Ceritaku, dairy, hujan, My Journal

Segala Rasa (Memory Waktu Itu)

Bukan cerita cinta, bukan juga cerita asmara. Cerita ini biasa saja. Datar dan penuh kosa kata. Kata yang menggambar kebersamaan hingga kularut di dalamnya.


​Tepatnya malam jumat. Saat aku pertama kalinya nongkrong di kafe dengan keponakanku. Aku memang tidak terlalu beruntung dalam pergaulan. Yang seperti anak-anak sekarang bisa keluar malam dan nongkrong di tempat-tempat yang mereka mahu. Iya biarpun dengan status mereka yang masih minta uang sama orang tua. Tapi rasanya itu bisa buat cerita seru untuk anak-anaknya kelak. Dan jujur aku iri akan hal itu.

Malam itu gerimis membasahi sekujur badanku Yang hanya beralaskan blous biru dengan daleman hitam dan celana hitam yang sedari siang aku pakai. Agaknya baunya seperti apa pun aku sendiri sudah tidak tahu. Syukur-syukur tidak pingsan saja orang yang siapapun berada disebelahku 😃

Malam itu adalah terakhir aku menikmati hari libur. Hari libur dengan keluarga yang hanya bisa kukecapi sekali-sekalanya saja karena tuntutan kerja. Ia bilang saja aku anak rantaulah gampangnya. Aku mampir ke super market untuk membeli barang-barang yang harus kubawa. Sekaligus oleh-oleh untukku bagikan pada temen-teman dan bossku. Saat itu aku bersama ponakanku Rani yang kebeneran hanya dia yang bisa naik motor. Jujur aku sudah lama nggak pakai motor, jadi nggak berani ngendarain sendiri. Apalagi aku juga masih trauma dengan masa lalu. Tapi aku nggak akan menceritakan disini. Nanti yang ada nggak habis-habis.

Puas aku muter-muter mencari barang yang dicari akhirnya semua terkumpul juga. Aku cepat-cepat ke kasir untuk membayar semua belanjaan takut Rani nanti kelamaan nunggu diluar.

“Nte, kita ngangetin badan dulu yuk! Hujan juga makin besar aja ini” Rani menegurku sebaik saja aku keluar dari super market dengan raut muka yang tidak jauh beda denganku yang sedang manahan dingin sedari tadi. “Ok. Kamu tahu tempat minum malam yang enak?” Tanyaku kepadanya setelah selesai membayar uang parkir. “Tahu. Tante ikut aja ya!” Jawabnya. Lalu aku hanya mengangguk dan segera membonceng motorcycle yang Ia kendarai.

Dijalan, angin dingin disertai tepisan-tepisan hujan mulai jatuh lebih lebat. Yang membuatkan aku ngincup dibalik badan Rani yang terbilang besar. “Nte!” Rani memanggilku lemah. Mungkin udara dingin telah mencucuk sampai ke rusuknya. (Pikirku) “Ada apa Ran? Kamu kedinginan?” Tanyaku. “Dikit Te. Ta…” Belum sempat Rani selesai berkata aku sudah memotongnya. ” Yaudah, kita cari tempat minum yang deket aja Ran. Nggak usah ketempat yang kamu maksudkan tadi. Nanti kamu malah sakit” Ucapku panik. “Tempat yang aku maksud itu udah yang paling deket Nte. Tau sendiri di daerah sini masih dalam perkembangan.” Aku mengangguk setelah melihat keseliling yang aku lihat hanya tempat gelap dan ruko-ruko yang sudah tutup. “Yaudah pelan-pelan aja. Biar nggak terlalu dingin Ran.” Pesanku. Sambil menggosok-nggosok tanganya. Mencoba memberi kehangatan yang kubisa.

“Sampai Nte!” Ucap Rani sebalik saja melihat papan nama D’milk yang meski sedikit sama-samar karena air hujan aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Tempat nongkrong yang sudah Ia jelaskan dari 2hari lalu. 

Percapakan 2hari yang lalu

” Nte, kalau ada waktu. Nanti aku bawa ketempat biasa aku nongkrong mau nggak?” Ucapnya yang waktu itu kita sedang santai dikamarnya. “Boleh. Enak tempatnya emang Ran?” Tanyaku teruja.  “Nggak nyesel pokoknya deh Nte.” Jawabnya lagi dengan kenyitan mata. Aku hanya menggeleng dengan tingkahnya yang aku rasa memang “kadang-kadang”.

Saat Ini

“Bener kata kamu Ran. Bagus tempatnya! Klasik banget” Ucapku sebaik saja masuk ke kafe itu. Aku kagum dengan dekorasi-dekorasinya. Simple tapi terlihat mewah. Cuma sayang sedikit gelap. “Ini kalau dikasih dekorasi dikit lagi dan ditambah dengan lampu-lampunya, pasti akan terlihat wow pasti Ran.” Aku berkomentar layaknya ahli dekorasi yang membuatkan Rani hanya senyum-senyum saja. Nggak nyangka pula kalau sudah ada seorang cowok disebelahku. Aku kaget. “Ayo Mama” latahku. Yang membuat cowok itu tersenyum kearahku. “Lihat-lihat saja dulu, mumpung sepi. Soalnya biasanya kalau rame jadi nggak bisa menikmati. Kalau mau photo juga boleh ko” Ucapnya ramah dan berlalu menemui pelanggan yang baru datang. Aku pula masih diam sembari memperhatikan dekorasi-dekorasi sekitar. Nggak nyangka yang dikampungku sekarang sudah maju. Apalagi mengingat impianku yang ingin membuka kafe sendiri hmmm tapi apakah mungkin. Gumamku.

Setelah puas muter-muter lihat ke sekeliling, akhirnya aku memilih ditempat duduk yang dekat jendela. Tapi tiba-tiba Rani memanggilku untuk duduk ditempat yang pas di depan kasir. “Lampunya lebih terang ” Itulah katanya. Aku hanya menurut lalu cepat memesan makanan dan minuman Karena waktu sudah hampir malam. Bukanya aku nggak betah si, cuma aku hanya khawatir yang Abang akan kerumahnya Rani untuk ngecheck keberadaanku. Kalau iya bener dia kesana aku nggak ada kan mampus. Bisa salah paham lagi aku sama dia dan Orang tua. Memang terdengar childish si ya, didalam usia yang terbilang bukan anak-anak lagi aku masih saja membuat orang rumah salah paham dengan tingkahku. Tapi aku juga tidak bisa menghilangkan langsung sifat bebasku. Yang ingin menikmati dan mencoba segala sesuatunya dengan biasa. Maafkan aku Pah, Mah, Bang 😦

Kira-kira 30menit sudah aku berada dikafe itu. Menikmati Wi-Fi yang cowok tadi kasih. Sekaligus Cappuccino dan piscok keju pastinya. Dan sekali-sekala mencoba makanan dan minuman yang Rani pesen yang entah apa namanya aku juga lupa. Tapi emang nggak dinafikan rasa makanan dan minumanya emang nggak kalah enaknya dengan kafe-kafe kota yang kadang aku jejaki. Dan aku cukup merasa puas untuk akhir liburanku kali ini.

Nggak lama aku lagi ngobrol dengan cowok tadi yang aku kenali namanya Ikbal, yang ternyata yang punya itu kafe. Mamahnya Rani BBM yang Abangku lagi OTW kerumahnya. “Mampus” katakuSempet juga melirik kearah Iqbal yang sedikit banyak membuatku kagum, karena diusianya yang terbilang muda sudah bisa mempunyai usaha sendiri. Aku lihat Iqbal memandang kearahku yang membuatkan aku salah  tingkah. Aku coba pura-pura sibuk mainan hape sambil berfikir solusi dari Chattan Mamahnya Rani tadi. Apalagi melihatkan cuaca diluar yang masih nggak memungkin aku dan Rani pulang sekarang. Lalu kuputar otaku lagi sebelum akhirnya aku memutuskan untuk meminta Mamahnya Rani bilang aja apa adany jika Abang sampai. Dan aku akan pulang 30menit lagi setelah hujan mendukung.  Kalau Abang nggak percaya ya sudah. Ucapku di akhir BBM.

“Malam Minggu kesinilah! Ada Milkustik disini. Kamu pasti suka.” Ucap Mas Iqbal membuka obrolan tidak lama setelah kami hanya diam. Rani pula selalu sibuk dengan handphonenya yang aku sendiri tidak tahu ada apa disana. Hingga membuatnya kadang senyum, tertawa. Kadang juga mengkerut alis matanya. Tapi aku biarkan saja… Toh aku juga pernah muda. “Pengin si. Tapi nggak bisa Mas. Saya harus sudah berangkat besok sore” Jawabku jujur. “Owh. Berangkat kemana?” Lama aku diam sebelum menjawab pertanyaanya. “Ke Jakarta.” Jawabku singkat. Ah, kenapalah aku nggak jujur aja. Hatiku marah dengan sikapku. “Owh… kerja Apa?” Tanyanya lagi yang membuatkan aku mati kutu. Emang kalau mau bisa saja aku memintanya diam dari bertanya-tanya terus. Atau kalau nggak pun mengganti topik dengan yang lainya. Tapi akal warasku juga masih di dalam kendali. Mana mungkin aku berani bertindak tidak sopan seperti itu dengan orang yang jelas-jelas punya kedai yang sedang aku duduki Fuhhh.. . Akhirnya mau tidak mau aku jawab juga pertanyaanya dengan bohong. Iya nggak ada niat untuk bohong si sebenarnya, tapi udah terlanjur bohong tadi mau gimana lagi hmmm… “PT”

Kini 30menit pun berlalu. Aku meminta Mas Iqbal membungkuskan aku 4buah susu dengan rasa yang berbeda. Karena itulah pesenan Abang dan Mamahnya Rani yang sedang menunggu dirumah. Tidak lama setelah itu bungkusanya pun datang bertukar tangan kepadaku. “Sudah mau pulang?” Tanya Mas Iqbal padaku. “Iyah.” Jawabku singkat. “Kenapa nggak nanti aja. Masih hujan lagi diluar.” Katanya lagi masih dengan nada yang sama. Ramah. “Nggak apa-apalah Mas. Hujan dikit ini, lagipun dah malam juga. Kasihan orang rumah pada nunggu.” Jawabku jujur dan langsung ketempat kasir. Seorang perempuan menyambutku dengan senyuman yang sangat manis sekali. “Siapanya Mas Iqbal ya?Manis!” Pujiku dalam hati. Setelah selesai membayar sempet juga aku melirik ke arah Mas iqbal yang sedang membuat pesenan untuk pelanggan. Dan teman yang satunya lagi yang aku nggak inget siapa namanya. Aku tersenyum dan pamit pulang.

“Kapan-kapan datang lagi yah!”   Ucap Mas Iqbal yang membuatkan aku hanya sekedar mengangguk. Bukan mau PHPin si, tapmpi emang bener  kalau aku ada libur lagi emang niatnya mau datang lagi ke kafe ini. Yang jelas aku akan mencoba setiap tempat tongkrongan dan kedai-kedai yang kata Rani banyak yang baru. Dan aku belum sempet menjejaki semuanya. Emang susahlah kalau ngomong sama Sang petualang, jiwanya nggak ada duanya. Ada aja sikap yang bikin orang lain Baper 😉

Ditempat parkir Rani mencoba melanjutkan obrolan yang aku potong dijalan tadi. “Nte!” Panggilnya seperti berbisik. Mungkin nggak ingin orang-orang yang ada di kafe itu denger. Apalagi mengingatkan yang jarak kita nggak jauh mana. “Hmmm” jawabku males. “Tadi diparkiran ada cowok ganteng nglihatin Tante mulu tahu.” Ucapnya dengan penuh Semangat. Aku pula sudah naik bingung. Dalam keadaan hujan pun Masih sempet-sempetnya saja dia memperhatikan hal seperti itu. A.B.G gumamku.

“Beneran Te. Dia ganteng banget. Tante nggak lihat apa?”
 Tanyanya dengan nada yang seperti tadi. Semangat gila. “Nggak. Mana Tante ada waktu buat hal begitu. Kamu itu ada-ada saja. Udah ah buruan pulang. Nanti Mamah kamu bising lagi.” Ucapku tegas.  Aku lihat Rani sudah pasang muka, tapi aku biarkan saja. Nanti juga baik sendiri. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang kadang mengingatkan aku saat masih remaja. Dan sedikit banyak menyadarkanku yang ego seorang remaja itu berbisa. Dia bisa selalu menyakiti tanpa sengaja.

Sesampainya dirumah aku lihat Abang sedang menonton tivi dengan khusunya. Mamahnya Rani pula sudah ngomel sedari kita sampai. Katanya kita nglayab kemanalah, belanja saja lamalah dan masih banyak yang lainya. Aku hanya diam dan langsung memberikan bungkusan susu tadi ke mereka. Tidak lupa pula aku membuka hapeku yang sedari tadi aku mood silent. Nggak nyangka pula begitu banyak pesan yang masuk. Tapi iya memang entah lah, setiap liburan aku menjadi berbeda. Main hape hanya sekali-sekala. Malah terkadang hapeku juga hanya aku letakan saja diatas meja. Akhirnya setelah membalas sebagian pesan sekedarnya, aku meletakan lagi hapeku diatas meja dan mulai ngobrol dengan Abang meski hanya untuk sekedar basa-basi. Dan Abang memang selalu tahu yang aku memang hanya menggunakan kata untuk melupakan semua. Ah, lagipun aku males merusui hati yang sedang tenang ini dengan salah paham yang nggak pernah ada kesudahanya. Toh sama saja. Ujung-ujungnya aku akan pulang kerumah dan membujuk orang rumah lagi seperti biasanya. Tapi iyah itulah kesempurnaanya, keluarga nggak pernah bisa marah lama sama aku. 

“Kamu nggak pulang?” Tanya Abang sebaik permainan bola di tivi menjadi iklan mie goreng. “Nggak. Kan aku dah bilang aku nginep malam ini” Jawabku tanpa rasa bersalah. Aku lihat Abang kembali khusu melihat kearah tivi setelah layar memaparkan permainan bola yang tadi. Entah apa yang sebenarnya Abang fikirkan pun aku nggak tahu. Tapi aku nggak mau ambil fikir. Alih-alih aku cuma Baper aja kan buang-buang tenaga yang ada. Aku diam lagi entah untuk keberapa kalinya.  Lalu mataku tertancap pada anak Abang yang lagi lahap-lahapnya menikmati snack malam itu. Mamahnya Rani pula sudah mendengkur sedari tadi sebaik saja menghabiskan susu yang kubelikan. Rani pula sudah ke kamarnya karena besok ada kelas pagi. Tiba-tiba aku merasa sayu melihat keadaan semua itu mengingatkan yang besok aku harus sudah berangkat. Kembali meninggalkan mereka orang-orang yang kusayangi. Agaknya Mamah, Papah lagi ngapain ya malam-malam gini. Sudah tidur dengan tivi yang masih menyalakah? Atau masih ngemil sambil nonton acara kesukaan mereka? Hmmm hangatnya kebersamaan, semoga akan ada lagi temu yang bisa ku ku kumandangkan 😟 

Jatibarang, 16 Des 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s