Ceritaku

Tak Pernah Ternilai

“Mencintaimu apakah harus sesakit ini?”

Kata-kata itulah yang selalu terngiang-ngiang dalam hatiku, kata yang selalu aku pertanyakan dalam setiap detik, waktu hingga setiap sa’at pasti akan membuatku galau dengan semua yang aku anggap masih buram tiada cahaya.

Aku sangat mencintainya, tapi tidak dengan dirinya. Bahkan ketika sudah jadianpun aku tidak pernah merasa dia mencintaiku. Iya biyarpun ku akui, aku yang pertama membuka hati sendiri untuknya. Tapi dia juga yang telah memberikan kesempatan itu. Apakah salah jika sekarang aku berharap kepadanya?

  “kamu beneran suka sama aku Cit?”

      “Iyah Ren, aku suka sama kamu.”

      “Sebenarnya, aku juga suka Cit sama kamu”
Jam, hari. Bahkan ketika calendar sampai ke bulanya. Aku tidak pernah menyerah untuk selalu mencoba memberikan perhatian penuh kepadanya. Berusaha untuk memberikan yang terbaik untuknya. Apalagi dengan kata-kata Rendy yang berjanji akan selalu melakukan yang terbaik untuk hubungan kita. Jadi bertambah semangatlah untuk aku selalu berusaha, walaupun terkadang aku juga bingung dengan sikapnya yang sering tiba-tiba menghilang tiada kabar. Tapi itu semua tidak membuatku mundur, justru itu semua aku anggap sebagai tantangan sekaligus ujian buatku dalam sebuah kesetia’an dan juga prinsip.

Hari ini pas aku libur kerja, aku janjian dengan Rendy untuk bertemu. Gugup, grogi pokoknya tidak tenang sekali perasa’anku, karena inilah pertemuan pertama kita setelah 5 bulan menyandang gelar sebagai ‘Pacar’. Dan kebetulan dia baru berapa minggu sampai di Singapore lagi untuk bekerja. Sama halnya dengan aku yang sedang mencari sesuap nasi di negeri singa ini.

Seperti mimpi tapi ini memang nyata. Dia dihadapanku,sungguh dekat. Bagai tak mau waktu itu cepat berlalu. Malah jika boleh memilih, aku ingin waktu berhenti sa’at itu juga. Dimana hanya ada aku dan dia saja.

“kamu mau makan apa Cit?” tiada sautan

“Cit, kamu mau makan apa?” ulang Rendy lagi, sambil fokus melihat-lihat menu makanan tanpa melirik kearahku.

“Cit, Citra” Panggil Rendy lagi lebih keras, sambil melambai-lambaikan tanganya kemukaku. menyadarkan aku dari terus menatapnya.

  “E iya Ren. Ada apa?” Jawabku gugup. seperti orang bego. Mau memukul kepala sendiripun ada.

“Yaelah nglamunin apa si kamu Cit? aku tanya kamu mau makan apa?” Ucapnya dengan nada yang aku tau dia kecewa dengan tingkahku. Aku tau, iyah. Karena aku dapat melihat reaksi dri wajahnya itu.

      “Owh ma’af. Tidak ada ko, makan apa aja deh Ren. Aku permisi mau ke toilet dulu yah!” Pintaku tanpa menghiraukan tatapan Rendy yang tajam, dan terus meninggalkanya sendiri.
Sekeluarnya aku dari toilet, aku melihat Rendy lagi berbicara ditelevon dengan seseorang yang aku sendiri tidak tau dia sedang berbicara sama siapa.

“Iyah, saya segera datang. Iyah,ok.”

Perlahan-lahan aku mendekatinya dan tidak sengaja mendengar percakapan itu walaupun cuma sedikit.

“Televon dari siapa Ren? serius banget kelihatanya.” Tanyaku setelah Rendy mematikan televonya dan kembali duduk dihadapanku.

“Dari Captain.” Jawabnya ringkas.

“Owh”

Kami diam.

      “Ehm Cit, kalo sekarang aku pulang tidak apa-apa kan?” Tanya rendy setelah lama diam. Mungkin dia sedang memikirkan kata yang tepat untuk mengatakan hal itu padaku. Itulah fikirku.

“Sekarang?” aku meminta kepastian akan kata-katanya. BIarpun aku tau itu memang pasti.

Iyah, soalnya Captain minta aku balik sekarang. Katanya ada kerja!”

      “tapi kan kita baru pes..!”

Melihat muka dia yang seperti orang meminta pengertian, akupun tidak jadi melanjutkan kata-kataku dan membiyarkanya menggantung.

“pes.., apa Cit?

      “Nggak ko. Yaudah tidak apa Ren, kamu pulang lah!” Lanjutku lagi mengizinkan Rendy untuk pergi. Padahal dalam hati cuma Tuhan saja yang tau.

“Tapi kamu tidak apa ini Cit?”

“Tidak apa. Udah tenang aja! dan masalah makanan biyar satunya aku bungkus saja nanti” Jawabku lagi dengan memberikan senyuman manis yang kubuat-buat.

“Makasih ya Cit. Yaudah aku pergi dulu, kamu hati-hati nanti pulangnya yah!” Ucapnya sambil mengelus tanganku. Sekaligus membuat adem hatiku yang tadi bergalau ria. Hmmm Cinta, selalu ada saja penahanya.

“Iya Ren. makasih yah buat hari ini!”

“Sama-sama Cit. Bye”

      “bye.” Jawabku lemah.
Seminggu setelah pertemuan kemarin, Rendy menunjukan perubahan sikap kepadaku. Sering berkirim pesan walau hanya sebentar.

  “Pagi Cit. Lagi sibuk apa nih?” sapa Rendy disuatu pagi.

“Pagi juga Ren. Ini biasa sibuk ngurusin dunia he… Kamu sendiri lagi ngapain? sudah sarapan belum?” Jawabku disulami nada canda’an

“ha.ha kerajinan kamu mah Cit, sampai duniapun dipikirin. Aku lagi mau kerja nih. Alkhamdulilah sudah. Kamu sendiri gimana?”

      “abis mikirin kamu mulu bosen si :p. Syukur lah kalau kamu sudah sarapan. Aku belum Ren, paling nanti.” 

      “Oooooowh jadi sekarang sudah bosen nih..,”

      “nggak Ren, becanda aja ko.yaudah ma’af deh!.”

      “haha Iyah tau ko Cit. Yaudah aku mau kerja dulu yah! kamu jangan lupa sarapan nanti! bye Cit. Lv u :*.

  “ihhh nyebelin. Ok Ren, kamu juga hati-hati yah kerjanya! semangat selalu buat kamu! Lv u too :* “

      “he.he ok Cit 🙂 ”

Senang sekali rasanya jika Rendy mempunyai waktu buatku, serasa dia sudah mulai menyayangi dan menerima kehadiranku. Tapi sa’at-sa’at indah itu ternyata tidak berlanjut lama, karena Rendy kembali kesifat cuek dan dinginya lagi. Seolah-olah aku tidak penting buatnya, dan tidak lebih dari seorang yang hanya buat peneman sepinya saja.

Entah benar dia sibuk dengan pekerja’anya atau sengaja menghindar, aku pun tidak tau. Yang pasti aku selalu bertemu soalan tapi tidak pernah ada jawaban.
“Sebenarnya aku penting tidak si buat kamu Ren?” tanyaku disuatu pesan.

  “Astaghfiruallah..,ko nanyanya gitu si Cit, sudah pastilah penting.”

      “Tapi sikapmu tidak menunjukan seperti itu.” Ungkapku lagi.

  “ya kamu kan tau aku sibuk kerja. Pokoknya aku akan selalu mencoba melakukan yang terbaik untuk hubungan kita. Ok”

Itulah yang selalu Rendy katakan setiap aku menanyakan tentang arti hadirku dihidupnya. Meski kadang ragu, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku selalu mengiyakan apapun yang dia ucapkan dan selalu saja menurut. Seperti robot yang sudah diatur automatic.

28 Febuari 2015

Hari ini lagi-lagi Rendy membuat aku kecewa, entah untuk yang keberapa kali aku sudah tidak bisa menghitungnya. Karena yang aku tau pintu ma’af hatiku selalu terbuka untuknya. Meski sebesar apapun kesalahan dia kepadaku! mungkin itu kali yah yang dinamakan CINTA. Walau sering disakiti tapi masih bisa selalu mema’afkan. Seperti halnya aku pada Rendy.

Libur minggu yang biasanya aku pakai buat ngumpul bareng temen-temen, hari ini aku pakai untuk janjian bertemu Rendy. Karena inilah kesempatanku untuk jalan dan ngobrol bersamanya. Dimana Rendy dan aku liburnya jarang bisa barengan, jadi kita tidak bisa selalu bertemu.

Hari itu seharian aku seharian nunggu kabar dari Rendy yang tak kunjung tiba. Kecewa, memang! Marah! entah kata apa yang pantas untuk aku gambarkan perasa’anku sa’at itu. Yang jelas aku menunggu kabarnya. Sampai malam tiba akupun masih setia nunggu kabar darinya yang menghilang bak ditelan bumi.

“Sabar Cit, mungkin dia masih ada kerja”

Ka Ani tetangga rumahku mencoba menenangkanku, karena setelah menunggunya lama di tempat janjian, aku pulang dan main kerumahnya sambil menunggu kabar dari Rendy.

“Gimana aku bisa sabar kak. Kita janjian dari jam 10:45, tapi kakak lihat sekarang jam berapa? jam 19:20 kak.” Jawabku dengan nada yang masih jengkel.

  “Iyah kakak tau, yaudah kamu coba televon dia aja”

Setelah mendengar arahan kak Ani, aku mencoba menelevonya berapa kali, tapi tetep saja tiada jawaban. Akhirnya aku pamit pulang dengan perasa’an yang sulit untuk digambarkan.

Kini jam sudah menunjukan ke 21:35, tapi belum ada kabar juga dari Rendy. Aku memutuskan untuk mandi menghilangkan rasa gerah yang sudah tidak bisa aku tahan, karena dari tadi hanya jalan muter-jalan mall tiada tujuan.

Selesai mandi aku mengirimkan sebuah pesan ke Rendy. Bertanyakan kehilanganya yang secara tiba-tiba sekaligus mengungkapkan kekecewa’anku padanya yang tidak menepati janji.

***

  Kini Pagipun telah tiba, memberikan cahaya kepada sang surya. Membangunkanku dari tidur lena dengan badan yang terasa sakit jika kugerakan. Setelah lama menikmati udara pagi dari jendela kamar. Aku mencoba melihat ke handphoneku yang aku harap akan ada kabar dari Rendy. Tapi hampa.., hanya ada pesan dari teman-teman di Indonesia yang menanyakan kabarku. Walau begitu aku senang, karena setidaknya masih banyak yang peduli padaku.  Meski orang yang aku harapkan, malah sebaliknya.

sudah puas aku membalas semua pesan teman-temanku, akhirnya aku memutuskan untuk bangun dari tempat tidur, dan jogging ditaman komplek. Runitinas yang biasa aku lakukan setiap pagi sebelum melakukan aktifitas.

Dreet,dreet..,

Hapeku bergetar menandakan ada pesan masuk yang ternyata itu dari Rendy.

“Pagi Cit! lagi ngapain? Cit ma’af banget yah untuk masalah kemarin. Sebenarnya aku sudah keluar, tapi Captainku nelevon minta aku untuk balik cepet-cepet ke kapal. Jadi nggak sempet ngabarin kamu.” 

Setelah membaca pesan Rendy, akupun langsung membalasnya. Marah, iyah au memang marah. Malah kalau Rendy ada didepanku saat itu, mungkin sudah lama aku pukulin dia.

“Pagi juga Ren. Ini aku lagi jogging. Tapi setidaknya kemarin kamu kan bisa ngabarin aku sebelum sampai kapal Ren, jadi aku nggak nungguin kamu seharian” Jawabku tidak setuju dengan alasan yang Rendy beri padaku. kalo iya kemarin tidak bisa ngabarin, kan bisa malemnya pas rehat. Emang kamu kerja 24 jam. (Gerutuku sendiri dalam hati.)

“Hape aku simpen ditas, pas sampai kapal tas juga langsung aku taroh di kamar. Dan sekarang aku udah dibatam” Setelah mendengar penjelasan dari Rendy, akhirnya aku memilih untuk mengalah dan mencoba mempercayainya. Didalam hatimah, ah entah lah. Terkadang ak berfikir manusia itu memang tidak luput dari sifat kemunafikan memang.

“ok, lupakan. Aku juga minta ma’af! mungkin kata-kataku sedikit kasar tadi”

      “Iyah, tak apa ko Cit. Sekali lagi ma’afin aku juga yah!” Balasnya lagi sekaligus mengakhiri chatting hari itu.
02 March 2015

Hari ni adalah mensiversary aku sama Rendy yang ke 7 bulan. Seperti bulan-bulan sebelumnya, tiada yang special ataupun ucapan darinya. Karena selalu aku yang mengingatkanya akan hari penting itu.

“happy mensiversary 7 month ya Ren”

Sebuah pesan Kukirim padanya. 1 jam, 2 jam, 3 jam bahkan sampai 1hari dia tidak juga membalas pesanku yang aku lihat cuma tanda reading. Yang berarti dia telah membaca pesanku tapi tidak dibalasnya. Aku mencoba untuk sabar menunggu balesan dari Rendy, “karena mungkin dia masih sibuk.” Itulah yang ada dalam pikiranku.
“Citra!” Sapa seseorang dari belakangku. Suara yang bener-bener aku kenal.

“Eh Bunda, ko disini?” tanyaku dengan nada kaget pada seseorang yang tadi kupanggil Bunda. Tapi beliau bukan ibuku, beliau adalah sahabat kakak iparku cuma usianya memang sudah hampir seperti ibu, jadi aku panggil beliau Bunda.

 “seharusnya Bunda yang tanya sama kamu, kamu ngapain disini? ini bukanya waktu kerja kan??”

      “Iyah Bun. Cuma aku lagi nggak mood, mangkanya jalan-jalan refreshing bentar mumpung boss nggak ada.” Jawabku sambil nyengir garing he.he…

“Senyumnya terpaksa banget, pasti lagi ada masalah ya? ceritalah sama Bunda! siapa tau aja Bunda bisa bantu.” Pinta Bunda yang membuatkan aku langsung diam. Seseorsng yang memang sudah aku anggap seperti Ibuku sendiri. Maklum lah ya, anak yang jarang kumpul sama orang tua sendiri memang lebih manja. Ketimbang merak yang biasa berkumpul bareng keluarga.

“Cit!”

“Rendy Bunda, dia masih dengan sikapnya. Malah sekarang tambah parah. Aku nggak tau harus gimana lagi mengahadapi sikap dia Bun” Ucapku setelah lama diam disertai tangisan. Entahlah, rasanya air mata ini begitu sangat murah setiap mengingatkan lelaki yang tadinya aku ingin menjadikanya yang terakhir dalam hidupku. Tapi agaknya keinginan itu hanya dalam angan saja, mengingat sikapnya yang entah tak entah. Malah aku tidak merasa sekalipun kalau aku punya pacar semenjaknya.

“Kamu yang sabar ya Cit, ini coba’an buat kamu. Tapi menurut Bunda si, kamu cari yang lain aja lah! cowok kaya gitu nggak ada untungnya dipertahanin terus. Dulu dia 3 bulan ngilang nggak ada kabar. Sekarang giliran jarak kalian deket malah selalu buat kamu sedih” Iyah, ikutkan hati memang saja Bun, mencari pengganti. Namun hati ini bukan brang, yang jika bosan lalu bisa ganti.

“Tapi aku sayang banget sama dia Bunda. Hatiku yakin kalo dia akan berubah, aku akan mencobanya terus Bun.”

      “tapi kalau emang dia tidak berubah juga gimana?”

Belum sempat aku menjawab pertanya’an Bunda, tiba-tiba ada seseorang datang mencela obrolan kami yang serta merta menjadi tegang.

“Alah paling juga kamu sayang sama duit Rendy aja kan? secara pelaut.” Ucap kak Susi, mencoba membuatku marah dengan sindiranya yang tak asing lagi buatku.

“Susi kamu itu apa-apa’an si. Citra lagi sedih bukanya ngibur malah dipanas-panasin” Jawab Bunda membela dari pihaku

“Udah Bun, nggak apa-apa.”

      “Bagus banget akting kamu ya Cit. Pura-pura polos konon.” 

      “kalau aku pura-pura polos kenapa? apa masalah kak Susi? cemburu? kasihan banget si” Jawabku hilang sabar dengan menyindir balik.

“kamu tuh yah, kecil-kecil tapi ngomongnya kaya nggak pernah disekolahin.”

      “kan emang aku sudah nggak sekolah. Lag kakak, ngakunya anak marketing tapi suka ikut campur urusan orang. Apa itu lebih nggak memalukan” Hentaku tanpa peduli dengan orang-orang disekitar yang sudah memandang kearah kami.

“kamu yah Cit..,”

      “Udah-udah, kalian itu apa-apa’an si. Ni tempat umum, bukan dihutan. Dan kamu Susi, kamu mendingan pergi sekarang!”

      “Awas kamu ya Cit” Ucap ka Susi sambil menjeling tajam kearahku setelah mendengar teguran dari Bunda dan pergi meninggalkan kita.

 “makasih ya Bun sudah nylametin aku!”

     “iya sama-sama. Sekali-kali Susi itu emang harus dikasih pelajaran, biyar tau rasa dia itu.”

     “Tapi aku tadi nggak sengaja bener Bun berkata kasar ke kak Susi. ma’afin aku ya Bun!” 

     “iya Bunda tau ko. Yaudah Bunda pergi dulu yah! masih ada kerja. Salam aja buat Rendy kalo dia contack kamu nanti.” 

     “Iya Bun, insya Allah nanti aku sampai’in”
jam 13:05.

Tidak terasa waktu makan siangpun tiba, aku kembali mengirimi Rendy pesan. Meski untuk sekedar mengingatkan dia agar jangan sampai lupa makan siang walau sesibuk apapun itu. Sebuah perhatian kecil yang selalu aku coba tunjukan padanya. Dan menyampaikan salam Bunda, tapi lagi-lagi hampa. Rendy tidak membalas pesanku. Hingga bulan menampakan keindahan, pesan dari Rendy belom juga ada. Kesel si pasti! tapi hanya sabar, sabar dan sabar yang bisa aku lakukan. Karena dia kerja dikapal atau yang biasa dipanggil pelaut, aku selalu mengerti jika pelaut itu memang banyak lembur, tapi Rendy itu lemburnya beda dari pelaut-pelaut yang aku kenal dan tau dari teman-temanku.

Seperti dia tidak pernah ada waktu meski cuma semenit dalam sehari sekalipun untukku, hingga untuk membalas pesanku saja tiada waktu. Bahkan semenjak 7 bulan jadian, dia tidak pernah sekalipun menelevonku, Malah aku yang selalu menelevonya. Aku selalu mencoba berfikir positive kepadanya dan tidak pernah meminta apapun diluar batas apa yang aku lihat dia bisa dan mampu lakukan. Lagipun aku bukan tipe cewek yang suka mengekang, karena yang penting “dia bahagia disisiku.” Itulah salah satu prinsip aku dalam mencintai.

Jika ikutkan hati ingin saja nyamperin ketempat kerja Rendy, sekaligus memberi kejutan. Tapi semua itu tidak mungkin, karena tempatnya didaerah mana Rendy bekerjapun, dia tidak pernah memberitauku. Hmmmm.., kasihan banget aku yah!

Seminggupun berlalu..,

Semua pesan yang aku kirim ke Rendy, tiada satupun yang dibalas meskipun dia sudah membacanya. Malah aku lihat dia juga mengganti photo profil media socialnya dengan kucing yang menjelirkan lidah seperti gambar itu ditunjukan padaku.

Aku coba untuk berfikir positive dan menghilangkan semua prasangka negative itu. Tapi kali ini aku gagal. Rasanya seperti dia mengejeku, dan itu membuat aku sakit. Lebih sakit dari sikap tidak peduli dia ke aku selama ini. Tiba-tiba timbul keinginan aku untuk menghubunginya lewat telephone rumah, yang aku yakini pasti Rendy angkat mengangkatnya. Beda jika aku pake nomer hapeku sendiri seperti selalu. Dan ternyata jangka’anku benar, Rendy mengangkat telveonku. Tapi setelah mendengar suaraku, dia jadi seperti orang yang menyebalkan.

    “Hallo, hallo.., siapa disitu? suaramu nggak kedengeran. Shrink nggak ada signal. Hallo, hello.., dan kemudian tut, tut, tut…” Aku mencoba untuk menelevonya lagi, tapi lagi-lagi sama. Televonya mati terputus, tanpa dia memberiku untuk bicara hmmm…
23 April 2015

Pink.pink..,

“Ma’af yah kayanya kita nggak bisa lanjut!” Tulis Rendy disuatu pesan.

 “Kenapa?” tanyaku.

 “Ma’af banget bukanya apa-apa, tapi aku sudah menjalin hubungan dengan yang lain”

Deggg.., bagai berhenti berdetak jantungku membaca kata-katanya itu, lemas, sakit, kecewa. Ah entah lah rasa apa yang pantas aku gambarkan sa’at itu. Cinta yang aku perjuangkan selama ini, ternyata harus berakhir seperti ini. Menyesal? untuk apa. Aku tidak akan menyesali. Bahkan menyalahkan Tuhan pun aku tak berani.

 “Owh.semoga kau bahagia lah denganya!” ikhlas kah aku mengucapkan kata itu? duhai hati ikhlaskan dia! mungkin ini adalah petunjuk dari tuhan akan doa-doamu. Bahwa dia memang bukan yang terbaik. Hatiku meyakinkan

 “Makasih. Buat kamu juga yah! semoga bisa menemukan yang lebih dariku.”

     “Amin..,” jawabku singkat, mengikuti kata-katanya tanpa memanggil nama. Sudah tidak sudinya kah dia kepadaku? hingga untuk memanggil namaku saja tidak mau. Sedihnya hati…

 “Next time sms aja ya kalo ada perlu! Jangan pernah inbox ke Facebook. Karena takut ‘dia’ buka facebooku.” Ah dia ini memang tidak ada perasaan langsung, kalau iya pun sudah dengan yang lain. Jagalah hatiku yang pernah mengisi hari-harinya ini.

“Ok.” Jawabku singkat sekaligus mengakhiri semuanya hari itu tanpa mau berlama-lama Chatting denganya, karena semua itu hanya menambah luka dihatiku.

Sakitku bukan karna menyesal mencintainya, tapi karena aku belum sempat berbagi kebahagia’an denganya. Sedih sebenernya mengenangkan semuanya, tapi sekarang aku sadar, kalau selama ini aku mencintai orang yang salah. Apapun.., setidaknya aku pernah berjuang, meski tak pernah ternilai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s