Ceritaku

Cinta Yang Sulit 

Pagi di kota Jakarta yang terkenalkan padat aktifitas orang-orang, aku masih duduk di birai katil tempat tidurku yang empuk. Seakan tidak ingin beranjak untuk memulai aktifitas. Padahal sudah 10 kali bossku sms dan menelvonku berulang-ulang, tapi tidak ada satupun yang ku balas.

Aku adalah seorang karyawati yang bekerja di perusahaan cukup terkenal di kota Jakarta. 5 tahun sudah aku bekerja di perusahaan itu, yang sedikit banyak membuatku tau akan sifat bossku yang suka marah tidak jelas. Meski walau begitu, aku bertahan juga selama bertahun itu, sesuatu yang kata temen-temenku “kerja gila”. Karena sepertinya aku yang paling ‘betah’ kerja ditempat itu. Padahal kalau ada yang tau aku juga ingin kabur aja dan mencari pekerjaan ditempat lain.

Pagi itu entah kenapa moodku tidak bersemangat sekali rasanya untuk masuk kerja seperti tidak biasa. Akhirnya setelah lama berfikir, aku mengirim pesan singkat kepada Liaya sahabatku yang kebetulan dia bekerja menjadi sekertaris dikantor tempat aku bekerja setahun lalu. Aku memintanya agar bisa membantuku lolos cuti hari itu untuk tidak menerima bebelan apapun dari siboss. Liaya mengiyakan, tapi dengan syarat tidak boleh lebih dari satu hari. Aku menghela nafas lega, karena mimpi buruk sudah hilang dari bayanganku sebelum sempat ianya mengganggu istirahatku. Setelah menelvon Liaya, aku kembali duduk seperti tadi. Melihat matahari yang sedang memancarkan keindahanya pada alam semesta.

Kejadian 3 tahun yang lalu masih tergambar jelas di setiap ingatan, seolah-olah itu seperti kenangan semalam. Aku terhanyut dalam lamunan memory itu, hingga tiba-tiba suara penyanyi Audi berjudul pergi cinta di hapeku mengagetkanku dari lamunan. Tapi aku hanya membiarkan saja tanpa melihat dari siapa. Lama juga handponeku bergetar, membuatkan aku merasa terganggu dengan deringanya.

”Hallo asalamuallaikum..,” Jawabku ketus.

”Wa’alaikumu sallam wrt.wrb.” Balasnya.

Tapi belum sempet aku bertanya, suara disana sudah mengomel kaya beo, dengan alasan yang aku lama angkat televonya itu. Setelah lama aku mengamati suaranya, berdetik hatiku memanggil nama seseorang “Rey” iyah, aku sudah pasti kalau ini itu dia Rey sahabatku. Tanpa berlengah lagi aku memotong bicaranya yang tidak berhenti sedari tadi keluar masuk dari telingaku.

“Reeyyy…” Teriaku dengan nada suara yang sangat gembira. Membuatkan Rey tersenyum mendengar suaraku yang sudah seperti menang undian. seperti aku bisa melihat saja bahwa dia memang sedang tersenyum kepadaku. Tidak lama kemudian aku memutuskan televon, karena kita akan cepat bertemu ditempat dulu biasa kita nongkrong. Aku bergegas pergi kekamar mandi dan bersiap-siap untuk menepati janjiku. kemacetan kota jakarta tidak membuatku patah semngat untuk mengendarai mobil seperti biasanya. Meskipun sudah hampir setengah jam aku terjebak didalamnya, karena rasa gembira itu menguatkanku. Tapi karena aku tidak mau Rey marah, akhirnya aku mengirim pesan singkat kepadanya.

 “Rey, mungkin aku nggak bisa on time. traffic!”

       “Its ok. Hati-hati!” bales Rey singkat.

Kemudian aku kembali fokus sama perjalananku. Menikmati lantunan lagu-lagu kumpulan dari Audi, karena memang itulah lagu kesukaanku. Dan lagu itu pulalah yang menjadi teman malamku selama ini, karena setiap syairnya sudah seperti di rangkai untuk kisah percintaanku. Hmmm… aku mengeluh lembut.

Setelah satu jam aku terjebak dalam kemacetan akhirnya aku sampai juga ditempat tujuanku. Tempat yang penuh memory. Senang, sedih dan juga kecewa. Sesampainya di kursi yang ditunjukan pelayan, aku tidak melihat kelibat Rey disitu. Aku buntu, aku sudah berfikir yang tidak-tidak, takut dia marah karena aku tidak bisa on time dan meninggalkanku tanpa mengrimi pesan seperti dulu. Agrh tapi tidak mngkin! tadi aku sudah mengirim sms kepadanya, dan dia juga balas tidak apa. Aku mencoba meyakinkan diriku sendri, dan coba untuk menghubungi nomer Rey, tapi cuma pesan suara yang aku dengar.

Kemudian aku memesan jus apel untuk membasahi tekaku yang sudah kering karena dari pagi belum menjamah apapun makanan. Sedang aku menghirup jus apel, dari belakang ada yang menutup mataku. Seperti mau marah saja sa’at itu, tapi setelah melihat siapa yang melakukanya, kemarahanku serta merta hilang entah kemana. Aku langsung memeluk Rey sahabatku dengan erat tanpa peduli pandangan orang-orang disekelilingku.

  “Aku bener-bener seneng banget Rey kamu balik. Lama juga kamu tidak pernah kasih kabar ke aku.” Ucapku manja setelah kami duduk.

“Ma’aflah sibuk. Aku juga sama ko.” Jawabnya, yang membuatkan wajahku panas menahan malu.

 

Dari pertemuan itu, sekarang kita jadi sering melewati hari-hari bersama, bercanda, nongkrong yang mengundang tawa disetiap cerita. Serasa kenaangan kemarin kembali terulang. Cuma bedanya sekarang kita cuma berdua tanpa adanya ‘dia’.

“Siapa boyfriend kamu sekarang May?” tanyanya, yang membuatku tersedak saatku sedang menghirup jus apel kesuka’an. Melihat aku terbatuk-batuk, Rey langsung menepuk belakangku lembut yang membuat perasaanku tidak tentu arah. Tapi sebisa mungkin aku coba untuk tersenyum.

“Belum ada lagi Rey. Kamu sendiri bagaimana?” Jawabku singkat, tanpa ingin berselindung dan mengajukan soalan yang sama kepadanya.

“Aku masih mau sendri dulu May.” Jawabnya bersahaja.

  “Why you never find girlfriend? You are greet and good looking. ”

Aku coba untuk mengusiknya dengan bahasa yang pernah kita pelajari sewaktu di UN dulu. Meski aku akui, aku juga mengakui kebenaran atas apa yang aku katakan tadi tentangnya. Mendengar kata-kataku wajah Rey mulai serius.

”i love one girl only May. And until now, i’m still loving her.” Padangan matanya tepat pada mataku. Aku coba untuk mengalihkan pandangan ketempat lain. Setidaknya bisa untuk menutupi kegusaran dihatiku pada saat itu. Tapi niat berkata lain, yang tadinya aku memang mau menghindari pandangan Rey yang penuh maksud, tidak disangka aku akan melihat sesosok tubuh yang sekian lama aku rindu. Iyah! tidak salah lagi, itu memang dia. Dennilah yang sedang aku lihat sekarang. Dia bersama Rena istrinya. Mereka sudah menikah 1 Tahun yang lalu. Rena juga sahabat karibku waktu kita masih belajar di UN dulu. Seakan dia merasa ada yang memperhatikan, diapun menoleh ke arahku kemudian kita saling berpandangan. Tatapan itu masih seperti dulu, lembut dan damai kurasa. Tanpa terasa setetes demi setetes air mataku jatuh juga membasahi pipiku. Aku kira aku akan kuat, tapi ternyata aku kalah. Rey yang menjadi pemerhati akan tingkahku sedari tadi langsung memandang ke arah yang sama, dan menarik tanganku. Meninggalkan tempat itu. Membawaku entah kemana aku pun tak tau. Karena yang ada dalam pikiranku hanyalah ada kenangan lalu dan pertemuan tadi.

 “Tuhan, kenapa Kau pertemukan aku denganya disaat hati ini sudah mau melupakanya? kuatkan aku Tuhan. Jangan biarkan aku kalah dengan perasaan ini.” Rintihku dalam hati.

Tanpa terasa Rey sudah memberhentikan mobilnya di tempat yang asing, tapi cukup indah untuk siapapun yang melihatnya. Aku terbuai dalam suasana pantai indah itu. Meniti Sstiap desir ombak yang membasahi kakiku.

“Are you ok May?” tanya Rey padaku, setelah lama mendiamkan diri.

”I’m ok. thanks Rey sudah bawa aku ketempat ini” ucapku, dan tersenyum memandang kearahnya.

  “Sama-sama May. Kamu tidak mau makan? dari Pagi kamu belum mengisi perut, walau itu cuma sedikit. Nanti kamu sakit. Jangan di inget-inget terus May! Masa iya cuma karena kita ninggalin jus apel itu kamu Jadi galau gini.” Ucap Rey coba untuk memeriahkan keada’an. Aku hanya tersenyum mendengar gurauanya yang menurutku sedikit mengada-ngada itu, tapi sejujurnya aku memang merasa nyaman setiap dekat denganya.

Kini jam sudah menunjukan tepat pukul 8 malam. Aku meminta Rey untuk mengantarkan aku pulang. Apalagi mengingat yang Rey bilang dia harus mengurus semua urusanya sebelum balik ke US siang tadi. Biarpun sebenarnya aku masih betah ingin disitu bersamanya, tapi aku tidak boleh egois.

Disepanjang perjalanan kami hanya diam, saling melayan perasaan masing-masing.  Omongan Rey tadi seakan-akan berputar kembali dalam fikiranku.

     “Lusa aku harus balik US, may”

Rasa ingin rebah pun ada. Seperti drama-drama yang ada tivi. Setiap dapat tau hal yang mengagetkan. Apalagi hal itu sesuatu yang sedang benar-benar kamu butuhkan. Hmmm ini bukan movie May, sadar lah. Bersikap sewajarnya saja.

 “May!” Sesampainya di depan rumah, aku seakan tidak mau keluar dari mobil itu. Membayangkan aku yang nanti akan sendri lagi melewati hari-hari tanpa Rey, dan itu membuatku takut. Sebenarnya saat tadi Rey bilang akan kembali ke US untuk melanjutkan karirnya sebagai Chef, ingin sekali aku menghalangnya. Tapi aku tidak bisa, karena menjadi Chef adalah cita-cita Rey dari dulu. Jadi bagaimana mungkin aku memintanya tinggal di jakarta saja hanya karena rasa takutku.

“Rey kamu jadi minggu ini balik US?” tanyaku tanpa memandang kearahnya.

“Iyah May. ” jawabnya singkat.

“Tapi kenapa secepat itu Rey?” air mataku sudah tidak bisa aku tahan lagi. Rey hanya diam, seakan dia juga tidak tau mau menjawab apa.

Lama kami mendiamkan diri, hingga akhirnya Rey mengungkapkan kata yang tidak pernah aku duga sebelumnya.

“Kita menikah May! ” Tegas suaranya, sambil memegang tanganku lembut.

“Kamu jangan bercanda Rey.” Aku menentang pandanganya berani. Tidak ada gurauan dimata itu. Semua ikhlas saja.

“Aku tidak bercanda May. Sewaktu kita di cafe, ditempat biasa kita nongkrong orang yang aku maksud itu kamu May. Aku sudah tidak bisa menahan Perasa’an ini lagi May.” 

      “Tapi kenapa harus aku Rey? sahabatmu. “ Tanyaku, sekaligus mengingatkanya.

  “karena kamu pemilik hati ini May.” jawabnya lagi, sambil menunjuk tepat kedadanya.

“Tapi kita itu sahabat Dari dulu Rey ” Aku masih mempertahankan, meski aku sebenarnya juga bahagia jika benar dia maksudknya.

Memang kenapa kalau kita sahabat May? apa sahabat tidak boleh jatuh cinta? sahabat juga punya Perasaan May, sama seperti yang lain.” Ucapnya lembut.
Setelah kejadian malam itu aku buntu memikirkan semuanya, karena aku cuma di beri waktu Rey 3 hari dalam tempoh keberangkatanya. Sekali lagi aku termenung jauh mengenang semua kisah persahabatanku dengan Rey hingga akhirnya aku bertemu dengan Denni, orang yang pertama kali mengetuk pintu hatiku sekaligus orang yang telah membuat sahabatku Rena tergila-gila kepadanya. Seiringnya waktu ternyata aku tidak bisa memadam perasa’anku terhadap Denni, dan Rey adalah orang yang senantiasa menjadi tempat curahan hatiku. Entah gimana Perasa’an Rey saat itu, karena cewek yang di idam-idamkannya tidak pernah telat untuk membahas cowo lain. Yang tidak lain itu temanya sendiri, Denni.
3 Tahun yang sebelumnya…

Rey mengajaku ketempat biasa untuk menenangkan pikiran yang dia tau saat itu perasa’anku hancur karna mendengar Denni sudah bertunang dengan Renna, tapi aku berusaha untuk kuat didepanya. Karena memang itulah yang aku mau dari pertama kali aku membunuh persa’an terhadap Denni. Lagu audi-pergi cinta, menjadi teman setia saatku duduk di cafe tembat biasa kita kumpul sebelum kita mengenal apa itu cinta, sakit dan kecewa. Sekali lagi Rey lah yang menjadi teman setia, yang hanya memperhatikanku dari jauh karena aku memintanya untuk meninggalkanku seoarang diri.

Seminggu kejadian itu Rey memberi tahuku, jika ortunya akan pindah ke US. Dan dia harus ikut untuk melanjutkan pelajaranya. Aku merasa benar-benar sedih tidak tau harus berbuat apa saat itu, tapi lagi-lagi aku harus berlakon didepanya. aku coba tersenyum semanis mungkin di depan Rey dan merestui kepergianya. Walhal di dalam hati cuma Allah saja yang tau. Dan sekarang Rey sudah kembali, aku tidak mau dia pergi meninggalkanku lagi, Karena sebenarnya aku memang membutuhkanya di setiap hariku.

     ”Kalau malam bisa mencintaiku, pasti siang cemburu lalu pelanginya hilang. Namun jika aku menerima cintanya siang, malam pasti merajuk dan tidak berbulan. Tuhan, berikan aku cinta yang tidak perlu aku memilih antara dua keindahan, dan terima kasih karena Kau berikan aku dia cinta yang tidak perlu aku pilih. ”

Lantunan Puisi itu mungkin sangat tepat buat keada’anku sekarang. Setepatnya waktu yang sudah dijanjikan, aku datang menemui Rey. Wajahnya masih tenang seperti biasa, wajah itu jugalah yang selalu menyemangatiku. Jadi bagaimana mungkin aku bisa menyakiti hati yang indah itu. Pertemuan pada hari itu tidak seperti biasanya. Hening dan sunyi, tidak seperti selalu Rey akan mengerjaiku dengan seribu tingkahnya.

  “Rey!” Aku memulai pembicara’an pagi itu.

  “Iya May.”

Belum sempat aku berbicara lagi, Rey memotong kembali.

  “kita pesen makan dulu yah! Kamu pasti belum sarapan kan?” Tanyanya lembut.

Aku hanya mengangguk menuruti perkataanya. Kita makan tanpa suara, diam seribu bahasa. Hanya bibirnya saja yang sekali-sekala tersenyum kearahku. Hingga waktu yang menegangkan akhirnya tiba juga, Rey menyoalku dengan persoalan yang sama seperti malam itu.

  “so? ”

      “so !” jawabku pura-pura tidak tau. Walhal aku cuma ingin tau reaksi wajahnya saja.

“Apa perlu aku mengulanginya?” Rey kembali menyoalku, dengan wajah serius.

Hmmm hanya itulah yang mampu Ku ungkapkan. Melihat aku yang hanya diam, Rey mengeluarkan sebuah kotak kecil mungil dari sakunya.

“Will you married me?”

Serasa mimpi, jiwaku melayang mendengar kata-katanya. Tidak pernah terfikir bahwa Rey akan melakukan itu, tanpa sedar aku sudah menitiskan air mata karena terharu. Aku diam sejenak membiarkan Rey bermonolog dengan dirinya sendri, lama aku memperhatiakan wajah yang senantiasa tenang itu kini aku dapat melihat jelas kekecewa’an di wajahnya. Aku ambil cin-cin dari tanganya, menandakan yang aku telah menerimanya. Aku seakan tidak percaya yang Rey menangis, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku lihat darinya. Ehmmm lebih tepatnya seorang cowok. Iyah, perasaan wanita itu sebenarnya mudah jika kalian (lelaki) tau bagaimana untuk mengambil hatinya. Dia lembut tapi juga kadang bisa keras. Namun dia lemah bila sendirian dalam harinya. Itulah kenapa dia (perempuan) selalu butuh lelaki untuk penyempurna.

“Kamu kenapa menangis Rey?” Tanyaku, sambil mendongakan kepalanya untuk melihat kearahaku.

“Aku tidak apa-apa May.” Jawabnya singkat dan terus memelukku.

“Apakah kamu menyesal melakukan ini semmm” belum sempat aku menghabiskan kata-kataku, dia menutup mulutku dengan jarinya.

“Tidak, aku tidak pernah menyesal May. Air mata ini Bukan air mata penyesalan, tapi air mata kebahagia’an ” jawabnya tulus.

“Terima kasih May, karena sudi menerimaku.” Lanjutnya lagi, sembari memakaikan cin-cin itu dijari manisku dan mencium keningku dengan lembut.

 

Sebulan pun berlalu…

Kini aku telah sah menjadi istri Rey sahabatku sendiri. Aku sempurna bersamanya. Bahkan dia selalu membuatku merasa bahagia setiap saat, hingga aku lupa apa itu sedih dan luka. Malah dengar kabar Liaya juga sudah tidak lagi kerja dengan bosku dulu, karena dia sudah tidak tahan dengan sifat suka marahnya. Aku hanya tertawa melihat wajah sugul Liaya sewaktu menceritakan semua itu diacara pernikahanku. Tapi dengan cepat aku menenangkanya dan menawarkan pekerjaan di perusahaan papahnya Rey yang di Jakarta. Sementara Denni dan Rena sudah mempunyai anak kembar, akupun ikut bahagia mendengar kabar itu.

Dan hari ini adalah hari pemberangkatan kami untuk ke US, tempat dimana Rey suamiku berkerja. Dan aku sebagai istrinya akan selalu mengikuti kemanapun dia pergi. Karena dialah (suami) tempat aku mencari syurgaNYA.
NB: Walau sahabat bukan berarti tidak bisa menjadi pasangan, karena justru sahabat yang mungkin itu pasangan terbaik untuk kamu. Dan janganlah terlalu fokus disana, karena Disini juga masih ada kebahagiaanmu 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s