aboutlove, catatan harian, cerita motivasi, Cerpen, inspirasi

Tak Seharusnya Cinta (Part2)

Mey memandang kearahku dengan mata yang berkaca-kaca. Membuatkan hatiku dirundung sayu yang tak sedikit. Setelah lama kami saling diam, aku beranikan diri untuk bertanya pada Mey yang kutahu sedang ada masalah itu. 

“Loe kenapa Mey?”

“Gue, gue. Hix..,hix..,” Mey memelukku dengan esakan sebelum sempat berkata-kata. Bertambah heran aku dibuatnya. Fikri yang tahu jika keadaan saat itu tidak baik memilih untuk diam dan menggangguk saja setelah aku isyaratkan dia untuk pergi.

Besoknya setelah semalaman Mey menangis aku mencoba mendekatinya untuk bertanya lebih lanjut sebab musabab dia menangis sampai segitunya kemarin. Bukan hendak kepo juga, cuma rasanya disaat orang yang kita sayang dirundung kesedihan yang mendalam kita sebagai sahabat tidak mungkin akan tinggal diam bukan.

“Mey!” Panggilku saat Mey sedang melamun diteras rumah.

“Hmm” Ucapnya singkat.

“Loe okey? “ Tanyaku teragak-agak.

“Loe pasti mau tanya kenapa aku menangis kan Ra?” Ucapnya yang membuatku diam. Bagi membenarkan kata-katanya.

“Gue dijodohkan sama Ijad, Ra” Entah kaget atau apa, yang jelas tanpa kusadari mataku terjegil dan mulutku melopong. Kaget mau teriak pun ada. Tapi aku cepat-cepat menutup mulutku dari pengetahuan Mey.

“Bude kemarin kesini mau ngomongin itu sama Gue Ra. Puas gue nolak, semakin dimarahin saja gue. Gue nggak tahu harus gimana Ra. Seperti yang loe tahu, Gue, loe, Fikri dan Ijad kan sahabatan sudah sangat lama. Mana mungkin Kan?” Jelas Mey panjang lebar diakhiri dengan tanya yang aku sendiri bingung bagaimana untuk menjawab. Sudahnya aku memilih diam mematung saja.

Dikampus

Udara hari ini seperti mengerti saja dengan perasaanku dan sahabat-sahabatku. Yang sedang gundah lagi gelisah tak beraturan hmmm keluh kami berempat. Seperti sudah diatur saja lagaknya. Tapi biar bagaimanapun yang lebih merimaskanku adalah tatapan Fikri yang sekali- kala membuatku tak menentu. “Ah hati… Ini bukan waktu yang tepat. Tangguhkan saja dulu ya! Sebab ada masalah yang lebih penting dari itu.” Ucapku pada diri sendiri bagi menenangkan hati yang entah.

“Jadi bagaimana?” Ijad mulai bersuara. Dengan pandangan diarahkan kami satu persatu.

“Gimana apanya?” Tanyaku bodoh. Yang membuat Mey melirik kearahku.

“Ok. Sorry.” Ucapku bagi menenangkan hati yang sedang bercelaru itu. Fuhhh…..

“Apa mungkin terima saja rancangan keluarga kita Mey? Gue buntu sudah.” Ijad berkata kasar dengan keluhan yang entah sudah berapa kali dia lakukan.

“Gila apa Jad. Gue tuh nggak pernah suka sama loe. Gimana kita mau menikah jika tiada perasaan.” Ucap Mey marah. Sementara aku sama Fikri hanya diam tiada yang menyampuk. Rasanya biarlah mereka berdua saja yang terlibat dulu, jika sudah bosan, barulah aku akan turut campur. Aku mencoba menegosiasi dengan pikiranku yang ikut-ikutan berdenyut-denyut dengan masalah mereka.

“Gue nggak mau. Dan nggak akan pernah mau.” Bentak Mey tiba-tiba dan berlalu pergi meninggalkan kita semua yang masih terpinga-pinga dengan sikapnya sebentar tadi. Orang-orang disekililing juga sudah mencebir kearah kita dengan berbagai macam pandangan. Aku hanya membalas sekilas dengan senyuman bagi menidakan tanggapan negative mereka yang selalunya hanya menjudge sesuatu dari apa yang mereka lihat saja. “Manusia” gerutuku.

Setelah lama aku menunggu kini semua terjawab sudah kenapa Mey begitu menentang perjodohan itu. Fikri juga sudah jarang menghubungiku. Seperti menghindar saja dari setiap apapun yang menjerumuskan tentangku.

2Minggu yang lalu

“Loe nggak usah pura- pura deh Ra, loe pikir loe pintar sangat menyembunyikan semua dari gue” Ucap Mey yang membuatku bla, bla seperti sotong kelaparan. 

“Loe suka kan sama Ijad dari dulu. Loe pikir gue nggak tahu.” Aku kaget. Dari mana Mey tahu, selama ini kan aku hanya menyimpan seorang diri. Kalau tidak pun Hanya Tuhan saja yang tahu tentang ini.

“Loe pasti bingung Kan, kenapa gue bisa tahu. Loe mungkin lupa Ra, kita sahabatan dari kapan dan berapa lama. Loe mungkin bisa nyembunyiin dari Ijad, Fikri dan yang lain. Tapi nggak dari gue Ra. Kenapa Ra? Kenapa? Kenapa loe mau ngorbanin perasaan loe buat gue?” Mataku panas, hatiku juga. Badanku pun rasanya seperti tidak bertulang. Lemah tidak berdaya. Rasanya ingin rebah saja. Bagaimana aku mau menjelaskan. Sementara aku sendiri saja bingung Mey. Ucapku sendiri.

“Loe tega sama gue tau nggak Ra. Loe bilang kita sahabat, apa ini yang disebut sahabat.” Aku sudah entah. Kata-kata Mey menusuk kerelung hatiku. Rasanya aku seperti terhimpit dari dua benua yang bila-bila saja mampu melemaskanku.

“Maafin gue Mey.” Ucapku singkat dengan tangisan yang sudah tak mampu kutahan. 

Disebalik pintu, ternyata Fikri telah mendengar semua. Sebelum dia berniat ingin menjemputku nonton malam itu. Tapi sebab mendengar suara Mey yang keras dia memilih untuk mendengar saja dari sebalik pintu. Hingga pada akhirnya dia mendapat jawaban untuk sifatku yang masih endah tak endah setiap dia berbicara soal perasaanya. “Kenapa Ra? Kenapa?” Ucap Fikri dengan rasa kesal yang tak sedikit.

Setelah kejadian itu kini semua berubah. Tidak ada ucapan selamat pagi ataupun sapaan manis dari Fikri. Hatiku seperti kehilangan sesuatu. Biarpun selama ini aku tidak pernah mengatakan apa-apa dari hari dimana Fikri mengatakan perasaanya. Tapi rasa sunyi hadir juga saat dia menyepi. Mey pula sudah tak pernah mau diajak jalan bareng lagi. Setiap aku memintanya berangkat ke kampus bareng juga ada saja alasan yang akan aku dapet.

“Akukah yang bersalah?” Tanyaku pada diri sendiri. 
Ulang Tahunku

Tepat dihari ulang tahunku. Rasanya tidak ada yang special. Semua tidak sama dan sudah berbeda. Sahabat-sahabat telah meninggalkanku sendiri dengan kesepian ini. Rasa kesal pada diri sendiri pun ada karena tak pernah mencoba menjelaskan kedudukan yang sebenar dari diam yang hanya membuat semua menjadi tidak tentu arah ini “hmmm aku memang bodoh.” Keluhku yang kemudian dikejutkan suara seseorang yang kurindukan berminggu-minggu ini.

“Baru tahu ya kalau loe bodoh Ra.” Ucap Mey yang entah dari mana datangnya. 

“Mey” panggilku lembut.

“Loe tiup lilin mau sendirian gitu. Bagus yah.” Ucapnya lagi dengan nada marah yang aku tahu itu dibuat-buat.

“Iya nih, tega loe Ra. Sudah lupain kita semua.” Tiba-tiba Fikri menyapuk. Dengan tangan yang aku lihat sudah meneteng sebuah kado. Ijad juga tidak ketinggalanya memapah sebuah kue yang sudah ada lilin bertuliskan 24 disana. Aku terharu. Mau menangis pun ada. Speechless lah kalau kata orang bule mah he. he…

“Udah jangan cengeng. Tiup dong lilinya sekarang Ra.” Ucap Mey yang sudah mengambil alih kue dari tangan Ijad. Disertai nyanyian dan tepukan dari mereka aku pun make a wish dan meniup lilinya dengan cepat. Ah rasanya seperti mimpi saja. Sebab semua terjadi terasa begitu sangat pantas. Malam itu menjadi malam yang paling bersejarah dalam hidupku. Setelah semuanya terungkap. Perangkap Mey dan Ijad juga ide Fikri yang membuatkanku hampir menumbuk 2lelaki itu. Mey juga tidak habisnya aku cubitin. Tapi apapun alasan mereka aku tetap bahagia. Malah membenci jauh sekali dari hati. Yang jelas aku sayangkan mereka sangat-sangat. Tidak taulah apa jadi kalau hidupku tanpa mereka agaknya.

Setelah Mey dan Ijad pamit untuk berehat, Fikri mendekatiku untuk kesekian kali. Namun kali ini tidak dengan menutupiku dari sinar mentari. Dia seperti Pangeran yang sedang ingin mempersunting permaisuri. Lebay aja ya bunyinya ha.ha…

“Ra, gue tahu dari minggu-minggu kemarin emang kita sengaja ngerjain loe. Tapi apa yang gue katakan waktu itu, itu bukan gurauan. Itu benar adanya.”

Diam

“Gue beneran suka sama loe Ra. Loe mau kan jadi yang terakhir buat gue?” Ucap Fikri lagi. Aku hanya diam, entah mau ngomong apa. Kalau ikutkan perasaan yang sedia ada, memang tidak nafikan aku sudah mulai untuk mencintainya. Tapi….

“Ehm, ehm…” Aku dan Fikri serentak menoleh kearah suara yang membuat kami kalam kabut. Dengarkah mereka dengan apa yang Fikri ucapkan barusan? 

 “Owh jadi gini ya kalian dibelakang kami.” Sah. Mereka memang dengar. Aduh, Apa tanggapan Ijad nanti Ya? Rasanya jika aku bisa berenang,  mau saja nyebur ke kolam renang bagi mengelak dari mereka. Tapi ah, kita ini sahabatan. Tidak mungkin mereka akan menyebelahi janji kepercayaan yang pernah kami 4sahabat ucapkan dulu hanya karena ini. Aku coba menentramkan hati sendiri.

“Kenapa pada diem? Takut? Apa bingung? Kalian dah seperti cicak kepanasan tahu nggak ha.ha” Ucap Mey dengan tawa yang membuatku malu + kesal. Tapi belum sempat aku melangkah, Ijad datang memandangku tanpa berkedip. Pandangan yang tak pernah kulihat sebelumnya. “Oh Ijad, maafkan aku.”  Rintihku.

“Jadi jadianlah ini kalian?” Aku berpandangan sesama sendiri dengan Fikri. Mengangguk tidak, menggeleng pun tidak. Sementara Ijad pula seperti menanti jawaban dariku dengan raut wajah seribu soalan yang sulit untuk kujelaskan. “Kenapa dengan Ijad sebenarnya?” Tanyaku sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s