Uncategorized

Cinta Seorang Sahabat 

Aku adalah manusia biasa, sama seperti manusia yang lain. Aku tidaklah sempurna tapi aku bersyukur dengan keadaanku sekarang ini. Aku juga tidaklah pintar tetapi aku berusaha untuk selalu belajar, dan aku juga tidak sebaik mana tapi aku mencoba selalu menjadi yang terbaik untuk orang-orang yang kusayangi termasuklah sahabat-sahabatku.

Aku memiliki sahabat yang amat setia menemani ku di kala suka maupun duka. Dia bernama Ley dan juga Mey. Kami bersahabat dari dulu sejak kita masih main dalam tingkatan 4 dan sampai sekarang  kita menginjaki usia kedewasaan. Dan setelah aku mengenal dunia luar, aku mendapat begitu banyak sahabat baru.  Iaitu Anton, Ozji, Ociem dan juga Puji, yang tidak lain pacarnya Ley sahabatku. Yang sekaligus dia Puji juga yang telah mengenalkan mereka padaku .

Waktu terus bergulir dan hari terus berganti. Awalnya aku hanya sekedar teman biasa yang memiliki rasa ingin tahu dengan sifat-sifat mereka, semua itu bermula dari seminggu kita selalu chatting tepatnya bulan Juli. Kami sering bercerita lewat Whatsapp kadang juga Wechat atau Facebook. Banyak pertanyaan yang kuajukan untuk mereka, begitupun sebaliknya. Dari kesukaan dan pengalaman hidup. Bahkan mereka memberiku begitu banyak nasehat.

 “Jangan merubah diri kamu hanya karena hal yang tidak penting”. Itulah yang selalu mereka ingatkan.

Sayangnya kedekatan dan persahabatian kami di warnai gosip dan desas-desus yang menyatakan aku menyukai sahabatku sendri, padahal diantara aku dan mereka hanyalah ada sebuah tali persahabatan. Seperti Puji yang sekarang sudah pun berjaga jarak Karena tidak ingin melukai Ley sahabat tersayangku dan Anton yang  sudah mempunyai pacar.

Desas-desus itu membuat Ley marah padaku hingga sampai sekarang, walau dia tidak pernah menunjukan tapi dari perubahan sikapnya kepadaku, aku tau. Aku mencoba menjelaskan dan ingin langsung berbicara denganya. Cuma sayangnya dia tidak pernah memberi kesempatan. Sedih dan kecewa itu lah yang aku rasakan, tapi aku juga harus mengerti mungkin dia butuh waktu untuk memikirkan semuanya lagi.

 

Kini seminggu pun berlalu, sikap Ley masih sama. Bahkan pesan singkatku tidak mendapat tanggapan darinya, parahnya lagi tiap kami inboxan seperti tidak ada keniatan darinya, yang ada hanyalah rasa kecewa yang membekas.

Tuhan..,

Aku bingung dengan apa yang harus aku perbuat.

Jujur aku sedih jika selamanya aku dan ley begini.

hatiku sakit bagaikan di tusuk seribu jarum.

Aku mohon kepadaMU jangan ambil sahabatku.

Engkau dapat mengambil semua yang ku miliki! tapi

jangan kau ambil sahabatku. Karena dia amatlah berarti dalam hidupku.

Jika aku boleh meminta padaMU, kembalikanlah sahabatku seperti dikala pertama kali aku mengenalnya.

Aku hanya ingin jika aku kelak bertemu dengannya aku dapat melihat senyuman manisnya dan mendengar kata sapaan dari bibirnya yang merah.

Entah kapan semua itu terjadi yang jelas aku akan selalu menjadikan ia sahabat terbaikku dan aku yakin itu semua akan terjadi..

Jarum jam terus berputar, begitu pula dengan harapan ku yang semakin lama luntur karena perilakunya. Aku menyadari mungkin itu semua terjadi karena kesalahanku juga yang keterlaluan dekat dengan Puji mantanya karena kemarin mereka sudah putus. Tapi sekarang aku tidak tau gimana kabar hubungan mereka, kalau di lihat dari status mereka si sepertinya sudah membaik dan itu suatu kebahagia’an tersendri buatku 🙂

Ia berkata melalui temannya bahwa aku membuat kecewa dirinya, bahkan di luar dugaan ku ia berkata untuk tidak saling menggangu biar sama-sama enak. Padahal di hati kecilku aku hanya ingin menyambung tali silaturahmi dengan Puji. Aku sedih dengan perkataan Ley yang seperti itu.

 “kenapa pertemanan yang diawali dengan baik harus di akhiri seperti ini?” Hatiku menyoal sendiri dalam kesedihan.
Satu bulan berlalu dari kejadian itu, kini aku sendiri melewati hari-hariku tiada sapa’an manis dari Ley yang selalu ku rindui. Tapi aku masih bersyukur masih mempunyai sahabat seperti Anton dan Ociem yang selalu setia menemaniku, walau kemarin-kemarin Anton juga sempet kecewa karena keputusanku meninggalkan grup kami ‘Rembes Sejati’ tapi sekarang dia sudah mulai biasa padaku. Dan yang lebih menggembirakan adalah, sekarang Ozji sudah menikah dengan tunanganya. Malah kabar-kabarnya mereka akan mempunyai anak sebentar lagi. Iya meski dari grup kami ‘Rembes Sejati’ yang tidak bisa hadir hanya aku, tapi aku seneng karena mereka mengirimi foto Ozji saat bersanding dengan istrinya.

Aku selalu berharap di waktu yang akan datang nanti sa’at kesempatan kita semua dapat bertemu dan berkumpul, tiada lagi kekecewa’an. Yang ada hanyalah senyuman manis dari wajah mereka sahabat-sahabat terbaikku 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s