7hari menulis, aboutlove, Catatanku, cintadalamhati

Surat Cinta untuk “kekasih” 

Untukmu, yang telah membuat malamku hilang.

Hai kamu, apa kabar? Masih inget sama aku nggak? Si cewek basah kuyup he. he Itukan yang kamu lihat dariku malam itu. Iya kalau memang tidak inget, tidak apa ko. Lagipun aku hanya orang asing yang tidak sengaja mampir ke tempatmu. Anggap saja memang senyumanku malam itu adalah hadiah perkenalan kita. Yang kamu bilang itu, “Manis”.

Sebenarnya aku tidak tahu bagaimana untuk memulai semua kata yang ingin kusampaikan kepadamu. Kata yang selama ini aku simpan kemas dalam hatiku, tanpa sesiapapun orang yang tahu. Mungkin akan kedengaran lucu si jika kamu mengetahuinya. Tapi aku juga sudah tidak bisa untuk menahan semuanya lagi , itulah kenapa aku memutuskan untuk menulis surat ini demi menghindari malu. Iya meski mungkin tetep saja kamu nggak akan tahu kalau kamu nggak buka blogg aku ini. Setidaknya, ada kelegaan dihatiku untuk bernafas lebih bebas dari selalu. Lagipun waktu kita bertemu, aku hanya mampu menunduk dari bertembung mata denganmu. Jadi mana mungkin juga aku harus menunggu sampai pulang lalu mengatakan semuany kepadamu. Rasanya cuma menghabiskan waktu saja. Namun, jika seandainya benar mungkin kamu membuka bloggku lalu menemukan tulisan ini, aku harap kamu tahu, yang surat ini memang aku tuliskan hanya untukmu. Untukmu, yang telah membuat malamku hilang.

Jujur kukatakan. Setelah perpisahan malam itu, setiap hari kerjaanku hanya merindukanmu. Mencoba menerka cara pemikiranmu, membayang cara bicaramu, mengingat cara perlakuanmu saat bermain dengan ponakanmu. Semua, semua yang hanya tentangmu. Bahkan sejak pertama kali aku bertatapan denganmu malam itu, hatiku sudah mulai merasa ada yang berbeda, tapi aku tidak tahu itu apa. Semakin aku mencoba membuangnya, perasaan itu semakin saja membuatku ingin selalu merinduimu. Hatiku juga sepertinya sudah mulai memanggil indah namamu, yang senantiasa mengganggu waktu lelapku. Pikiran yang tidak kalah hebatnya, juga selalu saja dipenuhin pertanyaan-pertanyaan aneh sekarang-sekarang ini. Seperti, “Kamu masih single apa sudah punya pacar?” “Kamu lagi ngapain yah sekarang?” “Kamu bakal inget aku nggak nanti jika Tuhan mengijinkan kita bertemu lagi?”  Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan aneh yang lainya. Yang tidak pernah kamu habis pikir pastinya. Hingga terkadang aku tersenyum sendiri dengan tingkahku yang aku rasakan itu sangat konyol. Rasa ingin ketok kepala sendiri pun ada setiap punya pikiran yang ingin kembali pulang dan menemuimu. Atau paling tidak hanya untuk sekedar bertanya kabar denganmu. Bukankah itu gila namanya.

Maaflah, jika semua yang kuceritakan padamu tentang tingkahku sudah keterlaluan dimatamu. Tapi apa dayaku, jika mata kita memang pernah beradu pandang malam itu, dengan tatapan yang sulit untuk ditafsirkan oleh sang waktu. Lalu mencipta rindu yang aku sendiri tidak tahu bagaimana untuk menyampaikanya padamu.

Kini, berjalanya waktu. Perasaan itu rasanya semakin besar saja kepadamu. Apalagi setiap aku lagi on di BBM atau WA lalu melihat namamu terpampang disana. Rasanya ingin saja aku membuka contact namamu itu lalu menulis sebuah pesan disana. Pesan tentang perasaan yang sudah tidak bisa lagi aku sua. Tapi hati kecilku berteriak, “Jangan!” Menolak, tidak setuju dengan tindakanku. Yang akhirnya membuat aku kembali diam sambil memikirkan dirimu lagi. Tiba-tiba aku teringat akan kata-katamu dulu, kalau kamu ingin menikah di usia 30 tahun yang tidak lain itu akan datang setelah berakhirnya bulan di tahun ini. Setan pun menghasutku untuk berdoa, meminta jika semua itu jangan pernah sampai terjadi sebelum waktunya aku pulang nanti. Tapi aku cepat-cepat membuang pikiran jelek itu. Karena aku juga sadar, cinta itu mengasihi bukan menyakiti.

Ah, perasaan ini memang pelik. Selalu saja datang pada seseorang yang bahkan tidak mahu melihatku meski hanya sekali. Malah rasanya bahagia saja gitu dengan tingkahmu yang kadang aku juga tidak mengerti. Apakah lumrah cinta memang seperti ini, ataukah hanya aku yang terlalu mengikutkan kata hati.? Hmmm entahlah. Yang aku tahu, aku bahagia dengan rasa ini. Meski aku harus selalu menggadaikan setiap malamku dengan sebuah kerinduan untukmu.

Cinta, terima kasih untuk memory singkat yang kau beri ke padaku malam itu. Memory yang mungkin buatmu itu biasa, namun begitu luar biasa indahnya di ingatanku. Karena kamu telah menjadi yang pertama membuatku “mati” dalam suasana. Kau memberikan aku tatapan penuh makna di penghujung pertemuan kita. Dan yah, jika ingin kamu tahu, aku juga merasa apapun yang kamu rasakan malam itu.

Doaku; semoga keinginanmu untuk menikah di Tahun depan dimudahkan olehNya. Dilancarkan segala urusannya. Dan diberkati hidupnya. Hanya itu yang bisa kulakukan buatmu. Sebuah keikhlasan, dalam Doa untuk bahagiamu.

Dariku, seseorang yang  suka menatapmu dari jauh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s