Pena Berdialog

about love, aboutsister, aboutlove, ceritapilu, dairy

Adik, masalahmu. Itu juga masalah Yu.

Adik, Yu tahu apa yang kau rasakan saat ini. Bagaimana elom nya kamu untuk merelakan sesuatu yang dari jerih payahmu sendiri. Maafkan Yu karena sudah memarahimu Adik, Yu khilaf. Tapi yang harus Adik tahu, Yu marah juga punya alasan. Alasan untuk sebuah perubahanmu. Alasan agar kamu mau belajar dari semua masalahmu.

Bukan Yu tega padamu Adik. Tapi justru karena Yu sayanglah mangkanya Yu bersikap seperti itu. Sebab saat kau menceritakan masalahmu tadi pun Yu juga ikut sedih. Yu mendapatkan dampaknya juga dari sebuah kehilanganmu. Tiada lagi moment lebaran bersama keluarga. Tiada lagi kebersamaan yang bisa Yu lihat dilebaran Tahun ini. Tahu kah kamu Adik bagaimana takut dan sedihnya Yu memikirkan semua Itu? Betapa Yu juga bingung meski itu bukan masalah Yu.

Duhai Adik, mengertilah! Yu sayang sama Adik lebih dari apapun. Bahkan jika Adik minta nyawa Yu hari ini pun Yu ikhlas. Tapi Yu mohon Adik, maafkan Yu yang sudah membuatmu menangis dengan kata-kata Yu yang tak bertempat tadi. Jangan biarkan diammu membunuh semangat Yu. Sungguh… Yu tidak mau senyum indahmu pergi karena Yu. Yu ingin kamu selalu bahagia Adik. Ingin, selalu… 😢

family, inspirasi, SebuahTanggungjawab, tentangcinta

Tugas Seorang Kakak Yang Tak Terbelah Bahagi Nikmatnya

Mengenang panggilan kakak, aku selalunya memang Baper dan akan berfikir keras untuk itu. Sebab ada sesuatu yang tak bisa dinafikan adalah aku ini juga seorang kakak. Seorang kakak dari adik yang pendiem lagi bersifat lengus. Pokoknya nengok ke kiri mati Mak. Nengok ke kanan mati Bapa. Iya mungkin peribahasa itu adalah gambaran yang paling tepat untuk aku. Dikarenakan sifat, karakter dan pemikiran aku dan adikku yang sangat berlawanan. Tapi apapun itu aku sayang kepadanya lebih dari diri aku sendiri. Malah aku sanggup berbuat apapun untuk memastikan yang dia bisa hidup selesa dan bahagia. Iya biarpun aku juga mempunyai 2orang kakak yang hebat. Tapi untuk karakter aku yang suka mandiri ini memang susah bila na bermanja. Alih-alih malah menggurui iya 😂 Maafkan adikmu yang kadang-kadang ini lah ya Bang, Mba 😆

Terkadang memang susah mengikuti sifat adik yang pendiem lagi lengus, tapi lama kelamaan terbiasa juga. Jadi tahu gimana menjadi keteegantungan. Jadi bisa merasa diandalkan. Dan aku juga jadi ngerti bahwa menjadi kakak itu tidak mudah. Apalagi Menjadi orang tua ya itulah fikirku setiap mengingat tentang Adik. Bahwa apa yang menjadi tugasku (seorang kakak) itu tidak seberapa dibanding tugas menjadi Orang Tua. Ia dari situ aku juga berfikir. Bahwa;


Menjadi kakak berarti menjadi wadah yang bisa menampung seluruh tumpahan air matanya

…menjadi hati yang selalu memahami tanpa perlu diucapkan dengan kata-kata.

…menjadi telinga yang tak pernah bosan mendengar apapun cerita hidupnya.

…menjadi bahu yang paling nyaman untuk bersandar saat hidup terasa menyeramkan untuknya.

…menjadi sosok yang harus selalu terlihat kuat, selemah apapun kondisi dirinya saat dihadapanya.

…menjadi tangan yang selalu bisa diandalkan saat situasi apapun yang melandanya.

…menjadi seseorang yang mencipta inspirasi hingga ketika dia melihat kepadamu hati berujar “aku sudah besar ingin sebaik dia”.

dan menjadi apapun yang dibutuhkan sang adik… disaat ia sedang tertatih melawan dunia.


Ya,

kakak lah yang pertama kali menyemangatinya saat ia takut menyerahkan hasil ujian pada ibunda.

kakak lah yang selalu siap dengan ceria mengantar kemana saja.

kakak lah yang tak akan menolak membantu menyelesaikan masalahnya.

kakak lah yang rela tak tidur demi selesainya tugas sekola yang menumpuk untuk menemaninya.

kakak lah yang mengusap air mata saat tangis tak tertahankan lagi dari luapanya.

kakak lah yang merangkul erat sambil terus berkata “semuanya akan baik-baik saja”,

kakak lah yang tertawa bersama ketika masing-masing saling cerita pengalaman hidupnya.

kakak lah yang kebahagiaan adiknya adalah kebahagiaan dirinya.

Dan kakak yang selalu ada, dimanapun dan kapanpun ia membutuhkannya..

remaja, sharing

Fakta Yang Akan Kamu Temui Ketika Berusia 23tahun Ke Atas

Setelah menginjak usia ke 20an, kamu pasti sudah pernah ngalamin fase keremajaan. Dimana fase-fase itu kamu selalu mampu melakukan apapun tanpa rasa takut ataupun ragu. Kamu selalu bisa berinteraksi baik dengan orang lain juga bisa selalu membuat harimu lebih amazing. Seperti yang kita ketahui, dalam masa remaja memang segalanya terlihat lebih mudah dan indah. Tapi menjejaki usia 23 rasanya pasti ada yang beda. Mau nafikan? Coba deh teliti lagi tentang Faktanya. Siapa tahu saja ada sesuatu yang tersembunyi tanpa kamu sadari.
1. Tentang Sikap

Dulu saat kamu berusia belasan, kamu mungkin merasa semua begitu mudah dan bebas. Tidak punya uang tinggal minta orang tua. Tidak punya kendaraan tinggal numpang teman. Tidak sungkan kamu melakukan semua itu, bahkan malu sudah entah kemana perginya. Tanpa beban juga pikiran. Yang ada hanya main, kumpul bareng temen dan sekolah. Kalau ada yang lain pun paling masalah gebetan yang bikin kamu galau tiap hari ketika nembak ditolak aduh… Poyo memang.

Masalah yang lain pula pasti kamu berfikir “masih muda ini, ngapain dipikir pusing“. Yup, saat itu kamu memang muda kuat lagi bebas. Tapi jika sudah menginjak usia ke 23an keatas, jangan harap kamu bisa seperti itu lagi. Kalau pun Iya bisa, kamu pasti akan berfikir 3x bahkan 5x. Sebab kamu sudah mulai tahu apa tugas dan tanggung jawabmu. Dari yang “Yuk, Otw  jadi Yuk, lembur” Weleh-weleh… Rajin bener ya. Dulu bukan main lagi buang-buang duit tanpa mau tahu orang tua susah ataupun tak. 
2. Tentang Perasaan

Berbicara tentang sikap pasti juga menyangkut perasaan kan. Perasaan nurani atau mungkin juga naluri. Dari nafsu bahkan juga Fitrah manusia  (mencintai). Ups cinta, kaya tahu saja apa artinya ya ha.ha tenang! Kan sudah 23tahun keatas, jadi sedikit-sedikit tahu lah ya. Tahu rasa sakit, terluka dan kecewa. Itu maksudnya. Jangan Baperrr…. Ya lah, kita kan manusia yang mayoritasnya mempunyai hati. Entah hati baik atau sebaliknya. Tapi aku doakan si semog kita semua mempunyai hati yang baik ya Amiiin…

Dalam usia 23an keatas, biasanya kita akan lebih sensitive dengan kehidupan sekitar. Entah itu tentang keluarga, teman atau bahkan tetangga. Lebih peduli dan lebih mengambil berat. Dimana kamu mulai mengelola kritik dan saran yang kamu dapat dari mereka. Kamu tidak lagi cuek seperti dulu. Yang ada Baper lalu galau dan ujung-ujungnya curhat di sosmed “Aku Galau” Ha. Ha nggak lah ya itu cerita pengalaman gue sendiri dulu maksdunya 😆. Yang pasti kamu bisa memilah semuanya dengan baik. Bertindak pun tak semena- mena lagi. Lebih banyak menghabiskan waktu kepekerjaan untuk mencapai “mimpi” itu salah satunya.
3. Tentang Karir

Iya biarpun kita sudah merasa berubah dengan pandangan sekitar, tapi pasti adakalanya kita akan bertemu suasana dan sesuatu yang berbeda (lebih menantang) ketika memasuki dunia pekerjaan. Ada saja pokoknya yang akan kamu temui disana. Dari hal yang menyenangkan, menyedihkan bahkan juga menyebalkan. Tidak apa, itu memang sudah porsi ko. Jadi nggak usah kaget. Yang penting bisa menjaga hati (lembut), pikiran (rajin) dan sikap (menghargai) saja pada sesama rekan kerja juga boss. Nanti mereka juga bisa ko bersikap sebaliknya pada kamu.

Bukan waktunya lagi untuk kamu memukul saat ada teman kerja yang jahil, ataupun merungut saat boss marahin kamu juga yah. Tunjukan saja bahwa kamu itu memang bisa diandalkan dalam aspek apapun (asal masih dalam batas kewajaran). Dengan itu semuanya pasti akan baik-baik saja, percaya deh… 

4. Tentang Asmara

Mungkin dulu kamu memang sangat mudah berpindah kelain hati. Tidak ada kamusnya lah setia ya. Yang ada “Setiap Tikungan Ada” “Setidaknya tiga aja” Ngomong-ngomong itu hati apa gerobak nasi goreng ya wkwkwk… Iya seperti yang kita tahu, masa remaja itu memang masa-masa kebebasan. Bebas memilih dan bebas untuk berbuat. Puber katakan lah ya. Tapi itu tidak akan jadi masalah ko, sebab Apapun yang kamu lakukan kemarin dan esok ada timbal baliknya. Dan saat itu tiba, barulah kamu menyadari tentang kebenaranya. Tidak bisa tidak.

Kamu akan merasa menyesal, merindu dan mengenang. Dia/mereka yang pernah kamu kecewakan. Apalagi jika kamu menyadari, jika salah satu yang kamu sakitin/kecewain itu adalah orang yang sebenarnya paling kamu butuhkan. Tapi begitulah cerita. Selalu menyisakan kesan pada setiap kisahnya. Dan kamu hanya perlu mengerti lalu menerimanya dengan ikhlas. Iya dulu kamu memang bisa saja berfikir, “putus satu tumbuh seribu”. Tapi tidak ketika usiamu sudah menginjak 23an keatas. Kamu takan bisa berbicara seperti itu lagi. Bahkan untuk mengucapnya saja pun kamu sudah tak mampu. Sebab kamu menyadari, bahwa apa yang kamu rasa sekarang itu adalah “nikmat” yang pernah kamu kirim pada orang lain suatu masa dulu.

6. Tentang Jodoh

Dalam lingkungan orang yang menginjak 20an, kita pasti akan menemui banyak pertanyaan-pertanyaan yang memeningkan kepala. Salah satu diantaranya pasti seperti “kapan menikah?” Gluppp! Rasanya cuma bisa nelen ludah memang setiap pertanyaan maut itu datang. Kalau bisa malah pengin ngumpet aja bawaanya.

Tapi biar bagaimanapun kita memang tidak bisa nafikan, jika itu memang sudah kewajiban sebagai umat Muslim. Biarpun kadang pertanyaan itu tidak mengenal waktu dan tempat. Rasanya kita sendiri juga tidak bisa menyalahkan mereka yang mungkin memang peduli atau hanya kepo sekalipun. Meskipun terkadang telingamu juga jengah mendengarnya. Tapi kamu tiada pilihan lain selain menjawab pertanyaan itu atau bales saja dengan senyuman. Jangan kamu kemudian terburu-buru mencari calon karena Baper atau karena ingin membuat orang-orang disekitarmu diam saja sudah.

Hidupmu terlalu berharga untuk disia-siakan demi standar hidup yang diyakini orang lain. Kamu tidak perlu mengambil berbagai komitmen besar yang secara pribadi kamu rasa belum perlu untuk dilakukan. Hidup dan kebahagiaanmu ada di tanganmu sendiri. Jadi jangan biarkan orang lain menetapkan standar untukmu. Toh Tuhan menyiptakan hambanya itu sudah berpasang-pasangan, iya mungkin aja kan si jodoh masih pengin jalan-jalan dulu. Kalau sudah cape juga pasti balik ko kepada yang seharusnya. Keep positive!

5. Tentang Tanggung Jawab

Okey. Sekarang kita balik ke keluarga. Dimana mereka adalah orang-orang terpenting dalam hidupmu. Biasanya saat kita sudah menginjak usia 23an keatas, kita akan lebih cenderung memikirkan keluarga terutama orang tua. Karena kita tahu mereka sudah mulai tua dan tidak seharusnya terus-terusan bekerja. Nah disini nih peranan kita sebagai anak yang baik. Bukan saatnya lagi untuk meminta tapi memberi. Memberi sesuatu yang memang sepatutnya harus kamu beri pada orang tua. Dari waktu, tenaga juga materi.

Iya biasanya memang orang tua jarang sekali meminta bantuan atau bahkan bercerita tentang kesusahanya. Apalagi mereka tahu jika kita baru saja menginjaki dunia pekerjaan yang sebenar. Tapi sebagai anak pasti kita mengerti lah ya tanpa mereka harus berkoar-koar. Intinya si cobalah untuk mulai berfikir dewasa saja. Jadi kamu bisa memahami semuanya dengan sendiri. Jangan terlalu fokus pada kehidupan diluar, jika kehidupan dalamamanmu juga belum bisa kamu penuhi. Ok!

6. Tentang Pergaulan

Ehmmm rasanya memang tidak sempurna jika hidup hanya dijalani sendiri saja ya. Tidak ada kegilaan dan keunikan dari hidup. Biasanya si jika berbicara tentang kegilaan pasti berhubungan dengan sahabat/teman. Sahabat/teman yang melengkapi hari-harimu dengan segala cerita. Dan keunikan-keunikan yang akan kamu temui didalamnya. Seperti bertengkar saat ada masalah sepele terus baikan. Sampai berebut makanan yang akhirnya jatoh dan tak bisa dimakan. Hmmm seru kan yah… 

Tapi kamu juga harus tahu, bahwa mencari sahabat/teman itu lebih susah dari mencari musuh. Karena seperti yang kamu ketahui juga, tidak semua orang itu bisa dipercaya. Alang-alang mereka bisa menusukmu dari belakang. Yang akhirnya meninggalkan bekas luka yang tak sedikit dihatimu. Iya nggak usah sahabat/temanlah, saudara yang ada hubungan darah pun juga pasti ada yang berbuat seperti itu. Apalagi sahabat/teman yang hanya orang luar ya. Tapi kamu juga tidak usah khawatir, karena tidak semua orang didunia ini itu jahat. Ada juga orang yang baik. Seperti gue gitu misalnya cieilahhh muji sendiri ha.ha becanda lah ya…

Dulu saat usia kamu belasan, memang bisa saja kamu temui teman dan sahabat dimanapun. Tanpa tahu dia itu bagaimana dan tanpa ngerti dia sudah membuatmu bagaimana. Karena yang terpenting kamu have fun. Tapi tidak jika usia kamu sudah 23an keatas. Kamu akan lebih kepada memilih dan memilah. Memilih yang menurutmu itu baik dan memilah yang seharusnya bisa menuntunmu bukan menjerumuskanmu. Yang mampu bergotong royong bukan hanya pengin digotong. Mungkin kamu berfikir, “pengin punya temen ko pilah-pilih”. Iyah, memang tidak seharusnya kita seperti itu. Tapi jika kamu flashback lagi, pasti kamu akan menyadari. Bahwa semua itu benar adanya. Dari sekarang kamu lebih mampu mengatur waktu untuk olahraga, dari pada nemenin temen nongkrong nggak jelas lagi setiap malam. Dari kamu dulu sering ngafe bareng sambil cuci mata, sekarang sering datang ke seminar-seminar yang bisa merubah pandanganmu. Tapi jangan terlalu pemilih juga ya, karena nggak baik buat kantong dan kesehatan. Especially ketika mereka lagi meraikan hari jadi kan lumayan dapet makan gratis haha matre… Nggak lah, itu mah sekedar tambahan. Jangan dibikin serius ya. Lagipun ada juga sahabat yang lebih ngerti kita dari keluarga kita sendiri. Ada juga teman yang mau sharing biarpun baru mengenal kita. Memang tidak banyak, tapi itu pasti ada ko.

Hidup itu memang pilihan, tapi jika kamu tidak bisa bertanggung jawab dengan pilihanmu itu juga tiada guna. Yang ada waktumu habis untuk mengeluh. So dari pada kamu duduk ngadepin hape yang layarnya cuma ada status temen dan ngintip tetangga yang sukses  juga stalking mantan. Mending kita cari inspirasi untuk menjadi lebih baik. Sebab waktu itu terus berjalan dan usiamu juga semakin bertambah dalam hitungan hari. Jangan persiakan waktumu untuk hal yang sia-sia. Mari melangkah dan memulai semuanya dari sekarang. Tidak ada kata terlambat ko, yang ada hanya mereka tidak mau berusaha. Iaitu M.A.L.E.S

aboutfuture, aboutlove

Aku Yang Lemah

Maafkan aku

Jika sudah membuatmu luka. Perubahan sikap ini memang begitu saja. Tanpa dipinta ataupun diyama.  

Maafkan aku
Untuk semua apapun yang pernah terlukis ataupun yang telah terlampaui. 

Maafkan aku
Bila tak ada kata selain merela untuk tak lagi  seperti dulu. 

Maafkan aku
Untuk segala ketidak mampuan yang tak pernah bisa ku tepis lagi ku lawan. Segala prasangka yang tak pernah hilang dari sebuah nurani. 

Kutahu tak seharusnya aku begini. Setelah memberimu kenang sebagai alasan untuk merindui. Aku telah kalah dengan perasaanku sendiri yang sudah membuatmu luka untuk yang kesekian kali. Maafkan aku…

tentang sendiri, tentang sepi, tentangrindu

Potret Kisah 

Aku masih disini dengan rindu yang terbuku. Dengan perasaan-perasaan yang mulai menghunus nadiku. Yang kapan saja bisa membunuh hatiku.

Aku mulai merasai tentang kehilangan yang belum sempat kurengkuh. Tentang kebersamaan yang sudah tak bisa kupeluk. Lagi yang seharusnya kubagi hangatnya. 

Tiba-tiba saja sunyi menyapaku. Mengenalkanku pada hampa yang tidak berkesudahan. Sedangkan aku Paling “lugu” dengan segala hal, dan kini pun aku telah termakan. 

“Harus beginikah kesudahanya?” “Mungkin memang inilah akhirnya.” Tanyaku pada semesta selalunya.