia mengantarkan aku ke bandara. Tiba-tiba rasa kangen pula datang menghampiri, rasanya sudah lama juga aku tidak menghubunginya setelah kata “break” itu.

Setelah lama berfikir akhirnya aku putuskan untuk menghubungi Topik, setidaknya mendengar suaranya saja pun boleh lah, sebelum dia benar-benar sah menjadi milik orang lain. Aish ikhlas nggak itu aku berbicara? Ah sudah lah.
“Hallo Assalamualaikum..,” Ucapku sebaik saja televonku tersambung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s