aboutlove, Cerpen

Inikah Bahgia?

Siang itu cuaca begitu panas aku rasa, membuka setiap sendi pori-pori dalam tungkupanya hingga tetes demi tetes keringatku mulai bercucuran keluar dengan sendirinya. Orang dibelakangku pula sudah menggerutu membebel tidak karuan. Melihat maskaranya luntur membuat aku ingin tertawa, karena hampir seperti setan-setan yang selalu aku lihat di tivi-tivi hi hi… bukankah itu menakutkan? Tapi yup, sudah-sudah lah ya bikin dosa dari kesedihan orang lain. Tidak mau terlalu mengikut perasaan, aku menutup mulutku seketika. Takut juga nanti jika dia perasaan yang aku tertawakan. Mati kutu nanti aku dibuatnya 😑
Setelah lama menunggu, bas yang aku tunggu akhirnya datang juga. Mengantarkan aku ketempat dimana seharusnya aku datangi, itulah rutinitasku setiap siang tanpa melihat cuaca panas, hujan ataupun berangin.
     “Fuhhhh… Akhirnya bisa ngadem juga” Ucapku, sambil menikmati ac yang sudah memberi kenyamanan pada setiap anggota tubuhku.

Kini 10 menit pun berlalu, dan aku sudah berada ditempat tujuanku. Tidak lama aku juga melihat Kak Yen berjalan kearah yang sama. Kak Yen temanku yang dulu pernah memperkenalkan aku sama Azi. Azi orang yang (nanti aku critain deh ya. Kali ini aku skip dulu 😆). Dari gerak-geriknya Kak Yen seperti ingin menghindar dariku. Aku berlari mencoba menghampirinya walau hanya untuk bertanya kabar. Sekaligus ingin memberitahukan padanya bahwa aku sama sekali tidak marah kepadanya. Ups, sudah mulai kepokok cerita aku ya haha ok, tak apa deh. Cukuplah dengan apa yang sudah terjadi, karena mau dihindari seperti manapun semuanya memang sudah terjadi. Kenapa tidak kita bersama-sama nikmati hari yang indah ini dengan ketenangan, kan? Lagipun disana kita itu sama. Disini pun seperti itu juga. Sama. Sama-sama manusia 😉
Jujur aku tidak suka dengan keadaan seperti itu, malah kalau bisa hal-hal seperti itulah yang mau aku hindari dengan siapapun. Cuek, dingin, acuh ah apalah itu pokoknya…
     “Kak!”

     “E.e hai” jawabnya gugup.

     “Kakak apa kabar? Lama nggak jumpa.” Tanyaku lembut.

     “Alkhamdulilah baik. Kamu gimana?”

     “Seperti yang kakak lihat sekarang” Aku berkata tenang. Sengaja biar kak Yen tahu yang aku ini memang sudah melupakan semuanya. Malah aku juga sudah bisa melupakan Azi sepenuhnya Insya Allah. Berbicara soal Azi, dulu dia adalah satu-satunya orang yang aku kasihi. Apapun yang berhubungan dengan dia, aku akan mencoba sedaya upayaku untuk memberikan yang terbaik. Sebelum pada akhirnya, “mimpi buruk” datang malam itu. Tapi ah ya sudahlah, toh itu semua hanya tinggal cerita. Cerita yang tak mau kuungkit lagi. Lagipun sudah sebulan lebih dia tidak ada kabar. Tapi itu semua tidak penting sebenarnya, karena aku sudah tidak mau ambil peduli semua tentangnya lagi. Sebab bagiku dia hanya seorang teman, dan tidak akan pernah menjadi lebih, lagi.

     “Minggu besok kalau ada time kita makan mie ayam di tempat biasa ayo kak! Disana katanya ada menu mie ayam baru lho” Ajaku setelah lama kami diam.

     “Oh ehm boleh. Nanti malam kakak von kamu deh ya, soalnya sekarang kakak harus pergi dulu”

     “Ok kak. Janji ya ntar malam ” 

     “Iyah”

***
Minggu yang seperti biasa selesai kelas, kini aku menuju ke waktu kosong yang coba untuk aku penuhi dengan agenda-agenda baru, dan pastinya untuk berjalan-jalan dengan teman-teman menikmati hari libur.
Melihat sekeliling kereta api membuat aku teringatkan kenangan bersama Azi, apalagi melihat pasangan yang sedang bercanda disampingku, itu hanya membuatku baper hmmm… Lama aku melayan perasaan, tiba-tiba hape di dalam tasku bergetar menandakan ada seseorang yang menelvonku. Aku pun langsung mengangkat televon itu tanpa melihat dari siapa.

   

     “Hallo Assalamualaikum…”

     “Waalaikumsalam wrt. Wrb…”

Aku diam, mencoba mengingati suara yang berada dihujung televon. Namun otaku tidak bisa menerawang jauh untuk mengira-ngira.

     “Apa kabar?” Tanyanya. Namun aku masih diam.

     “Saya kangen sama Sayang” Sah! Memang tidak salah lagi, ini dia. Azi. Tapi kenapa dia memanggilku Sayang, sudah buang tabiat ke dia ini. Marahku dalam hati.

     “Hmmm…” Hanya itu yang keluar dari bibirku.

Aku mendengar Azi juga mengeluh sebaik menerima jawabanku yang endah tak endah itu.

     “Apa kabar?” Tanyaku balik, setelah menunggu lama Azi tidak bersuara.

     “Buruk. Buruk sekali.” Aku diam lagi. Rasanya males untuk melayani sikapnya itu. Ikutkan hati memang mau saja aku mematikan televon itu, tapi memikirkan yang itu khilafku tanpa melihat nama sipenelepon tadi, aku memilih tidak mau banyak bicara. Biarlah dia dengan egonya, dan aku akan tetap dengan prinsipku. ‘He’s only my past’

     

     “Kita ketemu yah! Aku tau Sayang keluar hari ini” Hatiku merasa ditusuk sekali lagi, dia fikir aku ini wanita apa, tidak punya perasaan? Bodoh? Atau dungu?  Ah sedihnya hati, jika mengingatkan nasib diri. Taulah yang aku ini mudah memaafkan, tapi janganlah di sakiti terus-menerus. 

     “Sorry saya sibuk”

Menangis, iyah! Aku menangis disela-sela kerumuan penumpang kereta api itu setelah mematikan televonya. Menangisi semuanya, menangisi dia yang sama sekali tidak pernah bisa mau menjaga perasaanku sampai sekarang ini. Padahal sebulan kemarin dia sudah tidak ada kabar membuat aku lebih tenang, lebih bisa bernafas lega. Tapi kini dia hadir dengan sikap egonya lagi. Teringat yang semalam aku mendapat sms dari kak Yen, aku pun langsung membukanya.
           “Azi semalam meminta nomer Adik pada Akak. Maafkan Akak selali lagi”
Aku mengeluh…

Entah untuk yang keberapa kalinya pun aku sudah tidak dapat menghitungnya lagi. Yang jelas, rasa percaya sudah hilang dari hatiku untuk siapapun. Terkecuali kepercayaanku kepada Tuhan Yang Satu.
     “Hai Nad!”

     “Hai juga Mas”

     “Lagi ngapain?

     “Lagi biasa ini ngurusin tugas dunia”

     “Sibuk yah?”

     “Dikit, kenapa Mas?

     “Nggak apa-apa. Yaudah, kamu lanjutin dulu.”

     “Ok.”

Mas Fikri, iyah! Dialah lelaki yang sampai saat ini masih menjadi teman baikku. Bahkan dia juga tau semua kisah percintaanku, karena dialah teman curhatku selama ini. Meski dulu dia pernah mengatakan yang dia menyukaiku,  tapi aku anggap itu hanya perasaan seorang teman kesahabatnya, tidak lebih.

Dan aku harap, aku bisa selalu menjaga hubungan itu tanpa harus menyakiti. Walaupun ada yang harus tersakiti, biarlah aku yang menjadi. Asal jangan orang-orang disekitarku. Hmmm jauhnya aku melamun…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s