Uncategorized

Karena semua berawal dari A ➡Part2 end

Kau terindahku yang tak mungkin bisa kulupa, cerita indah yang selalu menemani. Dalam kehidupan pena, aku dan kamu adalah kenangan. 

“Waalaikumusalam…” Suara lembutnya menjawab. Suara yang selalu membuat aku merindu disetiap waktu. Kini suara itu terasa bagai alunan musik yang berdendang ditelingaku, begitu indah yang membuatkan aku merasa dialam kenangan kemarin. Masih bisakah nanti aku mendengar suara itu lagi? Apakah hari ini terakhir aku mendengar dan berbicara denganya? Banyaknya aku berfikir, dia bukanya akan pergi kemana. Kan kalian masih satu desa. Hatiku mencoba mengingatkan.
“Maaf ini siapa yah?” Suara Topik membangunkanku dari lamunan. Membuat aku terdiam. Kecewa pun ada, karena dia tidak mengenali suaraku langsung, kalau iya pun bener lupa, apa dia sudah tidak menyimpan nomerku? teganya dia. Keluhku sendiri.
“Apa kabar Mas?” tanyaku tegas, mencoba menyembunyikan kekecewaanku.
“Alkhamdulilah baik. Kamu sendiri gimana?” Dia sudah tidak memanggilku sayang, aish sedihnya hati. Kenapalah setiap mengingat tentang dia dan memory lalu, hati aku cengeng. Dia sudah bukan punyaku pun. Sudahlah terima saja hakekatnya, Nur. Bukankah dulu kau yang sudah ninggalin dia, jadi tidak usah berdrama lah. Hatiku gundah antara memanipulasikan sikapku sendiri dan keinginanku untuk dia kembali.
“Syukur lah. Alkhamdulilah aku juga baik ko. Btw selamat yah Mas!” Jawabku, yang entah kenapa saat aku mengucapkan kata itu, hatiku jadi sedih. Ingin rasanya aku menangis dan merayu kepadanya untuk kembali padaku. Sadar Nur, kau juga wanita. Jika kau diposisi dia, bagaimana? Aku beristighfar berkali-kali untuk membuang hasutan setan yang sudah menyerubungi hatiku. Sedaya upaya aku mencoba tegar, agar dia tidak menyadari suaraku yang sudah mulai berubah.
“Iyah, makasih. Tau dari siapa?” tanyanya padaku.
“Dari Abang tadi.” Aku menghela nafas, sebelum akhirnya melanjutkan kata-kata yang sudah aku atur sedari tadi. “Aku doakan semoga kau bahagia! dan ditunggu undangannya cepet he he…” Ucapku lagi dengan nada gurauan tawa yang kubuat-buat.
“He he iyah, insya Allah”
Tidak lama setelah itu aku minta udahan, karena mendengar suara dia hanya mengingatkanku pada kenangan lalu.
“Titip salam buat keluarga ya Mas! dan maaf kalau aku ada salah sama kamu, selama kita berhubungan.” Itulah kata-kata terakhir yang aku ucapkan untuknya.

Akhirnya air mata yang aku tahan sedari tadi pecah juga, aku menangis dan terus menangis. Tanpa ada sesiapapun yang tau apa yang aku rasakan saat itu. Bersama deraian air mata yang tak kunjung henti, ku dekupkan mukaku diantara kakiku yang bersila tangan. “Air mata ini bukan menandakan aku sedih, Ayank. Melainkan air mata kebahagiaan, Kate akhirnya apa yang aku inginkan tercapai juga. Iaitu melihat kau bahagia walau bukan karena aku.” Aku berbicara pada foto Topik yang ada diaryku sedang duduk tersenyum manis. Rindunya pada dia, hanya Tuhan saja yang tau.

Tiga tahun aku menjalin hubungan denganya, melewati setiap masalah dan cobaan bersama. Rasanya seperti mimpi, semua berakhir begitu saja. Harus ku salahkan siapa jika sudah seperti ini? Jika aku sendirilah yang telah membuka luka itu sendiri. Bagaimanakah kelanjutan hidupku nanti tanpanya? mampukah aku berjalan sendiri. Selama ini pun aku selalu tergantung padanya, karena dia ibarat tongkat untukku. Saat aku sedang berjalan pincang, dia akan memapahku untuk bangkit. Dialah yang mengajarkan aku akan hidup. Dialah yang membuatku kuat. Dia juga yang membuat hari-hariku lebih berarti. Kenapa baru aku mengerti kalau dia itu begitu berarti untukku Tuhan? Kenapa baru aku sadari, aku rapuh tanpanya?
Aku rindu dia Tuhan, sangat rindu. Sekali lagi suara tangisanku mengelilingi kamar, hanya bertemankan lampu meja yang kecil, aku tatap kembali buku diary itu dengan perasaan yang berbaur. Buku diary yang banyak menyimpan coretan tentang semua yang “kita” rasa 3tahun lalu. Hingga sekarang diary itu ada ditanganku, untuk aku habiskan setiap lembar yang tersisa, karena Topik yang memintaku untuk mengisinya. Aku buka lembaran pertama, masih tulisan biasa yang hanya menceritakan tentang masa-masa dulu sebelum kita jadian. Dari aku jadi Mak comblangnya dengan sahabatku, dan dia yang menjadi pak comblang untuk sahabatnya. Aku tersenyum mengingat masa-masa itu, masa-masa dimana aku baru mengenal cinta dan juga luka karena cemburu. Tidak mau terlalu melayan perasaan, aku membuka kelembaran kedua dan seterusnya yang aku lihat coretanya masih sama. Hingga aku berhenti dilembaran yang sepertinya belum pernah aku baca.
Aku terdiam sejenak, dan menarik nafas mengumpul kekuatan sebelum mulai membaca tulisan itu.

Hidup & Mati

Disaat aku terbangun dari tidurku,
aku ingin kau sudah ada disampingku.
Agar kau tau, saat aku mulai membuka mata,
cuma kau yang ingin kulihat.
Tidak ada rasa lain, selain rasa sayangmu.
Tidak ada cinta lain, selain cintamu.
Dan tidak ada belaian lain, selain belaianmu.
Karena aku menginginkanmu sampai mata ini akan tertutup selamanya…

                                                         A miss N

Aku terenyuh dan tidak bisa komen apa-apa, tanpa aku sadari titik-titik jernih mulai jatuh lagi dari mataku. Entah kenapa setelah mendengar pertunanganya hatiku mudah sebak, dan air mata ini pun begitu murah sekali.
“Ya Allah, kuatkanlah aku.”
Doaku dalam hati, dan lanjut membuka lembaran berikutnya sampai kelembaran terakhir yang masih kosong. Aku bergegas mengambil pen dan mulai untuk menulis, karena mungkin inilah saatnya untuk aku menghabiskan lembaran terakhir itu.

17-12-2013

Setiap detik yang kita lalui
Setiap menit yang kita habiskan
Setiap jam yang kita luangkan
Dan setiap bulan yang kita lewati
Aku begitu merasa bahagia dan beruntung pernah memiliki kekasih sepertimu.
Kekasih yang megengerti, peduli, memahami, penyayang dan setia.

Terima kasih untuk setiap warna yang pernah kau beri dalam hidupku.
Pelangi yang selalu menyinari hariku,
dan setiap canda tawa yang kau beri.

Aku minta maaf untuk;
Setiap salahku (cemburu) yang selalu membuatmu kesal.
Setiap dosaku (tidak percaya) yang pernah membuatmu kecewa.
Setiap khilafku (selingkuh) yang sering membuatmu marah, saat kita bersama dulu.
Kudoakan semoga kau senantiasa bahagia bersamanya Amien…

Kutempel photoku denganya diakhir tulisan sebagai tanda kenangan. Kututup diary itu lalu kukunci, sebagai mana aku juga akan mengunci hati untuk tidak mengingatinya lagi. Apalagi untuk merindui, itu hanya akan menambah dosa jika aku melakukanya. Biarpun kadang aku juga tidak yakin sama ada bisa atau tidak melakukanya. Hmmm keluhku dengan tangan yang sudah siap menyimpan kembali diary itu ketempat semula, tempat dimana seharusnya diary itu berada. Iaitu MEMORY.

Untukmu.., Selamat Tinggal Masa Laluku ☺

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s