Uncategorized

Jangan abaikan kisahmu. Tapi nikmatilah! Karena kamu berhak untuk itu.

Pada pagi yang mendung, kuiringi langkah yang tak seberapa ingin ini. Membawa segala nestapa hati pada embusan diri. Kukira hanya aku, tapi ternyata tidak. Ada dia, bahkan mereka yang sama memimpikanya. “Sejujurnya aku hanya ingin bahagia” Iyah, kita semua sama ko. Sama-sama ingin bahagia bagaimanapun itu caranya. Ingin tersenyum seperti apapun bentuknya.

Termasuk juga aku. Mengharapkan cinta pada seorang Insan yang kurindui (Jodoh). Tapi aku adalah wanita yang tergolong pemalu, walau hakekatnya semua orang tau itu bukan sifatku. “Nervous”. Rasanya kata itu memang lebih tepat buatku seseorang yang minder. Eits… Bukan minder karena kurang percaya diri ya, tapi suka terbawa perasaan. Yang tidak bisa jauh dari yang namanya naluri (hati). Kalau aku bilang “nggak berani” rasanya satu kelasku pun akan menertawakanya sambil bilang: “Lalu yang sukanya ngasih usul disaat orang pada diem itu siapa?” “Yang suka bertanya disaat teman-temanya lagi mikir itu siapa?” Ha. ha… Mangkanya aku pakai bahasa lain dari yang lain disini oya 😀

Bahkan mereka yang dekat denganku pun suka memanggilku “Si Manja”. Julukan yang ternyata sedikit banyak telah membuat aku mencatatnya di senarai hidup. Tapi bicara tentang penakut,  sebenarnya hanya saat aku berhadapan dengan dia atau mereka yang aku “segani” saja si. Walhal jika sendirian aku juga punya dunia dan hobiku sendiri. Yang kadang tidak bisa diganggu oleh siapapun. Meski itu Homework yang harus ku kumpulkan besok sekalipun. Seperti hari ini. (Pokoknya mampus lah kalau besok aku bener nggak ngumpulin, apalagi hanya karena alesan sibuk nulis) 😨.

Ah tapi beneran, aku bener-bener lagi pengin nulis. Apalagi mengingat hal kemarin yang aku bis berantem dengan Abangku hanya karena masalah sepele, atau bisa dibilang salah paham. Salah paham yang sepertinya tak pernah jauh dan tak pernah ada kelarnya dari hidupku. Jadi aku memilih menghabiskan hari bebasku ini untuk menulis. Nggak usah heran. Karena memang begitulah kebanyakan orang yang mempunyai hobi menulis. Aku bisa mengamuk pada waktu siang dan menulis pada waktu malam (sendirian). Adakalanya perasaan itu sendiri tidak peduli sama ada aku lagi sedih, marah atau pun gembira. Sebab semua memainkan peranan yang penting dalam sebuah tulisan.

Dan hari ini perasaanku tidak karuan. Aku perlu melampiaskan itu pada sesuatu. Bagi orang yang cergas, mereka mungkin menggunakan tenaga yang hadir dari “perasaan” itu dengan bentuk larian, golf atau tinju. Buat mereka yang banyak uang, mungkin digunakan untuk membeli belah atau berehat di Spa. Namun aku bukan wanita yang cergas dan mewah, jadi aku lebih suka memilih sesuatu yang tidak memerlukan pemborosan uang. Iya karena lagi boke juga si, maklum tanggal tua 😭

Menulis adalah satu-satunya jawaban dari pertanyaan kalian, oh maksudnya dari penjelasanku haha ✌

Bagiku, menulis adalah jawaban bagi segala-galanya pertanyaan-pertanyaan dalam hidup. Menulis  merupakan cara aku menghadapi kesukaran ketika dulu nenekku yang paling dekat dan paling mengertiku pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya. Menjadi penawar ketika “dia” meninggalkanku dengan sebuah harapan hampa. Kegiatan yang menemani aku sewaktu aku mengalami kekeliruan tentang perasaan, juga sahabat ketika orang-orang meminggirkanku. Biarpun diluar sana banyak yang beranggapan bahwa menulis itu adalah aktifis “si pemimpi”, “si penghayal” atau apalah itu yang biasa mereka sebutkan. Tapi mereka tidak tau, bahwa dalam dunia penulisan itu juga dibutuhkan pemikiran dan keuletan. Harus mengingat lakonan yang sudah dibuat, harus mencari ide untuk melengkapi setiap isi cerita. Masih harus tetap tersenyum saat ada teman yang curhat dan pura-pura tegar untuk menasehati. Lalu membuat joke yang kiranya bisa membuat teman kita itu bahagia. Ah begitu banyak yang harusnya kalian mengerti akan sebuah aktifis menulis. Apalagi berbicara tentang wanita. Wanita semakin anda meningkat dewasa. Semakin pedih rasa bila kehidupan jadi huru-hara, namun makin besar juga keinginan untuk tertawa mempersetankan semuanya. Meski begitu, aku yakin bahwa kebahagiaan akan muncul tepat pada masanya. Kalau pun nggak hari ini, mungkin aja esok. Aku yakin itu. Kan ini ceritaku. (Padahal mah lagi ngyakinin diri sendiri si sebenarnya) 😅

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s