dunia ibu, Ibu dan anak, sifat dan karakter

Yang Harus Semua Anak Tahu Dan Mengerti

Dalam perihal rumah tangga, jujur aku tidak tau apa-apa masalah didalamnya. Karena aku sendiri belum pernah menjejaki dunia yang kata orang-orang adalah dunia yang penuh dengan berbagai cerita. Tapi sebagai seorang anak, kakak dan seseorang yang pernah bekerja menjadi Baby Sister juga sahabat dari orang yang membesarkan anak-anaknya seorang diri, sering kali aku temukan perkara-perkara yang tidak aku habis fikir dalam kekeluargaan rumah tangga. Apalagi dengan posisiku yang belum menikah. Terkadang membuat aku bertanya-tanya; “serumit dan sesusah itukah berumah tangga?” Malah terkadang juga membuatku takut untuk menikah. Tapi aku juga sadar, menikah itu adalah kewajiban. Kewajiban yang memang sudah seharusnya aku lakukan jika memang mampu. Lagipun selama ini aku juga coba untuk mempelajari kalau perkembangan anak itu bukan hanya tergantung didikan dari orang tua saja melainkan lingkungan dan pergaulanya juga.
Seperti ada dulu seorang teman bertanya pada saya; “kalau ibunya bawel, anaknya juga pasti akan ikut bawel bukan?” 

Iyah, seperti yang kita ketahui juga bahwa ada pepatah yang mengatakan; daun yang jatoh takan pernah jauh dari pohonya. Pepatah ini begitu sangat menyentuh kan dipendengaran. Pepatah yang simple tapi mempunyai makna yang begitu dalam. Pepatah itu mengartikan yang sifat/wajah seorang anak pasti akan mewarisi dari kedua orang tuanya. Tapi dalam setiap perkara yang saya lihat, jika seorang Ibu mempunyai sifat bawel atau mempunyai wajah jelek, itu belum tentu sianak juga sama. Sebab dia masih mempunyai Ayah dan keluarga dengan aliran darah yang sama. Mungkin saja sianak akan mempunyai sifat pendiem ngikut sang Ayah (kalau memang iyah si Ayah pendiem) atau mempunyai wajah yang menawan. Tapi memang takan dinafikan kalau sianak sedikit-sedikit pasti akan mewarisi sifat, karakter dan wajah dari kedua orang tua. Mau itu hal yang baik atau hal buruk sekalipun.

Tapi sifat dan kelakuan anak juga biasanya terbentuk bukan hanya dari keturunan. Karena pada dasarnya, pergaulan dan lingkungan itu juga mempengaruhi. Jadi kalaupun iya memang sianak mempunyai sifat nakal , belum tentu itu karena ajaran keluarga. Bisa saja dari pergaulanya. (Saya tidak bilang kalau teman2nya tidak bagus disini, tidak). Sebab saat sianak berkembang, dia akan menemukan hal2 baru yang tidak pernah dia temukan dirumah. Dan anak yang baru tumbuh besar biasanya suka untuk mencoba sesuatu yang baru. Sesuatu yang bakal siapapun orang yang mempunyai sifat “kadang2” šŸ˜† akan berfikir dia itu “tidak bagus” karena dia tidak akan bisa diam. Bergerak kesana kemari, itu sebenarnya wajar saja. Tapi ada juga yang akan berfikir dia lucu dan gemesin. Bagi mereka yang suka anak kecil atau memang sudah ahli dalam hal ini.
Persepsi orang memang berbeda-beda. Tapi sebagaimanapun orang tua semua pasti inginkan yang terbaik untuk anak2nya. Cuma terkadang caranya saja yang berbeda2 dalam menunjukan ataupun menyampaikan. Dalam hal ini, kembali pada sang anak. Bagaimana dia mau menangkap dan mencoba mengerti semua kelakuan baik orang tua ataupun orang lain terhadapnya. Karena bagi saya pribadi, dia tidak bisa selalu menggunakan sifat yang memang sudah semula jadi pada dirinya sendiri.

Seperti contoh; dia mempunyai sifat manja. Apa2 yang dia minta dikasih dan diturutin sama orang tua tanpa terkecuali. Karena baginya yang penting sianak senang. Dalam hal ini saya juga sebenernya tidak setuju, yang dengan memanjakan dia itu akan membuat senang. Iya memang sekarang dia senang, tapi 10tahun kemudian, siapa yang mau jamin sifat itu akan membuatnya senang. No ones. Alih2 dia malah menderita, karena tidak bisa berbuat ini itu sendiri. Kan kasihan.)
Apalagi setelah waktunya dia harus mengenal dunia kerja, dia nggak bisa selalu berfikir yang dia bisa mendapatkan pelayanan Seperti itu juga ditempat kerjanya nanti. Karena dia bekerja, menjalankan tugas yang penuh dengan sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab yang terkadang akan mengorbankan banyak waktu bahkan juga bisa kesenanganya sendiri. A choice, disinilah dia harus memilih. Mau melangkah dengan berubah ataukah berundur karena takut.
Dari beberapa hal diatas dapat disimpulkan bahwa; perkembangan anak itu butuh sosok yang mengarahkan. Yang mengerti, yang memahami. Sosok yang wonderfull dan wonderwomen (A hero for the child).

Dan dari ini juga sudah saatnya kita harus lebih mengerti, bahwa tugas seorang suami yang membanting tulang siang malam itu tidak ada apa2nya ketimbang tugasan seorang Ibu.
Tidak mudah untuk menjadi seorang Ibu, apalagi jika lingkungan keluarganya ada dalam banyak perbedaan. Tidak akan pernah habis dia untuk berfikir siang dan malam untuk memikirkan masa depan si anak. Tidak akan pernah lelah dia untuk tidak tidur semalaman untuk memastikan sianak baik-baik saja. Tidak akan pernah tidak dia (Ibu) tega melihat anaknya menangis, meski itu disebabkan kekhilafanya sendiri. Karena kalian tahu, sebesar, seberani dan sesukses apapun seorang anak. Dimata Ibu, sianak tetap sikecil kesayanganya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s