aboutlove, catatan harian, cerita motivasi, Cerpen, inspirasi

Tak Seharusnya Cinta 

Cerita ini bermula begitu saja. Setelah aku memasuki alam yang aku sendiri belum pernah tahu sebelumnya. Seperti berada di Luar Negri tapi dalam lingkungan Muslim. Menjadi bagaian dari sahahat yang sedang menjelajahi dunia perkuliahan itu adalah sesuatu yang membanggakan buatku. Sebenarnya aku sendiri saja bingung kenapa aku bisa berada diantara dunia mereka itu. Dibilang mimpi pun memang aku sudah ada didepan mereka. Sahabatku Mey dan dua orang lelaki yang sebelumnya tak pernah kukenali. Namun diwaktu sekarang aku begitu dekat dengan mereka. Malah kita sempat bercanda sebelum memasuki kelas masing-masing. Sesuatu yang sepertinya sudah biasa kulakukan dengan mereka. Dari pakaianya si memang biasa seperti orang-orang yang sama kutemui didalam dunia perkuliahan. Cuma yang membuat beda adalah watak dan sifat mereka yang begitu kalem juga menyenangkan. Panggil saja namanya Fikri dan Ijad

Dalam kebersamaan itu sepertinya aku menaruh hati pada Ijad tanpa siapapun yang tahu. Sebab aku sendiri pun bingung dengan perasaan yang terkadang hanya membuatku jadi pendiem saat dia gabung didalam “group”.

“Udah, biarin aja Ra. Itukan tugas gue.” Itu adalah nada biasa yang akan aku dapat dari Mey setiap aku menghulurkan bantuan kepadanya yang memang sudah menjadi tugas senggang Mey di perpustakaan. “Memang tugas loe, tapi gue juga sahabat loe.” “Ha iyalah iyah. Gue kalah. Yaudah itu loe ambil keranjang buku itu terus kasihkan ke gue.” Pinta Mey akur dengan kataku. “Siap madam” Ucapku dengan tangan yang lagaknya seperti prajurit TNI memberi hormat pada ketuanya. Kemudianya kita berdua tertawa bersama dalam ruang perpustakaan yang sudah tidak berbentuk itu. Dibalik rak buku yang letaknya tidak seberapa jauh itu, ternyata ada seseorang yang sedang memperhatikanku dengan Mey. Setiap gelak tawa dan juga raut wajah kita.

Dikantin

“Eh, hari ini ada ulangan ya?” Tanyaku pada Mey, Fikri dan Ijad

“Nggak ada lah. Kan bulan depan katanya.” Kudengar Mey menjawab. Namun mataku masih tertuju pada “dia” yang meski dalam keadaan ramai seperti itu pun masih mampu membuatku beku. Sementara Fikri pula sibuk dengan buku dan pulpenya. “Mungkin sedang mengerjakan tugas” gumamku.

“Fik, disuruh ke Office sama Pak Rahmat.”

“Ok.” Jawab Fikri sebaik suara itu hilang.

“Gue tinggal dulu guys. Nitip yah!” Ucapnya tanpa menunggu lama. Kamipun serentak mengangguk. 

Setelah kelibat Fikri sudah tiada, aku membuka buku yang ia tinggal sebentar tadi. Bukan untuk mencontek atau apa. Tapi entahlah, rasanya ingin saja aku membuka buku itu. Apalagi dengan keadaan yang memang mendukung. Mey dan Ijad sibuk dengan bukunya masing-masing.

Aku meneliti setiap tulisan-tulisan yang ada didalamnya. Membaca dan terus membaca. Meski aku sendiri juga tidak tahu apa yang Fikri tulis memandangkan jurusan kita yang berbeda. Tapi aku lihat jawabanya begitu bagus dan memuaskan. “Mungkin ini tugas yang dia bilang tadi ya. Kalau gue mana mungkin bisa.” Tergeleng-geleng aku dibuatnya. Rasa kagum pun tiba-tiba datang menyeliputi diri. 

Setelah menunggu setengah jam, barulah Fikri keluar dari Office dan berjalan kearah kami yang sememangnya sudah ingin meninggalkan tempat itu sedari tadi. Tapi memandangkan buku dan tas Rifki masih bersama, aku meminta Mey untuk menunggu. Sementara Ijad sudah entah hilang kemana.

“Ayo pergi.” Pinta Mey yang sudah tidak sabar- sabar ingin pergi. Sebaik saja kelibat Fikri hampir sampai. “Ok.” Jawabku singkat.

“Tulisan kamu bagus. Apalagi jawabanya, aku kagum” ucapku pada Fikri dan membelai rambutnya. Entah tindakan apa, tiba-tiba aku juga “bersikap manja” denganya. Sekaligus meninggalkanya seorang diri yang sudah berjingkrak-jingkrak layaknya orang yang menang undian.

Minimarket

“Loe mau beli apa Mey?”

“Nggak tahu nih, bingung. Uang gue tinggal dikit.” Keluhnya. 

“Sama Mey. Nasib Mahasiswi yang memang tidak bisa dielakan”

“Tajir saat dapet kiriman saja.” Ucapku bersamaan dengan Mey, kamipun serentak tertawa. Ha. Ha….

“Nih Bude bawain bekal.” Entah dari mana asalnya, Bude Asih sudah dibelakang kita dengan mencangking 2beg plastik yang aku pikir itu pasti berat. Kemudian kita memustuskan untuk pergi kebelakang untuk berehat.

 “Kamu itu kan udah dibilangin, kalau butuh apa-apa call Bude. Jangan diem-diem saja.” Bebel Bude Asih pada Mey yang sudah duduk mematung. Aku yang memang tahu mereka ada sesuatu, lekas pamit untuk keluar karena tidak mau ikut campur. 

Aku duduk dianjungan samping Masjid Pesantren. Sambil memerhati orang-orang yang berjalan kedestinasi masing-masing. Dalam kerumunan orang banyak, aku lihat Fikri sedang berjalan menuju kearahku. Tanpa lengah, dia langsung duduk disampingku.

“Ra, gue mau ngomong sesuatu sama loe.” Ucapnya gugup.

“Ngomong aja Fik. Kaya nggak biasanya aja” jawabku dengan mata yang masih memerhati orang-orang sekitar. 

“Iya memang ini nggak biasa Ra.”

“Apa dia?” Jawabku lagi yang sudah tidak memandang kearah lain, melainkan tepat kearah Fikri.

Fikri lekas bangun dan dia mengatakan sesuatu yang tak pernah kuduga sebelumnya. Iyah, dia menembakku, entah aku harus bersikap apa saat itu. Aku bingung. Fikri memang baik, dia juga mempunyai paras yang tidak kalah dari Ijad. Tapi aku kan sukanya sama hmmm kenapa semua jadi seperti ini.

“Emang sejak dari kapan loe suka sama gue Fik?” Tanyaku yang membuatnya tersenyum Manis. Senyum yang memang mampu membuat siapapun klepek-klepek wkwkwk ayam kali ya 😁

“Dari lama Ra. Cuma gue nggak mampu untuk bilang ke Elo.” Jawabnya dengan tatapan yang susah untukku terjemahkan hmmm

“Owh…” Angguku disulami soalan. “Emang apa yang loe suka dari gue?”

“Kecerian loe, sifat loe yang suka menolong. Iya pokoknya banyak lah.” 

“Berarti selama ini loe merhatiin gue yah.” Jawabku dengan nada gurau. Kami pun sama-sama tertawa.

“Jadi gimana Ra?” Tanyanya setelah lama kami mendiamkan diri. 

Tapi belum sempet aku menjawab kemudian Mey datang dengan wajah yang aku juga bingung bagaimana untuk mendeskripsikan. Yang jelas wajah itu membuatku berpandangan dengan Fikri sesama sendiri. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s