about love, aboutsister, Ceritaku, ceritapilu, family, galau

Harapan yang tak pernah mati untuk sebuah cita-cita kini membuatku entah 

Pikiran itu kini datang lagi. Menghampiri diamku. Menyedarkanku dari lena. Aku tak mengerti kenapa aku harus seperti ini sekali. Memikirkan perihal tanggung jawab yang aku pikir itu bukan tugasku. Aku adalah seorang kakak dari seorang Adik, dan seorang Adik dari Kakak-kakakku. Iyah, aku adalah pertengahan dari segelintir orang yang mengeluh tidak mempunyai kakak dan yang bersedih ingin mempunyai seorang Adik. Aku akui, aku memang beruntung dalam hal itu. Mempunyai Abang yang Gokil dan Mba yang penyayang juga Adik yang nurut. “Hidupku sempurna. Tidak ada cacat cela” Itu menurutku. 

Dalam kisah ini. Satu yang tak bisa ku mengerti. “Selalu ingin membahagiakan.” Aku tak mengerti dengan hatiku yang seperti mati-matian memikirkan semuanya. Ingin membuat senang orang tua agar bisa menikmati masa tuanya dengan baik juga masa depan adiku yang aku ingin dia mempunyai “gelar”. Aku memang memikirkan kakak-kakakku juga, tapi pikiran itu sudah lama kutepis melihatkan mereka sudah mempunyai keluarga. Sebab bagiku itu bukan tanggung jawabku. 

Satu Tahun lagi. Iyah, satu tahun lagi adiku akan menyelesaikan sekolah menengahnya. Kini aku bingung apakah dia harus lanjut kuliah atau aku menyuruhnya berhenti dulu lalu cari kerja. Tapi aku juga tidak tega jika harus membiarkannya bekerja. Mengingatkan dia yang tidak mempunyai apa-apa skill. Apalagi mengingat jika dia harus kena omel dari bossnya. Lebay, iyah mungkin aku terlalu lebay dalam hal ini. Memikirkan segala sesuatu yang tidak perlu aku pikirkan. Apalagi dalam hal itu sebenarnya bisa membuat mengerti adiku akan dunia kerja yang memang tidak gampang. Tapi entahlah, aku tidak punya jawaban apapun untuk hal itu.

Jika boleh jujur aku memang ingin dia melanjutkan pendidikanya. Aku tak ingin menangguh. Tapi, bagaimana jika nanti aku menikah lalu tidak bisa selalu “menyuportnya” seperti sekarang? Sedangkan setelah menikah suami adalah Imamku. Seseorang yang harus aku patuhi dan hormati. Bagaimana jika nanti aku mendapatkan suami yang tidak sesuai harapanku? Yang tidak bisa mengerti niatku dan juga memahami kondisiku. (Naudzubillah… Semoga saja si tidak ya Tuhan.) Bukankah itu akan lebih mempersusah diriku dalam melangkah? Aku takut jika mengingat perihal semua itu. Malah untuk membayangkan saja aku tidak berani. Aku tidak tau jalan mana yang harus kupilih. Hingga terkadang aku berfikir tidak ingin menikah dulu demi bisa mencapai semua itu.

Namun, benarkah itu jalanya? 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s